Lina menjadi tahanan Polres Pulang Pisau setelah membunuh Halidi yang merupakan suaminya. (ART/KALTENG POS)


PULANG PISAU- Wajah Lina tampak tenang. Sepintas tak ada penyesalan. Ibu berusia 40 tahun itu dihadirkan dalam konferensi pers yang digelar Polres Pulang Pisau, Kamis (27/2). Ibu tiga anak itu ditahan polisi karena diduga membunuh suaminya sendiri, Halidi (40) di Desa Sei Pasanan, Kecamatan Kahayan Kuala, Minggu (23/2).

“Tindakan tersangka dipicu lantaran perilaku korban yang berubah belakangan hari. Rasa jengkel memuncak sehingga pelaku nekat menghabisi nyawa korban dengan cara menyayat leher sebanyak dua kali, menusuk perut, serta memotong kemaluan,” kata Kapolres Pulang Pisau AKBP Siswo Yuwono BPM.

Lina mengaku kesal. Sebagai istri, ia merasa tidak dihargai dan dinafkahi, baik secara lahir maupun batin. “Suami saya sejak 10 hari terakhir kerja tidak mau sama-sama lagi, begitu juga saat makan. Saat saya tanya apakah sedang sakit, dia bilang tidak. Saya bilang; kalau sakit, ya ke rumah sakit. Malah dia jawab; jangan banyak tanya, lebih baik kamu diam,” ujar Lina menirukan ucapan suaminya.

Puncak kekesalan tersangka terjadi pada Minggu pagi (23/2). Saat itu Lina berniat berangkat ke sawah. Ia pamitan kepada suaminya yang sedang berbaring di dalam rumah. Meski beberapa kali pamit, tapi tidak direspons oleh suaminya. “Sampai-sampai saat itu saya memanggil nama Halidi dengan nada tinggi, tapi dia tidak bangun juga,” ungkap Lina.

Saat melihat pisau, langsung terlintas dalam pikiran untuk membunuh. “Saya sayat lehernya dua kali, sedikit darahnya. Lalu saya tusuk perut suami saya, lalu saya congkel hingga keluar ususnya,” bebernya.

Ia mengaku, saat menyayat leher, suaminya tidak tidur. “Hanya saja dia seperti tidak sadar. Saat itu kepalanya mendongak ke atas. Jadi enak. Saat itu kakinya goyang-goyang,” ucap Lina.

Begitu juga, lanjut dia, saat dirinya menusuk perut korban, kakinya tetap goyang-goyang dan matanya terpejam. “Setelah 10 menit kemudian, dia menggelepar seperti ayam, saya diam dan melihat saja. Saat darahnya berhenti mengalir, saya bersihkan. Setelah orangnya diam, baru saya seret ke parit,” ungkapnya.

Belum puas, Lina kembali ke rumah untuk mengambil pisau. Dibukanya celana korban, lalu memotong alat kelamin. “Saat itu tidak ada rasa kasihan. Sekarang mau menyesal, kan sudah terjadi, mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Dikatehui Lina mengarungi bahtera rumah tangga bersama Halidi sejak 2001 lalu. Keduanya dikaruniai tiga orang anak. Dua anak meraka tinggal bersama neneknya, sedangkan satu anak lagi ikut bersama keluarga suami karena sedang menemuh pendidikan.

Untuk saat ini saya belum bisa bilang apa-apa kepada keluarga saya,” tutup Lina.

Kapolres Pulpis menegaskan kembali, setelah memastikan korban meninggal dunia, Lina menyeret ke belakang rumah sejauh 30 meter. Saat itu korban diletakkan di pinggir parit. Tersangka pun kembali masuk ke rumahnya untuk mengambil pisau yang digunakan untuk membunuh korban. Setelah mengambil pisau, tersangka membuka celana korban dan memotong alat kelaminnya. Selanjutnya dia membuang alat kelamin suaminya serta pisau ke parit,” ungkap Siswo.

Tersangka lalu membersihkan ceceran darah di rumah berukuran 4x5 meter itu. Setelah kejadian itu, tersangka memberitahukan kepada adiknya bahwa korban sedang melakukan ritual bedah diri.

“Karena keseharian korban terbilang aneh-aneh, keluarga pun percaya. Baru pada keesokan harinya korban tidak bergerak, pihak keluarga meminta pertolongan warga,” ucapnya.

 (art/ram/dar)

Editor :
Reporter :

You Might Also Like