Sembilan orang saksi dihadirkan dalam persidangan kasus penyalahgunaan C6, di PN Palangka Raya, kemarin. (DENAR/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA -  Mustafa Tarigan, Andreau Philia dan Kurniawati Sundari, tiga terdakwa yang menggunakan C6 orang lain saat pemilihan wali kota 27 Juni lalu akhirnya menjalani persidangan. Namun mereka harus menjalani empat agenda persidangan sekaligus. Yakni mendengarkan dakwaan, saksi, keterangan terdakwa dan tuntutan. Para terdakwa yang berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Palangka Raya itu, akhirnya dituntut 2 tahun penjara serta membayar denda Rp 24 juta subsidair dua bulan kurungan.

Sidang kasus penyalahgunaan C6 itu berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya, Rabu (1/8). Diduga karena banyaknya pengunjung yang menyaksikan langsung di ruang sidang, hingga membuat tiga terdakwa terlihat sedikit tegang.

Setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erwan membacakan dakwaannya, sidang pun dilanjutkan dengan pemeriksaan 9 orang saksi. Yakni saksi Hardiono selaku pelapor terkait pelanggaran C6,Yunai Widiana (petugas KPPS 05), Desi, Valentino--ketua RT setempat, terdakwa A yang masih di bawah umur dan lainnya.

Para terdakwa memberi keterangan di depan ketua majelis hakim Zulkifli dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erwan dan Penasehat Hukum (PH) Parlin, Beni.

Kurniawati menjelaskan, awalnya ia bersama teman-temannya tersebut sedang mengadakan acara di rumah makan. Lagi asyik berbicara, tiba-tiba Feri (DPO) mendatanginya sambil berkata 'Kenapa tidak mencoblos',dan dijawab Mustafa Tarigan, karena tidak mempunyai KTP.  "Kata Feri tahun 2018 bisa saja mencoblos walaupun bukan KTP sini. Di situlah kami diajak mencoblos dan langsung menaiki mobil," kata wanita yang menggunakan nama Maimuna Saro saat pencoblosan.

Ketika ditanya ketua majelis dapat imbalan apa menggunakan C6 orang lain. Ia menegaskan tidak mendapatkan apa-apa, bahkan tidak dijanjikan imbalan apa pun. "Tidak pernah dapat uang atau barang apapun dari Feri. Memang saya pernah ketemu Feri di suatu perkumpulan organisasi," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Mustafa dan Andreau yang juga menegaskan tidak mendapatkan apa-apa usai mencoblos.

"Tidak dapat upah apapun dari Feri. Bahkan saya juga kaget dalam perjalanan dikasi C6 itu oleh sang sopir dan diturunkan di TPS 04," ujarnya.

Dengan mendengarkan beberapa saksi dan keterangan terdakwa, jaksa Erwan pun menuntut ketiganya dengan hukuman dua tahun penjara serta membayar denda Rp 24 juta subsidair dua bulan kurungan.

"Hukuman tersebut sudah paling minimal, sesuai pasal 178 A UU RI Nomor 10 Tahun 2016 tentang pemilihan gubernur, bupati dan wali kota, Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. Yang mana mereka terbukti mengaku dirinya orang lain untuk menggunakan hak pilih," ujar Erwan.

Atas tuntutan tersebut, ketiga terdakwa langsung meminta maaf kepada warga Palangka Raya atas perbuatannya. Ia juga meminta keringanan. Pasalnya sampai saat ini, mereka mengaku masih menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi di Palangka Raya.

"Saya lagi KKN pak. Saya juga mengaku salah dengan perbuatan ini. Bahkan atas penggunaan C6 ini akan berujung seperti ini pun kami tidak tahu pak hakim," ungkap Kurniawati.

Sementara terdakwa berinisial A harus menjalani diversi, karena masih di bawah umur. Saat persidangan di PN Palangka Raya, kemarin Ketua KPU Palangka Raya Eko Riadi mengungkapkan terkait permasalahan ini adalah kelalaian petugas TPS 04 di Petuk Ketimpun. "Itu murni kelalaian petugas. Kenapa mereka bisa lolos mencoblos. Padahal itu bukan hak pilih mereka," tegasnya di depan ketua majelis.

Eko Riadi mengungkapkan, petugas KPPS juga sudah diberikan bimbingan teknik terkait prosedur-prosedur yang berkaitan dengan pencoblosan. Namun hal itu tidak diterapkan di lapangan. Seharusnya sebelum pencoblosan antara C6 dan KTP terlebih dahulu dicek.

"Kalau cocok baru boleh nyoblos. Kalau tidak ia dilarang. Memang petugas awal mengecek itu dari linmas yang selanjutnya diserahkan ke KPPS 4 untuk memastikan kebenarannya dan jika benar lalu dicatat di KPPS 5 untuk daftar hadir," jelasnya.

Nama-nama yang tercantum di C6 yang dipakai para terdakwa untuk mencoblos pada Pilkada Kota 27 Juni lalu, yakni Mahruni, Joko Supriyanto, Maimuna Saro, Ida Zulfaidha, Yohana Valentina dan Marisa Norhalisa. (jun/ens)

Loading...

You Might Also Like