Penyakit Moluskum Kontagiosum merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus pox. (Istimewa)


Penyakit kulit bintil-bintil mirip jerawat dan tersebar di tubuh, jangan disepelekan. Bisa jadi itu merupakan jenis penyakit kulit Moluskum Kontagiosum. Penyakit itu merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh virus pox.

Virus ini dapat bertahan di permukaan benda yang telah tersentuh oleh kulit orang yang terinfeksi. Sehingga, penularan juga dapat terjadi pada barang yang terkontaminasi.

“Moluskum Kontagiosum merupakan infeksi virus yang sangat menular dan dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak kulit ke kulit, berbagi pakaian, atau hanya dengan menyentuh benda yang disentuh penderita yang terinfeksi,” kata Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV dari CEO Klinik Pramudia dalam Virtual Media Briefing, Rabu (4/11).

Moluskum Kontagiosumi menyebabkan benjolan kecil pada kulit yang biasanya tidak terasa nyeri tetapi dapat menimbulkan rasa gatal. Biasanya dapat menghilang dengan sendirinya serta tidak meninggalkan bekas luka, walaupun tidak diterapi.

 “Biasanya anak-anak terinfeksi ketika bermain dengan temannya. Pada usia dewasa, biasanya penularan melalui hubungan seksual atau kontak ketika sedang berolahraga,” tambahnya.

Ia melanjutkan masa inkubasi MK antara 2- 6 bulan. Namun, deteksi dini MK tidaklah mudah. Selain jarang terasa gatal, pada umumnya MK tidak memiliki rasa nyeri. Bentuk klinis dari gejala MK di kulit hampir menyerupai jerawat dan cepat menjadi banyak.

“Pada anak, MK sering ditemukan di dada, punggung, kaki, tangan, daerah lipatan dan wajah. Sedangkan pada dewasa ditemukan pada genital dan area sekitarnya,” tuturnya.

Untuk mencegah tertularnya dari virus MK, selain menghindari kontak fisik dengan penderita, masyarakat perlu untuk selalu menjaga kesehatan dan imunitas tubuh, serta selalu menjaga kebersihan.

Menghindari kontak dengan penderita. Mencuci tangan dengan air hangat dan sabun. Mengajarkan anak-anak untuk mencuci tangan dengan benar, terutama usai bermain dan berinteraksi dengan orang lain. Hindari berbagi barang personal, seperti handuk, pakaian, sisir, dan sabun batang. Hindari berbagi perlengkapan olah raga yang berkontak dengan orang lain seperti sarung tangan dan helm. Hindari menyentuh benjolan.

Pengobatan

Bila diobati dengan benar dan tidak terjadi kontak ulang terhadap sumber penularan, jarang terjadi kekambuhan pada MK. Terdapat beberapa modalitas pengobatan untuk MK. Hanya saja pada pelaksanaannya, pengobatan pada anak jauh lebih sulit daripada orang dewasa.

Berikut beberapa pengobatan MK:

Cryotherapy, yaitu menggunakan nitrogen cair untuk membekukan tiap benjolan.

Kuret, yaitu menggunakan alat untuk menembus benjolan dan mengikis.

Terapi laser, untuk menghancurkan tiap benjolan.

Terapi topikal, dengan menggunakan krim mengandung asam atau bahan kimia dengan tujuan untuk menimbulkan pengelupasan lapisan atas kulit. Terapi ini dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga membutuhkan anestesi. Terapi pada penderita dengan kekebalan tubuh rendah akan lebih lama dan sulit.

Selain terapi, dokter juga biasanya menyarankan metode pengobatan lain untuk moluskum kontagiosum,

yaitu mengolesi bintil dengan asam trikloroasetat, asam salisilat, atau tretinoin, baik dalam bentuk krim

ataupun salep.

Kuret atau scraping, yaitu dengan mengikis bintil menggunakan alat medis khusus. Diathermy, yaitu dengan menghancurkan bintil menggunakan energi panas, dengan terlebih dahulu diberikan bius lokal.

Pada pengidap moluskum kontagiosum yang memiliki bintil besar atau cukup banyak, dokter biasanya akan mengulang prosedur tersebut tiap 3 atau 6 minggu sampai bintil hilang. Selama pengobatan, bintil yang baru masih bisa timbul, tapi biasanya akan hilang seluruhnya dalam 2-4 bulan setelah diobati.

123

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc