Foto-foto Didi Kempot hasil jepretan fotografer asal Solo, Dedy Timbul, dipajang di perempatan Ngarsopuro, Solo. (DAMIANUS BRAM/JAWA POS RADAR SOLO)


Manisnya karier tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski dalam kondisi terburuk sekalipun.

 

SHAFA NADIA, Jakarta

 

SEKITAR 33 tahun lalu Didi Kempot datang ke ibu kota. Mau memperbaiki nasib, ceritanya.Mengetuk pintu studio satu ke yang lain sembari mengamen, sebelum akhirnya dilirik Musica Studio. Rekaman dilakukan pada 1989. Debut albumnya rilis setahun kemudian. Salah satu lagu andalannya adalah Cidro.

 

Namun, jangan bayangkan Didi sudah langsung menjadi superstar. Lagu-lagu campursari yang dia bawakan belum mampu menarik banyak orang. Padahal, undangan tampil dari Suriname dan Belanda sudah mulai berdatangan. Meski demikian, tak banyak penikmat musik Indonesia yang mampu merasakan klik dengan lantunan Didi itu.

 

Meski tidak mengetahui detail perjuangan Didi waktu awal karier, Blontank Poer yang dikenal meyakinkan bahwa perjalanan hidup sahabatnya tersebut tidaklah mudah. ”Bisa dibilang lumayan berdarah-darah,” kata pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, Minggu (10/5).

 

Blontank mengingat Didi sebagai pribadi sederhana. Yang juga selalu diingatnya adalah Didi tidak pernah mau terlibat konflik dengan siapa pun. Itulah alasan Didi tak pernah mempermasalahkan lagu-lagunya dibawakan siapa saja. Tak ada niat meminta kompensasi hak cipta.

 

Bahkan, beberapa kali Didi malah berkolaborasi dengan para penyanyi itu. ”Mas Didi memang begitu. Banyak orang yang membahas copyright lagu-lagunya dan menawarkan untuk mengurus, dia nggak mau. Katanya biarin aja, mereka sedang mencari rezeki, cuma jalannya aja yang salah,” kenang Blontank.

 

Selama menjalani karier, Didi Kempot setia di jalur campursari. Lagu-lagunya juga dibuat dalam bahasa Jawa. Dia tak peduli meski pendengarnya terbatas. Biasanya hanya mereka yang masuk usia sepuh yang mendengarkan lagu-lagunya. Kalaupun ada yang muda, mereka pastilah dari sekolah seni.

Namun, semua itu berubah dua tahun terakhir. Fansnya jadi didominasi generasi milenial. Konser-konsernya dipenuhi penonton anak muda. Di mata pengamat musik Bens Leo, baru kali ini terjadi fenomena pertunjukan musik yang lagunya menggunakan bahasa daerah ditonton remaja belasan hingga 20 tahunan dari kota-kota besar.

 

Mereka datang dengan penampilan modis, wangi, dan bergaya khas kekinian. Menurut Bens, Didi bisa menjadikan anak muda yang tidak mengerti bahasa Jawa penasaran dan akhirnya mau belajar dari lirik lagu yang dia ciptakan. Menyukai lagu-lagu lawas yang bahkan sudah ada sebelum mereka lahir.

”Ini yang nggak pernah terjadi sejak dulu, unik. Udah lintas generasi dan budaya juga. Sampai akhirnya pada asyik ikut joget bersama dan tahu arti liriknya meski bukan orang Jawa,” ujarnya.

Bens menilai fans The Godfather of Broken Heart itu sama ekstremnya dengan fans K-pop yang dikenal militan ketika menyukai idolanya. Bens menarik benang merah dari fenomena tersebut. ”Bahwa anak muda sekarang suka musik dengan beat ringan, tapi tetap memiliki lirik mendalam,” katanya.

Kebangkitan karier Didi itu, jelas Bens, sebetulnya bisa menjadi pelajaran bagi musisi lain di tanah air. Bahwa jika ingin eksis, harus memiliki sesuatu yang berbeda. Setahun dua tahun berkarier tak juga dikenal, jangan berhenti. Tetap tingkatkan kemampuan dan terus berusaha. ”Jangan lupakan Cidro. Ingat, lagu itu baru terkenal bahkan setelah puluhan tahun rilis,” ungkap Bens.

Seminggu sebelum kepergiannya pada usia 53 tahun, Didi Kempot merilis single Ojo Mudik. Lagu tersebut diciptakan untuk mengampanyekan agar orang-orang tidak mudik terkait pandemi Covid-19. ”Lagu itu punya potensi kuat untuk melejit. Selain karena tema dan liriknya, juga karena histori penyanyinya,” ujar Bens.

Bens juga menyinggung ratusan lagu ciptaan Didi. Dia meyakini banyak lagu Didi yang tidak jelas keberadaannya. Mungkin belum direkam atau sudah direkam, tapi belum sampai menjadi hit. Dia menegaskan, pihak keluarga harus sesegera mungkin mencari, menggali, mendata, dan mematenkan harta karun itu sebelum jatuh ke tangan orang lain.

”Selama ini kan lagunya yang kita dengar itu-itu aja. Sekitar 30-an yang populer, sisanya ke mana? Harus didapatkan kembali itu oleh ahli waris,” tegasnya.

Beberapa kali karier pelantun lagu Pamer Bojo tersebut sempat tak terdengar kabarnya alias redup. Menurut Bens, bahasa dan penggunaan kata yang dipakai Didi dalam lagu-lagunya itulah yang membuat dirinya gampang-gampang susah berkawan dengan ketenaran. Namun, Didi tak putus asa.

”Dia gunakan kreativitasnya dengan menciptakan lagu sendiri dalam bahasa Jawa, meski dia sendiri yakin banyak orang yang sulit untuk mengikuti itu,” tambah Bens.

Bagi pengamat musik Erie Setiawan, Lord Didi tak pernah meredup. Dia lebih suka menyebut saat itu nama Didi sedang tidak di permukaan. Sebab, puluhan karya lagu baru tetap dihasilkannya. ”Jadi, tidak ada fase berhenti. Dia tetap berkarya, tapi tidak jadi perhatian. Mungkin karena memang beberapa lagu yang dibuatnya kurang menarik perhatian ya,” imbuh Erie.

Berkat ketelatenan menjalani karier, Didi mampu menunjukkan kualifikasinya ketika akhirnya spotlight mengarah kepadanya. Dia berhasil menunjukkan lagu-lagunya yang memiliki kekuatan lirik luar biasa. Dia berhasil berada di puncak tanpa perlu mendompleng nama siapa pun selain dirinya sendiri.

Erie juga mengklaim tak ada suara fals yang keluar dari Didi saat bernyanyi. ”Belum ada yang seistimewa skill beliau. Sejauh ini juga belum tergantikan, kalau misalnya ada yang bersaing, minimal cuma menyamai,” ulas Erie.

Editor :dar
Reporter : jpg