Yessiel Trivena dan Eka Gustiwana menciptakan lagu yang hasil keuntungan disumbangkan kepada tenaga medis. Relawan membuat alat pelindung wajah. (MUHAMMAD TAN REHA/JAWA POS)


Ada yang bikin lagu yang royaltinya akan disumbangkan untuk pembelian alat pelindung diri. Ada pula yang membuat alat pelindung wajah. Sama-sama tergerak oleh perjuangan mereka yang berada di garis depan.


ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta,

SEPTINDA A.P, Surabaya, Jawa Pos

 

MEMPERTARUHKAN nyawa hingga rela meninggalkan keluarga. Sepenggal cerita perjuangan tenaga medis dalam perang melawan Covid-19 itu, menginspirasi musisi dan komposer Eka Gustiwana bersama sang istri, Yessiel Trivena.

Keduanya pun tergerak menciptakan sebuah lagu untuk mereka, Demi Raga Yang Lain. Bait demi baitnya dengan jelas menggambarkan pengorbanan besar para tenaga medis yang tengah berperang melawan pandemi Covid-19.

“Kau berkorban tanpa suara, demi senyum yang lain.” Demikian penggalan lirik dalam lagu tersebut.

Yessiel mengaku, ide menciptakan lagu tersebut mucul begitu saja. Waktu itu, dirinya dan Eka bersantai di rumah. Ya, seperti yang lain, sedang melaksanakan social distancing. Namun, tiba-tiba dia dibuat terenyuh ketika membaca kisah-kisah tenaga medis di media sosial.


“Aku tiba-tiba ngeide, yuk kita buat lagu untuk tenaga medis,” ujar perempuan yang akrab disapa El tersebut.

Awalnya, sang suami ragu atas ajakan itu. Alasannya, dia tak mau dinilai aji mumpung. Memanfaatkan kondisi pandemik ini untuk mencari ketenaran. Mengingat sudah ada beberapa kasus di mana muncul lagu Covid-19 dalam versi dangdut dan lainnya. “Aku pun gak mau begitu,” tutur El, menirukan sang suami.

Di tengah perang batin tersebut, muncul ide baru bahwa lagu yang dibuat nanti digunakan sebagai sarana untuk mengajak orang berdonasi. Donasi untuk tenaga kesehatan yang tengah kesulitan mendapat alat pelindung diri (APD) yang tiba-tiba langka dan harganya selangit.

Selain itu, hasil royalti dari platform musik akan turut disumbangkan untuk membeli APD ini. ”Ini juga jadi cara kami ngajakin donasi yang kita banget. Lewat lagu,” ungkap perempuan kelahiran Bogor, Jawa Barat.

Keduanya pun langsung bergegas menulis lagu berdurasi 2,36 menit itu. Semuanya berjalan mulus. Tak ada cekcok sama sekali antara mereka berdua. Baik soal aransemen maupun lirik.

Lagu selesai digarap dalam waktu satu jam. Lirik pun sama, hanya sekitar dua jam.

”Aku juga gak ngerti, lirik juga hanya menuangkan semua isi hati kami tentang perjuangan mereka yang benar-benar bekerja dengan hati. Sepertinya memang sudah rencana Tuhan lagu ini ada,” ungkap fans berat Taylor Swift itu.

Namun, untuk memperdalam lagi liriknya, keduanya mencoba berpikir dari sudut pandang para tenaga kesehatan. ”Yang mana mungkin mereka belum pulang, capek, dan sesak napas karena pakai masker seharian. Saya aja pakai masker baru sebentar udah nggak kuat,” sambungnya.

Begitu juga dengan proses rekaman dan pembuatan video. Eka yang kebetulan memiliki studio mini di kamar langsung memproses semuanya. El yang didapuk untuk menyanyikan lagu itu, hanya sekali take suara.

Rekaman video pun dilakukan tanpa berbelit. Hanya bermodal kamera ponsel. Semuanya selesai dalam kurun waktu tiga jam sebelum video akhirnya di-upload ke akun YouTube milik Eka pada 19 Maret 2020. Sekitar pukul 23.00 WIB.

”Syutingnya di kamar aja. Paling matiin lampu dan Eka yang syuting menggunakan handphone,” kenangnya, lantas tertawa.

Diakui, banyak harapan yang juga ingin mereka sampaikan melalui lagu yang telah dilihat lebih dari 584.609 kali. Bukan hanya rasa terima kasih yang terdalam untuk para pahlawan dalam perang melawan Covid-19 ini, atau ajakan donasi untuk mereka, tapi juga mengingatkan masyarakat agar bisa mematuhi imbauan untuk #dirumahaja. ”Sehingga perjuangan para tenaga medis ini tidak sia-sia,” kata El.

Dukungan untuk para tenaga medis dalam bentuk lain datang dari Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Asosiasi Printer Tridi Indonesia bekerja sama membuat gerakan nasional donasi alat pelindung diri (APD) face shield, untuk mencukupi kebutuhan rumah sakit di Indonesia.

Kepala Laboratorium Integrated Digital Design Departemen Desain Produk Djoko Kuswanto ST MBiotech mengatakan, ide tersebut bermula dari percakapan di grup WhatsApp Asosiasi Printer Tridi Indonesia.

Awalnya, seluruh anggota grup ingin membuat gerakan sosial yang dapat membantu dalam mengatasi Covid-19. Khususnya adalah APD untuk paramedis yang tengah berjuang di garda terdepan.

”Awalnya, kami masih bingung mau bikin pompa alat pernapasan, masker N95, atau face shield,” katanya.

 

Djoko menceritakan, kebetulan saat itu Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) meminta untuk dibuatkan face shield (alat pelindung wajah). Akhirnya, Asosiasi Printer Tridi Indonesia Jawa Timur membuat gerakan nasional donasi face shield.

Djoko pun membuat model face shield yang bisa membantu melindungi paramedis saat bertugas menangani pasien Covid-19. Model yang telah dibuat itu akan dikembangkan untuk produksi massal.

“Lalu, kami buka permintaan melalui Google Form. Syaratnya, permintaan itu harus resmi dengan kop surat dari lembaga atau rumah sakit,” imbuhnya.

Ternyata kebutuhan secara nasional sangat besar. Data yang dihimpun, kebutuhan face shield secara nasional sekitar 270 ribu. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, akhirnya dibagi per wilayah. “Saya memegang wilayah Indonesia Timur,” ujarnya.

Awalnya, pembuatan face shield hanya menggunakan 3D printer. Pembuatannya membutuhkan waktu dua jam untuk satu face shield. Akhirnya, dikembangkan dengan menggunakan mesin computer numerical control (CnC).

“Sabtu (21/3), kami beli bahan dan produksi. Ternyata lebih cepat,” katanya.

Hasil percobaan pembuatan face shield itu pun diunggah ke media sosial. Respons masyarakat begitu bagus. Hingga akhirnya ide tersebut didukung ITS.

 “Kebetulan ITS juga punya program donasi. Jadi, gerakan nasional ini juga menjadi program donasi ITS,” jelasnya.

Djoko menuturkan, rencana awal hanya memproduksi 500 face shield per hari. Ternyata, permintaan dari rumah sakit dan lembaga sangat besar. Kini, targetnya ditambah dalam seminggu 5.000 buah. Jadi, rata-rata per hari setidaknya 1.000 yang diproduksi.

“Ada banyak relawan yang ingin membantu memproduksi,” tuturnya.

Saat ini, yang mendaftar sebagai relawan sebanyak 40 orang. Akan ditambah lagi 20 orang dari badan eksekutif mahasiswa (BEM).”Namun, kami tetap memperhatikan keselamatan. Social distancing tetap diterapkan,” ujarnya. 

Hingga saat ini, sudah ada permintaan 7.000 face shield. Menyebar di seluruh wilayah Jawa Timur hingga Indonesia bagian timur. Face shield tersebut akan didistribusikan ke rumah sakit dan puskesmas atau lembaga yang telah mengirimkan permintaan resmi.

Gerakan nasional itu juga direspons positif oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. ITS dan Asosiasi Printer Tridi Indonesia diminta memproduksi face shield untuk kebutuhan Jatim. Sebab, saat ini rumah sakit dan puskesmas darurat APD.

“Jika bisa menggunakan mesin plong, face shield bisa diproduksi massal. Tinggal disesuaikan dengan desain yang sudah kami buat dan diduplikasi,” pungkasnya.

1 2

Editor :dar
Reporter : */c7/ce/ttg/jpg

You Might Also Like