Warga RT 34/ RW 07 Kelurahan MB Ketapang mendatangi lokasi proyek rumah di Jalan Suprapto Selatan, Sabtu (8/8). INSET: Alat untuk memasang tiang pancang paku bumi. (RUSLI/KALTENG POS)


SAMPIT-Warga yang tinggal di Jalan Suprapto Selatan, tepatnya RT 34/ RW 07 Kelurahan MB Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur melakukan aksi protes, Sabtu (9/8). Mereka keberatan dengan pemasangan tiang pancang paku bumi pembangunan rumah yang menyebabkan rumah dan ruko milik warga menjadi retak.


Warga ngelurug ke lokasi proyek pembangunan itu dan menghentikan pekerjaannya. Kemarahan warga memuncak, karena pemilik bangunan tidak mau menghentikan aktivitas itu yang sebelumnya sudah diperingati oleh masyarakat setempat.

“Dampak pemasangan paku bumi, menyebabkan dinding, dan lantai rumah mengalami keretakan yang cukup lebar. Kami memberikan waktu 3x24 jam alat penumbuk itu harus keluar dari lokasi. Kalau alat berat itu tidak keluar, maka kami akan mengeluarkannya sendiri,” tegas Halik, warga sekitar.

Warga tidak setuju dengan kegiatan pembangunan yang menggunakan alat penumbuk paku bumi itu, karena menimbulkan kerusakan dan sudah sangat merugikan warga sekitar. Menurtunya, protes terhadap pembangunan menggunakan alat penumbuk paku bumi sudah sering disampaikan, terakhir mediasi dilakukan di Kantor Kelurahan MB Hilir Ketapang.

“Keselamatan warga di lokasi pembangunan itu terancam, namun sampai saat ini tidak  ada tindakan tegas dari pihak kelurahan dan Pemkab Kotim untuk menghentikan aktivitas penggunaan penumbuk paku bumi itu,”terangnya.

Halik menuturkan, pemilik bangunan tidak memegang komitmen dari surat pernyataan yang ditulis langsung olehnya, bahkan sangat jelas bahwa didalam surat pernyaatan itu bahwa dalam membangun tidak menggunakan alat penumbuk paku bumi. Namun hanya menggunakan alat ekskavator.

 “Ini saya masih memegang bukit salinan dari surat pemilik bangunan ini, sangat jelas bertanda tangan di bawah materai Rp 6000, pada bulan April 2020 lalu. Sesuai surat ini, kami minta alat penumbuk paku bumi harus segera dikeluarkan dari lokasi,” serunya.

Sementara itu, Ketua RT 34 Muslimin mengaku, dalam pertemuan mediasi pada Juli lalu yang difasilitasi oleh pihak kelurahan, tertulis bahwa pemilik bangunan diminta sosialisasi terkait pembangunan itu. Namun hal itu tidak diindahkan, malahan setiap hari aktivitas pengerjaan pembangunan itu terus berjalan.

“Selaku ketua RT, saya meminta pemilik bangunan menghentikan aktivitas pengerjaan dengan menggunakan alat berat penumbuk paku bumi itu. Hal ini berdasarkan atas protes warga yang ada di sekitar bangunan,” terangnya.

Menurut Muslimin, warga tidak ada yang menolak pembangunan rumah itu, dengan catatan pemilik bangunan tidak menggunakan alat penumbuk pasak bumi. “Dalam surat pernyataan yang ditulis langsung oleh Ferryadi Cioko selaku pemilik bangunan sudah jelas, bahwa dalam pembangunan akan menggunakan ekskavator untuk memasang tiang pancang paku bumi, bukan dengan alat penumbuk ” ungkapnya.

Sementara itu, Camat MB Ketapang, Sutimin meminta, sementara waktu pengerjaan pelaksana proyek pembangunan rumah dihentikan dulu.

“Saya selaku camat meminta hentikan dulu pekerjaannya, dan menuntaskan permasalahan ini. Masalah ini akan tindak lanjuti dengan kembali melakukan mediasi, kemungkinan bisa langsung dari pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kotim,”ujar Sutimin. 

12

Editor :dar
Reporter : sli/ram