George Floyd, keturunan Afrika-Amerika warga AS yang meninggal setelah dijepit ke tanah oleh seorang perwira. (Offices of Ben Crump Law)


Aksi gelombang protes pasca kematian pria kulit hitam George Floyd di Amerika Serikat semakin tak terbendung. Isu rasisme dan diskriminasi kini justru semakin memanas menjadi aksi kerusuhan, penjarahan dan pembakaran. Massa marah karena Floyd tewas setelah lehernya diinjak polisi kulit putih.

Gubernur Minnesota Tim Waoz mengatakan, pada hari Sabtu (30/5), ternyata saat ini massa yang datang semakin bias. Sebab bukan lagi berasal dari negara bagian, melainkan dari luar negara bagian ikut bergabung. Pihaknya akan sepenuhnya memobilisasi pasukan mengatasi massa yang marah. Menurutnya, aksi itu tak lagi tentang kematian George Floyd tetapi lebih merupakan serangan pada masyarakat sipil oleh orang-orang yang tidak berasal dari komunitas.

“Situasi di Minnesota tidak lagi berkaitan dengan pembunuhan George Floyd. Ini tentang menyerang masyarakat sipil, menanamkan rasa takut dan mengganggu,” kata Gubernur Tim Walz dalam konferensi pers pagi seperti dilansir dari USA Today.

Para pengunjuk rasa diyakini bukan penduduk Minneapolis sesuai klaim para pejabat. Walz mengatakan bahwa dia memperkirakan 20 persen pengunjuk rasa dari Minnesota, sementara sekitar 80 persen berasal dari luar negara bagian.

“Kami mulai mengetahui siapa sebagian dari orang-orang ini,” kata Walz.

Komisioner Keselamatan Publik Departemen Minneapolis, John Harrington mengatakan, departemen tersebut mulai melakukan pelacakan kontrak siapa saja identitas mereka yang ikut unjuk rasa. Semuanya akan dilacak apa tujuannya ikut menciptakan kerusuhan.

Harrington mempertanyakan apakah para pengunjuk rasa adalah bagian dari jaringan atau organisasi kriminal terorganisir. Wali Kota Minneapolis Jacob Frey mengatakan, protes di kota itu diawali dengan damai. Namun dinamika telah berubah selama beberapa hari terakhir.

“Orang-orang yang melakukan ini bukan penduduk Minneapolis,” kata Wali Kota Minneapolis Jacob Frey.

“Setiap orang yang ditangkap di St. Paul-nya pada Jumat malam berasal dari luar negara bagian. Bukan orang-orang sini. Kami tak kenal” kata Wali Kota Melvin Carter.

Hingga kini belum disebutkan secara rinci berapa orang yang sudah ditangkap. Para pejabat tidak mengatakan berapa banyak penangkapan yang dilakukan.

Floyd, adalah pria kulit hitam berusia 46 tahun yang tewas pada Senin (25/5) setelah seorang perwira polisi kulit putih Minneapolis menyerang dengan lututnya ditekan ke leher Floyd selama lebih dari delapan menit. Di seluruh negeri, pengunjuk rasa turun ke jalan selama 4 hari berturut-turut.

Empat polisi sudah dipecat akibat kejadian tersebut. Namun pengunjuk rasa meminta polisi itu ditangkap. FBI pun sedang menginvestigasi kasus ini. 

·          

 

1 2

Editor :Kuswandi
Reporter : Marieska Harya Virdhani

You Might Also Like