ILUSTRASI. Ada kondisi pasien yang melaporkan gejala mirip penyakit jantung selama pandemi Covid-19. Kondisi ini diberi nama kardiomiopati dan naik 5 kali lipat. (NDTV)


Virus Korona tak hanya menyerang organ pernapasan. Penelitian lain membuktikan virus Korona bisa menyerang organ lainnya termasuk jantung. Namun bukan hanya virusnya saja, tapi stres karena pandemi baik itu bidang kesehatan maupun ekonomi, bisa mengganggu kesehatan jantung.

WebMD melaporkan bahwa dokter di satu rumah sakit Ohio, Kanada, telah menemukan kemungkinan konsekuensi lain dari pandemi Coronavirus. Ada kondisi pasien yang melaporkan gejala mirip penyakit jantung. Kondisi ini diberi nama kardiomiopati.

Kardiomiopati adalah kelainan otot jantung atau agak mirip dengan serangan jantung. Gejalanya seperti nyeri dada dan sesak napas.

Dilansir dari Science Times, Jumat (10/7), menurut penelitian terbaru, kasus kardiomiopati didiagnosis pada hampir 8 persen pasien pada Maret dan April. Mereka tiba di ruang gawat darurat dengan keluhan nyeri dada dan gejala jantung lainnya.

Angka itu 4 hingga 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang terlihat sebelum pandemi terjadi. Peneliti dan ahli jantung Dr. Ankur Kalra, mengatakan kondisi ini adalah diagnosis yang relatif baru.

Dokter masih berusaha memahami kondisi sepenuhnya. Ia mendapat pasien dengan kasus ini setelah peristiwa yang menimbulkan tekanan emosional, seperti perceraian, kematian, atau bahkan stres karena pandemi.

Kalra juga mengatakan bahwa situasi stres lainnya dari kecelakaan lalu lintas hingga operasi juga dapat memicu kardiomiopati. Kalra mendesak orang untuk mengelola stres dengan berolahraga teratur atau menggunakan meditasi untuk menenangkan pikiran.

Di sisi lain, seorang profesor kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Dr. David Kass, mengatakan bahwa kondisi itu mungkin tidak langsung muncul. Misalnya, seseorang dapat mengalami kardiomiopati setelah bisa selamat dari gempa bumi.

“Kondisi kardiomiopati diperkirakan terjadi ketika otot jantung kewalahan oleh membanjirnya hormon stres katekolamin,” kata Kass.

Sehingga mengurangi kemampuan memompa jantung. Apalagi kondisinya cukup berbeda dari serangan jantung. Kass menjelaskan bahwa tidak ada penyumbatan di arteri dengan sindrom ini. Dan otot-otot jantung tidak mati walaupun mungkin melemah untuk sementara waktu.

Namun, gejalanya mirip serangan jantung. Kass mengatakan bahwa tekanan pandemi bisa meningkatkan seseorang terserang kondisi tersebut. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open pada 9 Juli.

1 2

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc

You Might Also Like