Pemakaman Covid-19 TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)


  1. Kementerian Kesehatan mengungkapkan wacana atau isu ingin mengubah definisi pendataan kasus kematian Covid-19. Sehingga akan memisahkan kasus kematian yang murni akibat Covid-19 dan kematian dengan penyakit penyerta atau komorbid. Menanggapi hal itu, Kemenkes dinilai hanya berusaha memperbaiki citra agar terkesan angka kematian di Indonesia bisa diturunkan.

Pakar Kesehatan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr. Hermawan Saputra menjelaskan isu meredefinisi kasus kematian akibat Covid-19 tak terlalu penting untuk dilakukan. Sebab semua kasus kematian yang terkait dengan Covid-19 harus dimasukkan ke dalam data.

“Saya pikir memang tak terlalu urgen untuk meredefinisi apa yang sudah menjadi data ini. Kalau sekadar ada data, misalnya Death with Covid-19 dan Death Cause of Covid-19. Kalau sekadar pemilahan sebagai data atau role data itu boleh,” katanya kepada JawaPos.com, Selasa (22/9).

Tetapi, lanjutnya, jika menganalisa keterkaitan kematian dengan Covid-19 sebaagai kematian global, maka semua data harus dimasukkan. Bahwa semua yang berkaitan dengan kematian yang disebabkan oleh adanya virus yang masuk ke dalam tubuh seseorang yang meninggal, adalah masuk ke dalam kategori Death With Covid-19.

“Jadi buat saya kalau pembicaraan itu pada tataran data saja hanya sekadar pemisahan data, kemudian juga ada role data. Yang mana yang pure, boleh saja,” jelasnya.

Tapi dengan catatan, kata dia, Kemenkes jangan sampai meredefinisi data itu hanya untuk terkesan seolah data kematian di Indonesia turun. Dia mendorong keterbukaan dan kejujuran setiap negara penting untuk diungkap.

“Jangan hanya untuk perbaiki citra atau imej data. Itu tak benar. Jangan sampai begitu. Perlu kejujuran saja. Boleh saja data dikategorikan macam-macam. Tapi berkaitan dengan penanganan Covid-19 semua kematian yang beririsan dengan Covid-19 itu berkaitan dengan Covid-19 Impact,” tutur dr. Hermawan.

Sebelumnya, dalam keterangan resmi Kemenkes pada 17 September, menyebut adanya redefinisi kematian Covid-19. Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan, M Subuh saat menghadiri Rapat Koordinasi bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya mengungkapkan pihaknya berupaya melakukan penurunan angka penularan, penurunan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan di wilayah Jawa Timur dalam waktu 2 minggu ke depan.

“Kita harus berusaha dalam 2 minggu kedepan terjadi penurunan angka penularan, peningkatan angka kesembuhan, penurunan angka kematian di 9 Provinsi termasuk wilayah Jawa Timur” kata M. Subuh.

Ketiga poin tersebut dapat ditekan terkhusus pada penurunan angka kematian, Subuh menambahkan penurunan angka kematian harus kita intervensi dengan membuat definisi oprasional dengan benar.”Meninggal karena Covid-19 atau karena adanya penyakit penyerta sesuai dengan panduan dari WHO, dan juga dukungan BPJS Kesehatan dalam pengajuan klaim biaya kematian pasien disertai Covid-19” lanjut M. Subuh.

JawaPos.com sudah mencoba mengonfirmasi kembali pernyataan Kemenkes terkait isu ini, namun belum mendapatkan respons. Belum ada jawaban atau penjelasan serta klarifikasi lanjutan atas isu tersebut.

Panduan Kematian Covid-19 Oleh WHO

JawaPos.com mencoba membedah aturan atau panduan WHO dalam menetapkan definisi kasus kematian akibat Covid-19. Disebutkan dalam aturan bahwa penyakit komorbid pun harus dimasukkan ke dalam definisi kematian.

Dokumen itu menjelaskan sertifikasi dan klasifikasi (pengkodean) kematian terkait Covid-19. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi semua kematian akibat Covid-19.

“Kematian karena Covid-19 didefinisikan untuk tujuan pengawasan sebagai kematian yang diakibatkan secara klinis. Penyakit yang sesuai, dalam kasus Covid-19 yang mungkin atau terkonfirmasi, kecuali ada alternatif yang jelas. Penyebab kematian yang tidak dapat dikaitkan dengan penyakit Covid-19 (misalnya trauma). Seharusnya tidak ada periode pemulihan total dari Covid-19 antara penyakit dan kematian. Kematian karena Covid-19 mungkin tidak dikaitkan dengan penyakit lain (misalnya kanker) dan seharusnya dihitung secara independen dari kondisi yang sudah ada sebelumnya yang diduga memicu perjalanan yang parah” kata aturan WHO.

Begitu pula soal definisi pada kematian akibat komorbid jelas tertulis. Bahwa komorbid yang disebutkan seperti daibetes, gangguan paru, dan penyakit arteri koroner seperti jantung.

“Ada semakin banyak bukti bahwa orang dengan kondisi kronis atau kekebalan yang terganggu sistemnya karena kecacatan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi karena Covid-19. Kondisi kronis mungkin penyakit tidak menular seperti penyakit arteri koroner, penyakit paru obstruktif kronik (COPD), dan diabetes atau kecacatan. Jika almarhum memiliki kondisi kronis seperti ini, mereka harus dilaporkan dalam Bagian 2 dari sertifikat medis penyebab kematian,” tegas WHO. (*)

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc