Ilustrasi. (foto: net)


GANGGUAN pada jantung cukup banyak diderita masyarakat dewasa Indonesia. Bahkan, angka kematian yang disebabkan penyakit ini cukup tinggi. Perlu dilakukan pelayanan rehabilitasi medik untuk mengatasinya. Salah satunya melalui pelayanan fisioterapi.

Penyakit jantung adalah suatu kondisi dimana jantung mengalami gangguan dalam menjalankan fungsinya. Adapun gangguan jantung terdiri dari penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, infeksi jantung atau endokarditis, gagal jantung dan aritmia. Gejala atau keluhan yang diderita berbeda-beda, sesuai dengan gangguan jantung yang dialami oleh pasien.

Pada penyakit jantung koroner biasanya ada rasa nyeri di bagian dada. Nyeri ini juga terjadi pada lengan kiri hingga rahang kiri dan dapat disertai sesak nafas. Pada penyakit jantung bawaan, tampak biru saat menangis atau menyusui, adanya bengkak di sekitar mata dan tungkai. Penyakit jantung bawaan ini juga membuat berat badan penderitanya sulit bertambah. Adanya infeksi jantung, adanya demam, denyut jantung tidak teratur, sesak nafas, batuk, bengkak di sekitar perut dan tungkai. Gagal jantung, sesak nafas yang makin berat saat aktivitas. Aritmia, jantung berdebar, rasa tidak nyaman, sesak hingga pingsan. Mengatasi gangguan tersebut, perlu dilakukan pelayanan rehabilitasi medik untuk mencapai kemampuan fungsi jantung yang optimal.

Pelayanan rehabilitasi medik adalah pelayanan kesehatan terhadap gangguan fisik dan fungsi yang diakibatkan oleh keadaan atau kondisi sakit, penyakit atau cidera melalui panduan intervensi medik dan keterapian fisik atau rehabilitasi untuk mencapai kemampuan fungsi yang optimal. Fisioterapis turut berperan dalam memberikan pelayanan rehabilitas medik ini.

Fisioterapi menjadi salah satu pelayanan rehabilitasi medik yang dapat dilakukan. Fisioterapi adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan, pelatihan fungsi, dan komunikasi

Fisioterapis di RSUD Dr. Soedarso, Agustinus Hendro Ellyantoro, S.Si, FT mengatakan tujuan dan manfaat pelayanan fisioterapi pada gangguan jantung ini secara umum meningkatkan toleransi aktivitas dan kemandirian pasien dalam pemenuhan kebutuhan diri. Sedangkan, secara spesifik meningkatkan fungsi jantung dan menurunkan beban kerja jantung.

“Serta, menghasilkan proses metabolik dan mengurangi kecemasan,” katanya, seperti dilansir pontianakpost.co.id (Jawa Pos Group).

Hendro menuturkan ada beberapa pelayanan fisioterapi yang diberikan untuk mengatasi kasus gangguan pada jantung, yakni program latihan fisik atau aktif dan latihan aktivitas fungsional sesuai protokol dan toleransi aktivitas pasien gangguan jantung tersebut. Bentuk latihannya sendiri dapat berupa latihan aktif di bed, mobilisaisi bertahan, ambilasi hingga aktivitas rekreasi.

Pelayanan fisioterapi gangguan jantung dibagi dalam tiga fase. Fase I (fase rawat inap) terjadi di rumah sakit setelah status kardiovaskuler pasien setelah bypass koroner stabil, berlangsung selama 3 sampai 5 hari. Fase II (fase rawat jalan) dimulai setelah keluar dari rumah sakit, atau bergantung pada keparahan diagnosis. Fase II berlangsung selama 6 hingga 8 minggu.

Sedangkan, fase III (program rawat jalan) untuk melanjutkan peningkatan atau mempertahankan tingkat kebugaran dan aktivitas rekreasional. Hendro menambahkan gerakan latihan yang dapat dilakukan seperti latihan pernafasan, latihan aktif lengan atau tungkai, latihan ke duduk, berdiri atau berjalan dan lebih lanjut latihan sepeda, jogging atau berenang.

“Dampak buruk jika tidak diberikan pelayanan fisioterapi, tentu saja proses rehabilitasi jantung atau pemulihan tidak akan tercapai, baik dalam upaya meningkatkan kemandirian aktivitas maupun perbaikan fungsi jantung,” tutup Hendro.

1 2

Editor : nto
Reporter : Ghea Lidyaza Safitri/JPG/KPC

You Might Also Like