Ilustrasi. (foto: net)


“Pak, bagaimana kalau kami tidak bisa membeli paket data? Apalagi pada bulan-bulan ke depan belajarnya kan online?” Keluh seorang peserta didik di pesan pribadi Whatsapp.

“Pak, saya hendak berpindah ke kelas offline? Boleh apa tidak? Karena Saya sulit paham kelas online. Boleh ya pak?” Peserta didik lain menghiba.

“ Lho pak, sinyalnya kan sering gangguan. Listrik juga sering padam. Kita nanti akan kesulitan kalau belajarnya lewat hp, yang lain menimpali.

Di atas adalah beberapa keluhan para peserta didik SMPN 4 Katingan Kuala. Setelah lebih dari satu minggu berjalan pembelajaran dari rumah. Beberapa ingin segera kembali seperti biasa.

“Di tempat kita kan tidak ada kasus? Masa sekolah tidak boleh masuk.” Suatu ketika orang tua komplain.

Di atas adalah beberapa kisah pembelajaran daring SMPN 4 Katingan Kuala. Memang beberapa mengungkapkan keluhan. Namun aturan menyatakan bahwa pembelajaran harus dilakukan dengan daring. Setidaknya pembelajaran ini menghadirkan beberapa permasalahan.

Pembelajaran di masa pandemi covid-19 dilaksanakan dari rumah. Tahun pelajaran yang dimulai pada 13 Juli 2020. Protokol kesehatan menyatakan bahwa sekolah belum bisa dibuka karena pandemi. Ini untuk memutus penyebaran virus covid-19. Hanya 6 persen sekolah seluruh Indonesia yang dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Sisanya harus menunggu paling cepat sampai dengan 30 September 2020.

Bukan tanpa kendala melaksanakan pembelajaran daring di pedesaan yang terisolir. Keputusan yang mengikat untuk satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Baik di kota maupun desa berlaku sama. Dalam pelajarannya muncul disparitas yang tinggi antara kota dengan desa. Ketika di perkotaan lancar, berbanding terbalik dengan anak-anak yang berada di pedesaan. Keterangan sarana di pedesaan menjadi masalah utama.

Permasalahan teknis sering sekali dialami. Salah satu yang paling berhubungan adalah sinyal internet. Ada dua penyedia jasa layanan paket data internet di desa kami. Telkomsel dan Indosat adalah dua penyedia data internet untuk melayani dua kecamatan Katingan Kuala Mendawai.

Pembelajaran daring pun bergantung pada dua perusahaan telekomunikasi tersebut. Dalam praktiknya, sering kali kedua provider ini mengalami gangguan teknis. Ketika gangguan terjadi maka berhentilah belajar secara daring.

Kualitas sinyal tidak merata dalam lingkungan belajar siswa. Banyak di antara yang pelajar harus meninggalkan rumah mereka gegara urusan sinyal. Ini bertolak belakang dengan semangat belajar dari rumah. Bahkan di SMPN 4 Katingan Kuala harus didampingi dengan antena dan WiFi router. Pun beberapa keluarga yang mampu mengadakannya. Lagi sinyal internet masalahnya.

Listrik tidak kalah penting mendukung keberhasilan daring. Ketersediaan pasokan listrik hampir mirip dengan layanan telekomunikasi. Karena menggunakan tenaga diesel listrik juga sering bermasalah. Kalau di daerah perkotaan listrik padam dalam ukuran jam. Namun di daerah kami dalam ukuran  hari padamnya. Gangguan listrik yang padam berlanjut ke sinyal internet. Walaupun tidak selalu beriringan

Kemampuan beradaptasi pada teknologi informasi agak telat. Ini adalah faktor non teknis. Kecepatan dalam penguasaan teknologi informasi masyarakat desa tentu berbeda. Dalam keseharian aktivitas mereka jarang berinteraksi dengan teknologi ini. Walhasil pembelajaran daring berjalan ala kadarnya. Namun tetap patut disyukuri bahwa pandemi mengingatkan semua untuk belajar teknologi informasi.

Bukan sekali dua kali gangguan teknis seperti sinyal dan listrik yang down. Sering kali matinya pasokan listrik berdampak langsung pada hilangnya sinyal. Untuk kurangnya pasukan listrik beberapa anggota masyarakat telah menyediakan listrik mandiri. Beberapa menggunakan mesin diesel sedangkan yang lain genset. Keluhan listrik setidaknya dapat teratasi. Walaupun menyebabkan biaya tinggi saat beroperasi.

Keluhan non teknis berupa mahalnya harga paket internet. Mayoritas komplain berawal masalah harga paket data internet. Kemampuan orang tua peserta didik juga beragam.

(Penulis adalah pendidik di SMPN 4 Katingan Kuala, Kabupaten Katingan)

12

Editor : jony
Reporter :