Aktivitas jual beli pasar dadakan yang dibuka di Kompleks Perumahan Bumi Palangka II, kemarin malam (15/4). (DENAR/KALTENG POS)


Surat edaran orang nomor satu di Palangka Raya belum ditaati sepenuhnya oleh pelaku usaha. Diam-diam melanggar. Mungkinkan pihak terkait kecolongan? Atau sengaja melakukan pembiaran?

 

AINUR ROFIQ- PATHUR RAHMAN, Palangka Raya

 

MENJELANG azan Magrib, para pencari nafkah sudah menata lapak dagangannya. Beraneka ragam bentuk. Kemarin malam (15/4), pasar dadakan di Kompleks Perumahan Bumi Palangka II kembali dibuka. Selepas magrib, para pembeli sudah merapat ke lapak-lapak yang sudah tertata itu. Tawar-menawar barang terjadi di sana, meski suasananya memang tak seramai sebelum status tanggap darurat Covid-19 ditetapkan.

Mereka nekat buka lapak. Menurut para pedagang, sepengetahuan mereka bahwa surat edaran wali kota Palangka Raya berlaku 24 Maret hingga 4 April. Tak heran ketika petugas berpatroli ke lokasi itu beberapa waktu lalu, para pedagang berani menunjukkan surat edaran yang menurut mereka sudah kedaluwarsa masa berlakunya itu.

“Ketika masa berlaku surat itu telah lewat, kami membuka dagangan lagi,” ujar salah satu pedagang telur, Sukarti, kepada Kalteng Pos, tadi malam.

Meski tetap dibuka, aktivitas pasar dadakan ini terus dipantau oleh petugas. Ancaman pembubaran dirasakan mereka yang membuka lapas di situ. ”Tapi kami mau makan apa kalau gini terus,” cetus Sukarti.

Ia mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal menurutnya, pedagang seperti dirinyalah yang mesti diprioritaskan oleh pemerintah dalam hal pemberian bantuan sosial.

“Sampai saat ini kami tidak dapat sama sekali bantuan itu," katanya.

Para pedagang kompak membuka lapak secara diam-diam. Mereka pun sadar aktivitas diawasi petugas. “Cuma karena kami kompak, maka buka secara bersama. Karena kalau tidak berjualan, mau dapat penghasilan dari mana mas," ucap Sukarti.

Hal senada disampaikan oleh Iwan. Pedagang mi ayam keliling ini mengaku, saat ini dirinya belum menerima satu pun bantuan dari pemerintah. Bahkan, lanjutnya, tak ada pendataan oleh ketua RT terkait hal ini.

"Belum dapat (bantuan, red). Saya juga belum tahu adanya informasi akan menerima bantuan. Cuma dengar dari mulut ke mulut saja," imbuhnya.

Meski tak ada petugas dari Satgas Gugus Tugas Covid-19 Kota Palangka Raya dan kepolisian, sekitar pukul 19.20 WIB, para pedagang itu akhirnya menutup lapak dagangan dengan kesadaran. Pukul 19.50 WIB, tidak ada lagi lapak berdiri.

 

Sementara itu, dalam Surat Edaran Wali Kota Palangka Raya Nomor: 5.18/210/PKUKMP/2020 tentang Operasional Pelaku Usaha di Wilayah Palangka Raya dalam Upaya Penanganan Penularan Covid-19, dicantumkan beberapa poin penting yang ditujukan kepada pelaku usaha perhotelan, pengelola pusat perbelanjaan, pelaku usaha kuliner, pasar modern, toko modern, dan sejenisnya.

Pada poin keempat tertulis, kepada pelaku usaha kuliner (pusat kuliner, rumah makan, warung kopi atau kafe, dan sejenisnya, wajib untuk hanya melayani pembelian secara dibungkus atau dibawa pulang. Tidak melayani konsumen dengan makan di tempat. Tidak menyediakan meja dan kursi bagi konsumen di lokasi tempat usaha.

Akan tetapi, sepertinya imbauan ini tak sepenuhnya dijalankan oleh para pelaku usaha kuliner. Berdasarkan pantauan Kalteng Pos di pusat kuliner Jalan Yos Sudarso ujung, masih berjejer kursi dan meja. Bahkan masih ada pelaku usah yang melayani konsumen untuk makan di tempat. Begitu juga di tempat kuliner Jalan Rinjani. Masih melayani konsumen yang makan di tempat. 

 

Menanggapi adanya pasar dadakan yang beroperasi di Kompleks Perumahan Bumi Palangka II, Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Palangka Raya, Emi Apriyani mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polresta Palanga Raya dan Kadis Perkopukm dan Perindustrian Kota Palangka Raya terkait hal ini.

Menurutnya, pasar dadakan seharusnya belum dibolehkan untuk dibuka. Apalagi pandemi Covid-19 di Palangka Raya masih terus mengancam. Teranyar, ada empat warga Kota Cantik yang dinyatakan positif Covid-19.

Perihal penindakan atas dibukanya pasar dadakan ini, tutur Emi, pihaknya tak mau gegabah. Koordinasi akan dilakukan terlebih dahulu dengan instansi teknis lainnya.

"Sebenarnya kami melarang pasar dadakan dibuka. Hal ini demi mencegah terjadinya penularan lokal Covid-19 di Kota Cantik. Sebab, kasus transmisi lokal virus ini sudah terjadi di kota lain," ucapnya saat diwawancarai Kalteng Pos per telepon, Rabu (15/4).

Emi berharap masyarakat, khususnya para pedagang, agar lebih bersabar dan menahan diri untuk membuka lapak pasar dadakan maupun pasar malam, karena aktivitas itu bersifat mengumpulkan massa. Dengan demikian, para pedagang selaku salah satu elemen masyarakat secara tak langsung telah membantu pemerintah dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kalteng ini. 

1 2

Editor :dar
Reporter : ram

You Might Also Like