Ilustrasi. (foto: net)


APA sesungguhnya berhari raya? Ber-iidulfitri yang bermakna Iid (kembali) fitri/fitrah (suci)?

Ada syair/pepatah arab yang bunyinya begini:

ليس العيد لمن لبس لجديد ولكن العيد لمن طاعته يزيد

Laisal 'iid liman labisal jadiid. Walakinnal 'iid liman tho'atuhu yaziid.

Artinya: “Bukanlah berhari raya itu milik (bagi) orang yang berpakaian baru, tetapi hari raya Iid itu sesungguhnya bagi siapapun yang ketaatannya bertambah”.

Intropeksi makna dan hakikat Hari Raya Idulfitri adalah penting dan layak dimunculkan, mengingat dari tahun ke tahun fenomena Ramadhan maupun pasca Ramadan mempunyai pola yang sama. Pascaramadan, berangsur- angsur suasana religius sirna dari keseharian kita. Seolah-olah tidak ada pengaruh positif dari program yang kita jalankan selama sebulan penuh itu.

Berhari raya bukanlah berarti kita bebas dari kewajiban-kewajiban yang Allah SWT berikan kepada kita selaku hamba-Nya. Sebab, kewajiban dalam Islam bukanlah hanya ada di bulan Ramadan.

Berhari raya bukanlah berarti bersenang-senang dengan hawa nafsu yang selama bulan Ramadan kita telah mengekang dan mengendalikannya. Karena, hakekat mengendalikan hawa nafsu berarti adalah menundukkannya sesuai dengan aturan-aturan (perintah/amar dan larangan/nahi).

Kalau dari tahun ketahun sama, maka sesungguhnya kita ini tidak rasional kita dalam hidup ini. Setelah kita “bersih-bersih” di bulan Ramadan, lantas dengan sengaja kita kotori kembali diri kita. Setidaknya harus ada perubahan walaupun sedikit.

Konsep hidup dalam Hadits Nabi SAW:

* Barang siapa yang hari ini LEBIH BAIK dari hari kemarin maka ia termasuk orang beruntung.

*  Barang siapa yang hari ini SAMA dengan hari kemarin maka ia termasuk orang Merugi.

*  Barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK dari kemarin maka ia termasuk orang Celaka.

(مَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ خَيۡرًا مِنۡ اَمۡسِهِ فَهُوَ رَابِحُ. وَمَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ مثل اَمۡسه فهو مَغۡبُون. ومَن كان يومه شَرًّا مِنۡ امسه فهو مَلۡعُون)

Berhari raya bukanlah berarti kita kembali menutup Alquran untuk membukanya kembali pada Ramadhan di tahun berikutnya. Sebab, Alquran bukan sekedar bacaan di bulan Ramadhan. Bukanlah tujuan dari diturunkannya Alquran untuk diperlombakan bacaannya, diberi hadiah bagi pemenangnya. Tapi, berhari raya Idulfitri berarti kita menandai suksesnya program-program ibadah dan ketaatan di bulan Ramadhan, untuk kita bersiap-siap melaksanakan program-program ketaatan lainnya di bulan-bulan setelah Ramadan.

Kembali kepada makna syair/pepatah di atas, maka, tidak semua orang mendapatkan makna hari raya yang penuh dengan kemenangan dan kembali Fitrah (suci) layaknya bayi yang baru dilahirkan. Tujuan penggemblengan melalui puasa 1 bulan penuh adalah “la’allakum tattaquun” (agar supaya bertaqwa),  jadi dikatakan berhari raya adalah orang-orang yang memetik buah puasa yaitu mengalami peningkatan ketaatan (taqwa), iman dan takwa mereka seperti baru kembali, yakni memasuki hari-hari berikutnya dengan kadar dan takwa yang lebih dibanding sebelum bulan Ramadhan.

Bahkan menurut berbagai sumber, Hari Raya Idulfitri atau Lebaran ini untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam selepas Perang Badar pada 17 Ramadan Tahun ke-2 H. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan. Yakni keberhasilan mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Dari sinilah lahirnya ungkapan muslim saat itu “Allohummaj’alna Minal Aidin wal Faizin” (Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan”.

Semoga bermanfaat. Selamat ber-Hari Raya

(Penulis adalah Ketua PW Lakpesdam NU Kalteng)

1 2

Editor : Jony
Reporter :

You Might Also Like