Sejumlah warga dengan masker mengikuti sidang perdana gugatan terkait polusi udara Jakarta di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis (1/8/2019). Sidang gugatan oleh sejumlah LSM yang tergabung dalam Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta yang ditujukan kepada 7 lembaga pemerintahan yang digugat, termasuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)


Di saat dunia masih dilanda pandemi Covid-19, sebuah laporan baru justru mengidentifikasi ancaman dan risiko lain terbesar bagi kesehatan manusia. Yakni, ancaman kualitas udara yang buruk alias polusi udara berkali-kali lipat lebih berbahaya ketimbang virus Korona.

Data baru dari Indeks Kualitas Udara (AQLI) mengungkapkan, polusi udara memotong harapan hidup global selama hampir dua tahun. Hampir seperempat populasi dunia tinggal di empat negara Asia selatan yang termasuk yang paling tercemar seperti Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan.

AQLI menemukan, populasi ini akan melihat rata-rata umur mereka dipotong sampai lima tahun, setelah terpapar pada tingkat polusi 44 persen lebih tinggi dari 20 tahun yang lalu.

Michael Greenstone, Profesor Layanan Terpisah Milton Friedman dan founder AQLI mengatakan, meskipun ancaman Covid-19 sangat serius dan pantas mendapatkan perhatian penuh, tapi udara yang tercemar adalah hal yang sebetulnya lebih menakutkan.

Dia menyebut butuh kesadaran tinggi bagi setiap orang di semua negara di dunia untuk memerangi pencemaran udara. Harapanya dengan udara yang bersih, ini akan memungkinkan miliaran orang di seluruh dunia untuk hidup lebih lama dan lebih sehat dan solusinya terletak pada kebijakan publik yang kuat.

“AQLI memberi tahu warga dan pembuat kebijakan bagaimana polusi partikulat mempengaruhi mereka dan komunitas mereka dan dapat digunakan untuk mengukur manfaat kebijakan untuk mengurangi polusi,” ungkapnya.

Menurutnya, indeks Kualitas Udara mengubah polusi udara partikulat, yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan melihat dampaknya terhadap kesehatan manusia dan harapan hidup. Partikel yang menyebar dari polusi masuk ke dalam tubuh, yang bahkan memiliki dampak lebih buruk pada harapan hidup dari pada penyakit menular seperti TBC dan HIV atau AIDS.

“Pembunuh perilaku seperti merokok, dan bahkan perang,” catat AQLI berbagi dalam laporannya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun ada pengurangan yang signifikan pada partikel di Tiongkok, yang pernah menjadi salah satu negara paling tercemar di dunia, tingkat keseluruhan polusi udara tetap stabil selama dua dekade terakhir.

Di negara-negara seperti India dan Bangladesh, polusi udara bahkan sangat parah sehingga sekarang diperkirakan memotong rata-rata rentang hidup di beberapa daerah di sana selama hampir satu dekade setiap jiwanya. Penulis penelitian mengatakan, kualitas udara yang dihirup banyak manusia merupakan risiko kesehatan yang jauh lebih tinggi daripada virus Korona.

Selain India, polusi partikulat juga merupakan keprihatinan yang harus diwaspadai di seluruh Asia Tenggara, tempat kebakaran hutan dan tanaman berpadu dengan lalu lintas dan uap pembangkit listrik yang menciptakan udara beracun.

Diketahui, sekitar 89 persen dari 650 juta orang di kawasan itu bahkan dilaporkan tinggal di daerah di mana polusi udara melebihi pedoman ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia. Namun, pencemaran paling parah, sedang menjangkiti bagian-bagian India, terutama India utara, termasuk kota-kota besar Delhi dan Kolkata.

Sementara tempat-tempat seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang telah berhasil meningkatkan kualitas udara kendati polusi masih memutus rata-rata dua tahun dari harapan hidup di seluruh dunia menurut AQLI. Bangladesh ditemukan memiliki kualitas udara terburuk di negara mana pun, dan rata-rata sekitar 250 juta penduduk di negara bagian India utara ini akan kehilangan delapan tahun usia kehidupannya kecuali jika polusi dikendalikan.

Selain AQLI, beberapa penelitian lain juga telah menunjukkan paparan polusi udara yang merupakan faktor risiko Covid-19 utama, dan Greenstone mendesak pemerintah untuk memprioritaskan kualitas udara setelah pandemi.

“Mari kita singsingkan lengan untuk mengurangi polusi udara,” kata Greenstone.

12

Editor :iha
Reporter : jpc/kpc