Ilustrasi pembesaran daya yang lebih tinggi menunjukkan struktur dan kepadatan virion SARS-CoV-2 (merah) yang dihasilkan oleh epitel saluran napas manusia. (Ehre Lab, UNC School of Medicine)


Pandemi Covid-19 belum selesai. Para peneliti terus berupaya menemukan obat dan vaksin untuk mennyelamatkan dunia. Virus ini tak hanya merusak organ paru-paru, tetapi bisa semua organ.

Penelitian terbaru mengungkapkan bagaimana jahatnya virus Korona saat menyerang paru-paru seseorang. Setiap partikel virus SARS-CoV-2 atau virion memiliki tampilan bola protein berduri yang membungkus materi genetik. Lebarnya sekitar 50-200 nanometer. Mikrograf dengan warna semu itu menginfeksi sel paru-paru manusia.

Gambar terbaru yang mencolok dari virus SARS-CoV-2 dipaparkan Ahli Biokimia Camille Ehre dari Fakultas Kedokteran Universitas North Carolina (UNC) telah diterbitkan di New England Journal of Medicine. Mereka mengungkapkan seberapa cepat virion mikroskopis ini dapat menginfeksi saluran udara kita.

Tim tersebut memperkenalkan SARS-CoV-2 ke dalam kultur lab sel epitel bronkial manusia. Yaitu sel yang menyediakan penghalang antara udara di paru-paru dan aliran darah kita. Para peneliti membiarkan keduanya berbaur selama 96 jam, dan kemudian menggunakan mikroskop elektron untuk merekam hasilnya.

“Produksi virus kira-kira 3 × 106 unit pembentuk plak per kultur, sebuah temuan yang konsisten dengan tingginya jumlah virion yang diproduksi dan dilepaskan per sel,” tulis tim tersebut seperti dilansir dari Science Alert, Selasa (15/9).

Seorang mahasiswa kedokteran UNC, Cameron Morrison, menunjukkan struktur seperti rambut yang disebut silia dengan warna biru. Lalu ada untaian lendir berwarna hijau kekuningan dan SARS-CoV-2 dengan warna merah.

Silia juga berada di usus, tetapi mereka juga ada di dalam paru-paru yang membantu melindungi organ pernapasan kita dari patogen, menjaga kelembapan paru-paru, dan membersihkan diri. Gambar menunjukkan begitu besar virion yang diproduksi ketika virus membajak sel tubuh.

Pada manusia, virus yang dihasilkan akan tersebar saat terbatuk, berbicara, atau bahkan menyebar ke udara dalam bentuk tetesan. Gambaran ini memberi bukti nyata agar orang-orang patuh memakai masker dan menjaga jarak dari orang lain untuk membatasi penyebaran.

1

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc