Kasubbid PID Bidhumas AKBP Siti Fauziah (dua dari kiri) dan Kasubbid Penmas Bidhumas AKBP Marianto menjadi narasumber Talk Show KPFm dan Kalteng TV, Jumat (18/9). (GILANG/KALTENG TV)


PALANGKA RAYA, KALTENGPOS.CO-Tak dapat dimungkiri, media sosial (medsos) menjadi salah satu media pilihan untuk berkampanye menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalteng 2020. Hanya saja penyebaran informasi di medsos masih dibanjiri dengan informasi atau berita bohong alias hoaks. Termasuk juga mengenai pasangan calon (paslon) yang akan maju meraih kursi pada pilkada tahun ini.

Untuk meminimalkan hoaks di medsos jelang pilkada, Polda Kalteng melalui Kasubbid PID Bidhumas AKBP Siti Fauziah dan Kassubbid Penmas Bidhumas AKBP Marianto hadir langsung sebagai narasumber Talk Show KPFm dan Kalteng TV, Jumat (18/9).

AKBP Siti Fauziah menyampaikan bahwa masyarakat masa kini harus lebih bijak dalam bermedia sosial. Jangan sampai langsung menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Mengingat saat ini sudah diterapkan sanksi atau ancaman pidana terhadap penyebar hoaks.

“Jangan tiba-tiba dapat postingan (unggahan, red), langsung diiyakan. Dicek dahulu, beritanya terverifikasi tidak. Kalau tidak, jangan disebar, setop saja,” ucapnya.

Selama ini apabila menemukan penyebar hoaks, pihaknya mendatangi pemilik akun untuk ditanyakan mengenai tujuan penyebaran informasi tersebut. Tak jarang banyak penyebar yang menyatakan tidak tahu jika yang disebarkan adalah berita bohong. Saat itulah pihaknya akan melakukan pembinaan.

Menjelang pesta demokrasi lima tahunan ini, pihaknya tak menampik bahwa medsos sangat bermanfaat bagi setiap pendukung calon. Dengan memanfaatkan medsos, informasi tentang pasangan calon bisa lebih cepat diketahui masyarakat jika dibandingkan pasangan calon harus berkampanye secara langsung ke daerah-daerah.

Akan tetapi, yang menjadi perhatian adalah oknum-oknum tertentu yang menggunakan medsos untuk menyerang pihak lain, yakni dengan memberikan informasi palsu terkait lawan. Hal inilah yang berusaha dicegah oleh pihak Polda Kalteng. Pasalnya, penyebaran hoaks lebih banyak berdampak negatif bagi masyarakat.

Di tempat yang sama, AKBP Marianto menambahkan, dengan adanya kemudahan teknologi dan kehadiran medsos, tak jarang masyarakat umum menggunakan akun untuk menyebarkan berita layaknya wartawan media massa. Karena itu, ia mengharapkan agar ketika seseorang membuat narasi atau yang kini biasa dikenal caption, sebaiknya tidak menuliskan informasi berupa ujaran kebencian atau yang menyinggung soal suku, agama, ras, dan golongan (SARA).

“Dibaca dahulu, apa benar tidak beritanya. Saring dahulu sebelum sharing. Kalau masih ragu, cukup sampai diri sendiri. Termasuk pemberitaan selama menjelang pilkada ini, baik oleh perorangan ataupun kelompok,” tegasnya.

Tahapan kampanye, lanjutnya, menjadi momen yang pas bagi tim sukses untuk menggencarkan informasi terkait pasangan calon. Ditegaskannya bahwa Polri akan selalu memantau terhadap akun resmi dari masing-masing tim sukses maupun akun dari para relawan.

“Hoaks yang akan mulai bermunculan ketika menjelang pilkada ini, salah satunya yakni mencari kekeliruan dari pasangan lawan, keburukan atau rekam jejak, atau berita yang masih bersifat katanya. Masyarakat harus tetap hati-hati,” tegas Marianto.

12

Editor :dar
Reporter : ila/ala