Risna Rosman bersama aneka mainan yang diterima Sedekah Mainan untuk dibagikan kepada anak-anak yang membutuhkan. (Imam Husein/Jawa Pos)


Berbuat baik untuk sekitar bisa kecil, tapi bermanfaat. Begitu yang dikerjakan Risna Rosman. Bersama sang suami, Nawawi Badaruddin, dia mengembangkan Sedekah Mainan. Membagikan mainan ke anak-anak prasejahtera hingga pengidap kanker.

GERAKAN sosial Sedekah Mainan berawal saat Risna Rosman down. Gara-garanya, dia gagal melanjutkan kuliah jenjang S-2 ke kampus impiannya di University of Glasgow, Inggris. Salah satu lembaga beasiswa pendidikan mengumumkan bahwa dia tak lolos seleksi.

Saat itu, Risna gagal di tahap seleksi wawancara. Padahal, dia sudah mendapat letter of acceptance dari University of Glasgow. Rencananya, dia mengambil jurusan children literature. ”Itu terjadi pada 2016,” kenangnya saat ditemui Jawa Pos Senin sore (10/2) di kediamannya, kawasan Bekasi.

Selama sebulan setelah pengumuman tidak lolos beasiswa itu, dia berada di rumah. Dia merasa makin down saat berdiam diri di rumah. Risna sempat bergabung dengan komunitas mengajar anak jalanan. Lantas, dia mengajar anak-anak jalanan di sekitar Alun-Alun Bandung.

Di alun-alun itu, banyak anak berjualan tisu. Padahal, menurut dia, daripada berdagang, anak-anak itu mending belajar bahasa Inggris. “Banyak turis yang lewat, suatu saat mereka bisa jadi tour guide,” ungkap perempuan kelahiran Bekasi, 28 tahun lalu, itu.

Risna mengajar selama tiga bulan. Rupanya, anak-anak memberikan perhatian lebih saat Risna menggunakan teknik mendongeng ditemani boneka. Ketika diberi mainan, anak-anak makin semangat belajar. ”Alhasil, tercetuslah yang namanya Sedekah Mainan. Kenapa nggak buat saja ini Sedekah Mainan,” ceritanya.

Dia mengunggah secara resmi aktivitas Sedekah Mainan di media sosial pada Desember 2016. Sebetulnya, kata Risna, kegiatan Sedekah Mainan berjalan sejak Agustus tahun yang sama. Donatur pertama berasal dari Jombang, Jawa Timur. Sang donatur menghubungi ibu satu anak itu melalui pesan instan di Instagram. ”Dikirimkannya sekardus mainan ke alamat Sedekah Mainan,” kata alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu.

Risna menyadari bahwa gerakan sosial yang digagasnya berpotensi untuk terus dilakukan. Berkat kekuatan media sosial, gerakan tersebut semakin luas. Donatur serta penyalur dari berbagai daerah berdatangan. Kini, total ada 12 kota penyalur yang disebut sebagai drop point.

Sedekah Mainan juga mendapat dukungan dari pesohor. Di antaranya, Tasya Kamila, Ayu Laksmi, Prilly Latuconsina, Maria Selena (Puteri Indonesia 2011), dan Alya Nurshabrina (Miss Indonesia 2018).

Memasuki tahun keempat, gerakan itu sudah berhasil menyalurkan mainan ke komunitas-komunitas peduli anak. Misalnya, taman bacaan dan taman pendidikan anak. Selain itu, kata Risna, tim pernah menyalurkan mainan langsung ke anak-anak korban banjir di pengungsian dan pasien anak di rumah sakit.

Tempat-tempat tersebut tersebar di berbagai daerah. Ada yang di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Juga, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Flores Timur, hingga pulau-pulau timur Indonesia. Misalnya, Tual dan Dobo di Maluku. ”Ada juga di Agats dan Merauke di Papua,” papar Risna.

Selain menyalurkan mainan langsung ke anak-anak, Sedekah Mainan memiliki program Untuk Anakku Tercinta. Program tersebut bertujuan merekatkan hubungan orang tua dan anak melalui bantuan mainan yang dikemas seperti hadiah dari orang tua untuk anak mereka.

Risna mengungkapkan, program Untuk Anakku Tercinta itu terinspirasi dari seorang tukang bersih-bersih. ”Saya sempat nanya ke bapak-bapak yang bersihin kos-kosan, kapan kali terakhir anaknya dikasih hadiah? Ternyata nggak pernah sama sekali,” tuturnya.

Padahal, bagi Risna, anak-anak berhak bermain dengan mainan masing-masing. Mainan mempunyai energi positif bagi anak. ”Kami percaya bahwa lewat mainan, masa kecil anak-anak Indonesia semakin sempurna,” katanya.

Ditemani sejak Pacaran

Sejak Sedekah Mainan terbentuk, suami Risna, Nawawi Badaruddin, ikut berperan. Bahkan, keduanya sempat berpacaran sambil bersedekah mainan. ”Saya ngelihat istri ini cinta banget sama anak-anak. Waktu pertama ketemu di Kediri, saat les IELTS, istri suka ngajari anak-anak kampung berbahasa Inggris,” kenang Nawawi.

Di mata Nawawi, Risna adalah sosok perempuan yang kuat. Risna bahkan masih sibuk memisahkan mainan yang akan dikirimkan hingga larut malam. ”Tak jarang, kami keluarkan cost sendiri untuk biaya operasional,” imbuhnya.

Ekspresi anak-anak saat menerima hadiah menjadi hal yang paling mereka tunggu. Raut bahagia di wajah-wajah mungil itu memberikan kepuasan tak ternilai. Salah satunya, ketika keduanya berkunjung ke penampungan warga negara asing (WNA) pada 25 Januari lalu di Tebet, Jakarta Selatan. ”Jadi, di lokasi itu ada anak-anak pengungsi dari Asia Timur. Salah satunya, Pakistan,” tutur Risna. Meski ada kendala bahasa, binar bahagia terpancar ketika tangan mungil mereka menerima mainan.

12 Kota Drop Point

Ada 12 kota yang menjadi drop point Sedekah Mainan. Setiap kota memiliki PIC Sahabat Sedekah Mainan masing-masing. Meliputi Ambon, Denpasar, Bandung, Bekasi, Bogor, Boyolali, Grobogan, Karawang, Samarinda, Semarang, Sidoarjo, dan Tasikmalaya.

Momen Spesial Risna

Sore menjelang malam takbiran pada Lebaran, Juli 2017, Risna dan tim Sedekah Mainan mengunjungi anak-anak pejuang kanker di salah satu rumah sakit di Bandung. Risna menangis ketika memasuki setiap ruangan rumah sakit tersebut. Salah satunya saat di ruang isolasi. ’’Mereka (pejuang kanker, Red) begitu tangguh,’’ ujarnya.

Boneka dongeng yang dikirim ke Samarinda digunakan sebagai media terapi 12 anak korban pemerkosaan.

Ketika mendongeng di salah satu panti asuhan di Bandung, ada satu anak perempuan yang menangis mendengar dongeng itu. Kisah dongeng tentang perjuangan anak yang tinggal di rumah gubuk hampir roboh di tanah milik orang lain. Ketika dewasa, anak dalam cerita itu sukses. ’’Si anak kecil tersebut teringat dirinya dan adik-adiknya yang pernah tinggal di kandang kambing. Dia jadi termotivasi untuk bisa sukses seperti tokoh cerita yang saya bawakan,’’ ungkapnya.

Alasan Bersedekah Mainan

Mainan menjadi media pendidikan. Menurut Risna, secara tidak langsung, anak-anak akan mengeksplorasi imajinasi lewat mainan.

Saat imajinasi berkembang, Risna berharap suatu saat anak-anak bisa memberikan inovasi terbaru. ’’Anak-anak itu generasi penerus kita. Mainan bisa memberikan banyak inspirasi kepada mereka,’’ ujarnya.

Tidak banyak orang yang mampu membeli mainan untuk anak. Kebutuhan pangan menjadi prioritas. Namun, bukan berarti anak tidak berhak mendapatkan mainan. (JPC/KPC)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like