Gugus Tugas Covid-19 Pulpis menjemput MT (tiga dari kiri), pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh setelah dirawat di RSDS Palangka Raya, beberapa waktu lalu. (MULYADI UNTUK KALTENG POS)


Menjadi pasien positif corona virus disease 2019 (Covid-19) menyisakan cerita pilu bagi keluarga MT. Meskipun secara medis sudah dinyatakan sembuh, rasa pilu keluarga masih dirasakan karena penolakan warga sekitar. Berikut sekilas cerita MT kepada Kalteng Pos.

 

SUHARTOYO, Pulang Pisau

 

RABU malam (8/4), gerimis membasahi bumi. Suasana di lingkungan tempat tinggal MT begitu sunyi. Namun, keadaan itu berubah seketika tatkala sejumlah petugas kesehatan mengenakan APD mendatangi rumah MT.

Malam itu MT dibawa dari salah satu desa di Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau menuju RSUD dr Doris Sylvanus (RSDS) Palangka Raya untuk menjalani perawatan medis, setelah ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

“Saat dijemput ke Palangka Raya malam itu, saya tidak membawa apa-apa. Karena saya tidak tahu kalau akan dibawa ke Palangka Raya,” kata MT mengawali cerita kepada Kalteng Pos, Rabu (3/6).

MT mengaku, sebelum dibawa ke Palangka Raya, ia telah menjalani dua kali rapid test. “Malam itu ada petugas kesehatan menelepon, mengabari bahwa saya akan dibawa ke Pulang Pisau. Makanya saya malam itu tidak membawa apa-apa. Pakaian maupun ponsel pun tidak saya bawa,” kata dia.

MT menjalani perawatan di RSDS. Saat petugas medis menyampaikan kabar bahwa dirinya dinyatakan positif Covid-19, MT tetap tenang. Tidak ada perasaan cemas di hatinya. Karena dia tidak mengalami keluhan sakit apa pun.

“Perasaan saya biasa-biasa saja. Karena saya tidak percaya kalau saya positif. Saat itu, teman saya yang juga dinyatakan positif langsung menangis. Saya hanya bilang; biar saja kita dibilang positif, yang penting kita tetap sehat,” ungkapnya.

Bahkan saat petugas kesehatan melakukan pengecekan kondisi, MT mengaku tidak merasakan apa-apa. “Perawat menanyakan apa keluhan saya. Saya bilang; keluhan saya hanya ingin pulang,” ucapnya sambil berkelakar.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, MT rutin diberi obat. “Obatnya semacam vitamin. Diminum setiap hari hingga akhirnya dinyatakan negatif dan diperbolehkan pulang,” bebernya.

Kisah pilu keluarga MT dimuali saat dirinya dibawa ke Palangka Raya malam itu. “Ketika tetangga mengetahui kedatangan petugas kesehatan yang dikawal polisi untuk menjemput saya, mereka mulai takut dan langsung menjaga jarak,” kata MT.

Bahkan, pekarangan di belakang rumahnya langsung dipasang pagar. Ada ketakutan dari warga sekitar untuk mendekati anggota keluarga MT. Istri MT yang saat itu di rumah merasa bingung. “Karena mau ke mana-mana tidak boleh,” ucapnya.

Sekadar meminjam tangki semprot untuk menyemprot rumput pun tak satu pun tetangga yang berani meminjami. “Sampai-sampai istri saya minta izin mau beli tangki ke aparat desa, tapi tetap tak diberi izin. Akhirnya petugas puskesmas memberi izin, dengan syarat tak boleh berlama-lama. Setelah beli tangki semprot harus cepat pulang. Padahal anak istri saya negatif,” kata dia.

Pengucilan terhadap keluarga MT oleh para tetangga bahkan berlanjut, meski MT sudah dinyatakan negatif Covid-19. Tetap dijauhi. “Saat saya pulang dari rumah sakit, tak ada satu pun tetangga yang menjenguk saya ke rumah,” ucapnya.

Kehidupan sosial dengan masyarakat sekitar pun belum bisa dia rasakan secara normal sepenuhnya. “Untuk jumatan (salat Jumat) pun saya tidak dibolehkan. Orang pada takut. Makanya saya jumatan ke luar desa. Padahal saya sudah dinyatakan sehat,” keluhnya.

Tak satu pun tetangga yang ingin bertegur sapa. “Bahkan saat saya bersih-bersih di depan rumah, orang yang lewat langsung menutup hidungnya dengan masker. Kalau Anda (wartawan Kalteng Pos) pada posisi saya, saya yakin akan menangis dengan kondisi ini,” tuturnya.

MT pun mengungkapkan bahwa sang istri ikut merasa depresi atas kondisi itu. “Bukan hanya depresi, tapi istri saya sempat hampir bunuh karena dimarahi dan dijauhi tetangga,” ungkap MT.

Sampai-sampai sang istri berpikiran untuk mengajak sekeluarga pulang ke kampong halaman di Papua. Sebab, tak ada tetangga yang mau mendekati keluarganya. “Istri saya mengeluh, bagaimana kita hidup tanpa tetangga. Saya hanya bisa bilang, sabar saja Bu, nanti akan baik sendiri kalau para tetangga sudah tahu kita tidak apa-apa,” tandasnya. 

1 2

Editor :dar
Reporter : art/ala

You Might Also Like