Ilustrasi hewan unta, sapi dan sepeda. (Grafis: Fa Vidhi/Ngopibareng.id)


PROKALTENG.CO - Seorang teman, sebut saja namanya Rendy, sebelumnya sibuk bisnis umrah dan haji. Kini, dia harus menyesuaikan diri. Kapan umrah dibuka, masih menanti pasti.

Haji tahun ini sudah dibuka. Walau terbatas hanya mereka yang sudah tinggal di Saudi Arabia. Setidaknya, arah bisnis umrah sedikit ada cahaya terang, walau tak jelas kapan.

Tapi Rendy tetap butuh berusaha. Memang, uang tak dibawa mati. Tapi kalau tidak ada uang, bisa setengah mati.

Dulu, umrahnya dibalut dengan wisata. Bisa mampir ke Mesir, Jordan, atau Palestina. Ya, agar jamaah bisa merasakan naik unta.

Kini, dia banting setir. Dari jualan unta, sekarang berganti sapi. Maklum, mendekati hari raya Idul Adha di akhir Juli ini, bisnis ternak kurban bisa jadi sampingan.

Rendy pun kembali menekuni bisnis lamanya. Jadi importir. Melihat animo orang berolahraga dan bersepeda, dia pun sudah berencana mengimpor sepeda dari China.

Harga bersaing, dan merk juga terhitung keren. Sudah mulai dijual pre order di media sosialnya. Anak muda yang satu ini, memang seng ada lawan.

Selalu liat bekerja serta trenginas mencari uang. Sayang, belum punya pacar. Entah, apakah anak muda kaya raya itu, selalu susah meletakkan hati.

Itu cerita Rendy. Namun, ada cerita lain dari teman yang sama berbisnis umrah. Dia, kini, pulang ke Bandung. Hanya menanti, sambil berhitung kapan kran umrah dibuka lagi.

Kesibukannya tiap pagi ke pasar. Berbelanja kebutuhan sehari-hari. "Sama jual aset buat menyambung hidup," ungkap lulusan Gontor ini sambil tertawa.

Saat mendengar nada tawanya itu, saya gembira. Saya yakin, asetnya masih banyak. Sehingga dia belum terpikir untuk bikin usaha sampingan.

Yang pasti, pertempuran panjang dengan Covid-19 tampaknya masih akan terjadi. Hasilnya masih berupa ketidakpastian. Karena sebelum adanya vaksin, semua kemungkinan masih terjadi.

Johns Hopkins University of Medicine, melalui situsnya: coronavirus.jhu.edu melansir data terbaru. Tercatat, pada Minggu, 28 Juni 2020, pukul 17.24 WIB, pasien konfirmasi positif corona di dunia mencapai 10.001.527 kasus. Sementara, angka kesembuhan mencapai 5.065.869 orang.

Amerika Serikat memuncaki peringkat kasus positif, totalnya 2.510.323 orang. Brasil menyusul diperingkat kedua dengan 1.313.667 orang. Lantas, ada Rusia diperingkat tiga sebanyak 633.542 kasus.

Melihat deretan angka itu, tiap negara sudah selayaknya berjibaku. Bekerja keras. Untuk memastikan bagaimana ekonomi tetap terselamatkan, dan kurva penderita Covid 19 tidak menaik. Pusing? Tentu saja.

Yang dibutuhkan tentu saja kebijakan yang luar biasa dari semua pemimpin negara. Juga para pembantunya. Mau itu kebijakan yang out of box atau without box.

Tak heran Presiden Joko Widodo makin bersuara lantang kepada para menterinya. Dalam rapat kabinet pada 18 Juni lalu, agar mereka bekerja lebih keras. "Sekali lagi, ini tolong betul-betul dirasakan semuanya," tegas mantan Walikota Solo ini

Bahkan, dengan tutur gemetar dengan bahasa tubuh memendam kemarahan, pilihan opsi perombakan kabinet akan diambil. "Udah kepikiran kemana-mana saya," tambah mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Tentu saja, di sisi lain, grafik penderita Covid-19 di beberapa propinsi naik. Bisa jadi, karena ada relaksasi PSBB. Pergerakan masyarakat dan aktifitas naik. Namun warga masyarakat tidak ketat melaksanakan protokol kesehatan.

Grafik pasien yang naik itu sempat pula membuat saya pusing. Saya Akhirnya Memilih mengikuti tes PCR (polymerase chain reaction). Di sebuah rumah sakit swasta di Kota Bogor. Untuk memastikan saya reaktif atau negatif Covid-19.

Ceritanya begini. Pemkot Bogor mengumumkan ada potensi cluster baru. Tepatnya di toko Mitra 10, Jalan Soleh Iskandar Kota Bogor. Ditemukan tiga karyawannya yang positif Covid-19.

Padahal, seminggu sebelum pengumuman itu, saya dan istri belanja ke sana. Itu pun, belanja ke dua. Sepuluh hari sebelumnya, saya dan istri juga belanja ke sana.

Saat belanja, tentu protokol Covid-19 sudah kami terapkan. Pakai masker wajah. Lantas menjaga jarak. Juga cuci tangan sebelum masuk dan setelah mau keluar toko.

Bahkan, sampai rumah, kami langsung mandi dan berganti pakaian baru. Karena begitu, sosialisasi dari pemerintah. Jadi, kami mengikuti saja.

Walau semua aturan sudah dilakukan, tentu, kami tetap was-was. Apakah kemungkinan tertular atau tidak. Memang, kami tidak merasakan simptom pendemi ini.

Sambil berpikir, kami mencoba mencari beragam informasi tambahan. Sempat kepikiran, untuk vaksin polio saja. Sebab, ada liputan di CNN, yang mengabarkan vaksin polio termasuk jadi alternatif.

Selain vaksin sudah terbukti, banyak yang menyediakan, juga harganya murah. Vaksin polio terbukti mampu memperkuat imun, termasuk memperkuat kekebalan dalam melawan beragam virus influenza. Dalam liputan itu dikutip pendapat beberapa pakar.

Namun, pilihan itu urung juga kami ambil. Istri memilih untuk melakukan test saja. Untuk memastikan apakah kita terpapar atau tidak. "Ayo tes PCR saja kita," ungkap istri cemas.

Akhirnya, saya pun mencari rumah sakit yang ada fasilitas PCR. Awalnya mau ke RSUD Kota Bogor. Tapi, pilihan ini kami kesampingkan.

Pokok soal, ada seorang teman yang dokter tak merekomendasikannya. "RSUD itu, pusat penangganan. Pasti banyak pasien. Salah-salah, bisa tertular," sarannya panjang lebar.

Tentu, kami mengikuti saran dari ahlinya. Ada beberapa rumah sakit swasta yang menawarkan test itu. Baik yang model drive thru atau masuk ke lab rumah sakitnya.

Memang, pemberitaan itu, membuat kami harus berjaga jarak dengan anak-anak. Tak berani memeluk atau menciumi mereka. Bikin cemas saja.

Akhirnya kami memilih test di lab saja. Siang hari setelah muncul pemberitaan itu, malamnya kami bergegas ke rumah sakit. Rencananya, saya dan istri saja yang test.

Kalau nanti hasilnya reaktif, baru kami akan mengetes anggota keluarga lainnya. Baik kedua buah hati kami, juga para asisten di rumah. Setidaknya, kita harus bikin sample pertama saja.

Malam itu, rumah sakit terlihat ramai. Sebelum masuk, juga di tes temperatur. Cuci tangan. Tetap jaga jarak.

"Biayanya Rp550 ribu," jawab petugas pendaftaran. Setelah selesai urusan pendaftaran dan pembayaran, kami bergeser ke laboratorium. Memang, tes PCR ini pemeriksaan laboratorium guna mendeteksi material generik dari sel, bakteri, dan virus.

Saat membuka pintu lab, seorang petugasnya sudah tampak berjaga. Pakai APD lengkap. Lantas, dengan sigap mengambil sample darah di lengan kanan. Prosesnya cepat. Tak lebih dari lima menit.

"Hasilnya satu jam lagi," terangnya. Namun, mereka juga menawarkan bisa mengirimkan hasilnya, bila malas menunggu. "Kami kirim lewat email," sambungnya.

Kami pun segera pulang. Melanjutkan aktifitas seperti biasa. Namun, istri yang tetap panik. Berulang kali mengecek email, memastikan apakah sudah ada kiriman email dari rumah sakit.

Tak berapa lama, yang dinanti pun tiba. "Sudah masuk ini emailnya," seru istri, saat saya sedang membaca buku.

"Bagaimana hasilnya?" tanya saya.

"Alhamdulillah, negatif," jawabnya.

Anak-anak yang mendengar ucapan ibunya, berteriak riang. Lantas mengambur ke arah kami. Minta dipeluk dan dicium.

Memang urusan tes-tes ini selalu banyak ragam. Banyak cerita. Seorang teman, juga berbagi pengalamannya, saat menyemput anaknya di Malang, Jawa Timur.

Sebelum berangkat ke Malang, bersama istrinya dia test PCR di Cibubur, Jakarta. "Biayanya Rp450 ribu," ungkapnya. Hasilnya negatif.

Tenang hatinya. Surat itu dibawanya dalam perjalanan ke Malang. Mereka memilih jalan darat. Membawa mobil, sekalian bertamasya.

Namun, saat sampai Malang, lain ceritanya. Petugas ternyata tidak begitu saja mempercayai surat keterangan dari rumah sakit di Cibubur itu. Dia dan istri, diminta untuk test PCR lagi.

Alhasil, dia harus merogoh koceknya lebih dalam lagi. "Di Malang, kena Rp1 juta buat test PCR," terangnya sambil tertawa. Mau bagaimana lagi, karena permintaan petugas, akhirnya harus dituruti.

Urusan melakukan test PCR ini, memang jadi sarana paling penting untuk bertarung melawan Covid 19. Mantranya ada tiga: trace, test, treat. Bila ketemu yang positif dilacak, dites, diobati.

Tapi sekali lagi, ini membutuhkan biaya yang mahal. Seperti pengalaman saya, untuk tes seorang harus bayar Rp550 ribu. Kalikan dengan jumlah 267 juta jiwa warga Indonesia, kalau pemerintah mau melakukan tes masal. Memang ada beberapa metodologi agar murah, dengan sample misalnya.

Oh ya, hampir lupa, bagaimana jumlah kasus corona di Indonesia? Sebagaimana dilansir BNPB, jumlah kasus positif pada hari Minggu, 28 Juni 2020, mencapai 54.010. Jumlah pasien yang sembuh sebanyak 22.936. Sedangkan pasien meninggal dunia, tercatat 2.754 orang.

Ada laporan juga beberapa propinsi yang grafiknya meninggi. Memang, keterbukaan data atas penangganan Covid-19 juga penting. Sebagai sarana pengingat kita, wabah ini masih terus bersama.

Namun, alangkah pentingnya juga, kalau ada laporan rutin dari para menteri. Semisal, kegiatan tindak lanjut dan status program penangganan pendemi ini. Baik urusan penyelamatan nyawa juga inisiatif penyelamatan ekonomi yang terstruktur dan masif.

Kalau pendekatannya masih biasa-biasa saja, mohon maaf, harap diingat pesan Pak Presiden, harus siap direshuffle sepertinya.

(penulis adalah kolomnis “Ujar Ajar" di ngopibareng.id)

Editor : nto
Reporter : ngopibareng/kpc