Tubuh Nesyamun saat akan dipindai. Hasilnya dipakai untuk menyusun detail tubuh dan membuat replika organ suara (The New York Times)


Nesyamun dikebumikan di Mesir 1069 sebelum Masehi. Tiga ribu tahun kemudian, suara pendeta Kuil Karnak di Kota Thebes, Mesir Kuno, tersebut kembali muncul. Suara itu datang dari replika organ suara yang diciptakan para ilmuwan.

Mochamad Salsabyl Adn, Jawa Pos

“Wahai Ibu Nut, sebarkan sayapmu di hadapan wajahku sehingga aku bisa menjadi bintang yang tak mengenal kehancuran; bintang yang tak mengenal kelelahan; dan tak meninggal lagi di pusara.”

Itu adalah doa yang biasa dibacakan pendeta Mesir Kuno. Kalimat tersebut mungkin juga pernah terucap dari mulut Nesyamun.

Nesyamun merupakan penulis sekaligus pendeta di kota yang kini disebut sebagai Luxor, Mesir. Dia mengabdi di era Ramses XI sebelum akhirnya meninggal pada usia sekitar 30 tahun. Saat napas terakhir, Nesyamun, seperti tokoh spiritual lainnya, dijadikan mumi, lalu dimakamkan di peti penuh dengan hieroglif.

Kebanyakan aksara kuno yang terukir di petinya mengutip Kitab Kematian. Namun, ada satu tulisan yang menonjol. Tulisan itu menunjukkan identitasnya: Nesyamun, suara sejati. Itu menunjukkan rasa hormat masyarakat Mesir terhadap jasanya yang melafalkan mantra atau menyanyikan puji-pujian.

Hal tersebut tentu membuat ilmuwan penasaran. Seberapa merdukah suara Nesyamun? Awal tahun ini, dunia akhirnya tahu. Sekelompok peneliti yang dipimpin David Howard, pakar ilmu suara di University of London, baru saja memublikasikan suara tersebut. “Yang jelas, dia tak bisa bicara saat ini,” ujar Howard kepada New York Times.

Ya, suara Nesyamun yang telah direplika sangat sederhana. Seperti suara kambing yang mengembik. Namun, publik sudah cukup puas dengan temuan itu. Mereka bisa menentukan warna suara alias timbre pendeta yang terhormat di masa kuno.

Ternyata, dia tak bersuara bas seperti Pendeta Tinggi Imhotep yang diperankan Arnold Vosloo dalam film The Mummy pada 1999. Suaranya mirip orang tua yang cempreng. “Yang paling penting, dia ingin suaranya bisa kekal. Keinginan tersebut sekarang terwujud,” ujar John Schofield, arkeolog dari University of York, kepada Washington Post. Schofield merupakan salah seorang anggota kelompok penelitian.

Nesyamun memang mumi yang spesial. Mayatnya diteliti sejak 1828. Saat kota di Inggris itu dibom, hanya Nesyamun yang selamat di antara tiga mumi yang disimpan Leeds City Museum. Yang lebih menakjubkan, kebanyakan organ Nesyamun masih utuh dan terawat.

Termasuk sebagian besar saluran vokal. Howard dkk menggunakan data 3D terkait tenggorokan yang diperoleh dari hasil CT Scans 2016. Dari data tersebut, mereka menciptakan replika dengan menggunakan printer tiga dimensi.

“Ini adalah bukti bagaimana bagusnya hasil yang diperoleh masyarakat kuno dengan teknik pembalsaman mereka,” ujar Joann Fletcher, pakar Mesir dari University of York.

Tentu saja, hal tersebut masih jauh dari membuat Nesyamun berbicara lagi. Kelompok peneliti itu tak berhasil menemukan data pita suara, posisi rahang, sampai bentuk lidah Nesyamun. Itu artinya, mereka belum bisa menentukan artikulasi sang pendeta.

Namun, Howard mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang mustahil. Di masa depan, timnya bisa menganalisis dan memperkirakan elemen-elemen yang hilang. “Lidah akan memberikan kemajuan yang banyak. Suatu hari, mungkin kami bisa menghasilkan kata dari suara tersebut,” ungkap Howard kepada CNN.

Harapannya, suara Nesyamun bakal meningkatkan antusiasme pengunjung museum. Sebab, selama ini pengunjung hanya mendapat sajian visual. “Suara jelas membawa perbedaan. Karena itu adalah sesuatu yang pribadi,” imbuh Schofield. (*/dos/jpc/kpc)

Loading...

You Might Also Like