Ilustrasi. (foto: net)


KALTENGPOS.CO - Niat pemerintah membuka kembali sekolah di zona nonhijau ditentang keras. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersikukuh, anak harus tetap di rumah selama masa pandemi Covid-19 karena berisiko tinggi tertular dan menularkan.

Ketua Umum IDAI dr Aman Pulungan SpA (K) menyampaikan, ada sejumlah alasan mengapa anak harus tetap belajar dari rumah. Salah satunya, kematian anak Indonesia akibat Covid-19 saat ini paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia-Pasifik.

Merujuk pada data IDAI, jumlah anak terpapar Covid-19 mencapai angka ribuan. Sementara itu, yang meninggal akibat Covid-19 sekitar 60 anak.

Jumlah meninggal diakuinya sudah tak sebanyak sebelumnya, tetapi kasus positif terus bertambah. ”Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini bukan hoaks, karena kami yang merawat,” tutur dia dalam diskusi Perlindungan Anak di Masa Pandemi secara daring, Senin (3/8).

Dia menegaskan, rasa bosan di rumah tidak sebanding dengan kesehatan anak. Mengingat, hingga kini nyaris setiap pekan ada kasus anak terpapar virus baru tersebut. Karena itu, orang tua bisa membayangkan ketika anak harus dirawat karena Covid-19 sebelum meminta sekolah kembali dibuka. Apalagi jika sampai meregang nyawa.

Penanganan anak terpapar Covid-19 itu pun tidak mudah. Sebagai langkah awal saja, tim dokter kerap kesusahan mencari kamar untuk anak-anak positif Covid-19.

”Bagi orang tua yang mau anak sekolah hari ini, coba dipikirkan kalau anak sakit, siapa yang periksa PCR, di mana mau dirawat? Apa sekolah yang merujuknya?” papar alumnus Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Belum lagi, ketika anak diisolasi yang tidak mungkin dilakukan seorang diri. Harus ada orang tua yang ikut dalam perawatan. Artinya, orang tua bakal ikut terpapar. Sebab, anak juga memiliki potensi untuk menularkan, tidak hanya tertular.

Selain itu, pemerintah diminta tak memberikan angin surga. Mengumumkan suatu daerah sudah zona hijau, padahal masih ada kasus baru yang terjadi di sana. ”Ini kan sangat dinamis. Bisa jadi itu hasil 2-3 minggu lalu,” katanya.

Aman juga meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk segera memilah kurikulum darurat yang diberikan kepada anak. Dengan demikian, tidak semua materi diberikan yang akhirnya membuat anak stres.

Menurut dia, tak jadi soal proses pembelajaran dilakukan jarak jauh (PJJ) tanpa harus ada tuntutan pemenuhan target. Bahkan, jika proses belajar mengajar di sekolah dimundurkan hingga satu tahun. Sebab, saat ini yang harus diutamakan adalah hak hidup dan hak sehat. Setelahnya, baru hak pendidikan.

”Tunda dulu sampai 2020. Nanti mendekati Desember kita nilai,” ungkapnya.

Apabila kondisi masih sama dengan saat ini, sebaiknya tahun 2021 pun masih full PJJ. ”Kami tidak bisa melihat satu orang anak lagi meninggal,” tegasnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi turut mengamini. Dia meminta seluruh masyarakat untuk bersabar dan bertahan di rumah.

Diakui, pada masa belajar dari rumah ini, banyak aduan yang masuk. Ada orang tua yang kebingungan hingga menimbulkan tekanan-tekanan. ”Amat sangat dipahami. Reaksi wajar ketika kondisi darurat dan ini bukan lokal, melainkan global,” ungkapnya.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa Kak Seto itu meminta semua pihak memikirkan hak-hak anak. Saat ini hak paling mendasar adalah hak hidup, hak mendapat perlindungan, hak tumbuh kembang, dan hak berpartisipasi. ”Kalau buka sekolah, jelas melanggar keras hak hidup,” tegasnya.

Selain itu, Kemendikbud dituntut agar segera mengeluarkan kurikulum darurat untuk menyikapi proses pembelajaran saat ini. Termasuk pengawasan atas implementasi Surat Edaran Mendikbud 4/2020. Isinya tentang siswa yang tidak boleh dibebani menuntaskan seluruh capaian kurikulum di masa pandemi.

Dia juga meminta agar ada jaminan anak naik kelas selama masa pandemi ini sehingga tidak ada beban. ”Jangan sampai ada kasus anak diancam tidak naik kelas karena tidak mau tatap muka atau capaian kurikulum tadi,” tuturnya.

Pendidikan saat ini, lanjut dia, sebaiknya lebih mengajarkan soal kecakapan hidup. Salah satunya, bagaimana menghadapi Covid-19.

123

Editor : nto
Reporter : jpc/kpc