Ilustrasi. (foto: net)


RISET kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi penyakit tidak menular jika dibandingkan dengan tahun 2013. Hal itu diungkapkan dokter spesialis penyakit dalam dr Abdul Hakim SpPD yang praktik di RS SMC Kabupaten Tasikmalaya.

Jenis penyakit tidak menular tersebut antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus dan hipertensi. Untuk penyakit ginjal kronis sendiri atau PGK di Indonesia penderitanya meningkat sebesar 3,8 persen, atau naik sebesar 1,8 persen bila dibandingkan dengan tahun 2013.

Dokter Abdul Hakim SpPD menjelaskan, Data Indonesia Renal Registry (IRR) menunjukkan adanya peningkatan sebesar 25 ribu orang penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah atau hemodialisis, yaitu dari sekitar 52 ribu orang pada tahun 2016 menjadi sebesar 77 ribu hingga tahun 2017. “Hal ini belum termasuk pasien ginjal yang belum mendapatkan akses pengobatan,” katanya.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menderita penyakit ginjal kronis atau PGK, diantaranya diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, kebiasaan merokok, kegemukan (obesitas), riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, kelainan struktuk ginjal serta usia lanjut.

“Khusus untuk hipertensi, terdapat beberapa fakta menarik bila dihubungkan dengan penyakit ginjal kronis yakni hipertensi merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis,” ujarnya kepada Radar, Pena (Jawa Pos Grup/Kaltengpos.co Grup) beberapa waktu lalu.

Kata dia, hipertensi yang berkepanjangan akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dalam tubuh, yang lebih lanjut akan mengurangi suplai darah ke organ-organ penting tubuh, salah satunya adalah ginjal.

Hipertensi akan menyebabkan kerusakan pada unit penyaringan terkecil dalam ginjal yang akan berdampak pada gangguan pembuangan limbah metabolisme dalam tubuh dan pengeluaran kelebihan cairan dalam tubuh.

Melihat fakta-fakta di atas, kata dia, pencegahan serta penanganan hipertensi menjadi hal yang penting untuk dapat mengurangi risiko komplikasi terhadap penyakit ginjal kronis.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah, dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat dirubah (non-modifiable factors), seperti usia, jenis kelamin, genetik dan ras.

Namun terdapat beberapa faktor yang dapat dirubah (modifiable factors) yang meliputi kelebihan berat badan (overweight), diet tinggi garam, diet rendah kalium, konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik.

“Hipertensi biasanya muncul pada usia antara 35 sampai dengan 50 pada pria, sedangkan pada wanita mulai muncul setelah menopouse,” kata dia.

Dia menjelaskan, individu yang sebelumnya tidak mempunyai hipertensi (tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg), sebaiknya memeriksakan tekanan darah minimal setiap 2 tahun sekali.

Individu dengan prehipertensi tekanan darah antara 120-139 / 80-89 mmHg sebaiknya memeriksakan tekanan darah minimal 1 tahun sekali sedangkan individu dengan tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memulai program pengobatan.

“Penderita hipertensi yang telah menjalani pengobatan disarankan untuk berobat secara rutin ke dokter dengan target tekanan darah yang disesuaikan dengan usia serta penyakit-penyakit lain yang ada pada pasien,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat pemahaman yang salah di masyarakat mengenai pengobatan hipertensi, dimana masyarakat mempunyai ketakutan jika mengkonsumsi obat antihipertensi dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan penyakit ginjal kronis.

“Hal ini tidaklah benar, faktanya adalah bila seorang penderita hipertensi tidak berobat rutin dan tekanan darahnya tidak terkontrol dengan baik, maka hal ini akan memperbesar risiko komplikasi berupa penyakit ginjal kronis,” ujarnya. (JPG/KPC)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like