EUCALYPTUS DEGLUPTA: Munadi menjelaskan pohon pelangi kepada Nazhabilla Putri Purnomo dan Maheswari Atiyah Purnomo. (Robertus Risky/Jawa Pos)


Tanaman yang bernama Latin Eucalyptus deglupta ini merupakan aset berharga Kota Pahlawan. Itu salah satu pohon langka yang dimiliki Surabaya.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGORSurabaya

Begitu memasuki Kebun Bibit Wonorejo, Rungkut, pengunjung langsung disuguhi pemandangan hijau. Aneka tanaman berjajar di kiri-kanan kebun menyambut siapa saja yang datang. Mulai tanaman pelindung, aneka semak, hingga tanaman yang bernilai estetis.

Salah satu tanaman itu ialah pohon pelangi. Posisinya tidak jauh dari pintu masuk Kebun Bibit. Saat menuju ke tengah kebun, mata pengunjung sudah bisa melihatnya. Hanya, tak semua pengunjung menyadari keberadaan pohon setinggi 15 meter tersebut.

Umumnya, warga yang datang ke Kebun Bibit langsung menyerbu fasilitas kebun. Bagi mereka yang membawa anak, seluncuran atau jembatan halang rintang jadi favorit. Sedikit sekali yang menyadari keberadaannya “Padahal, posisi pohon itu berada di tempat terbuka. Sangat dekat dengan jalur pejalan kaki,” ucap staf Kebun Bibit Wonorejo Munadi.

Saat dijumpai belum lama ini, dia tengah sibuk merawat tanaman tersebut. “Meskipun banyak warga yang hanya lewat. Ada juga warga yang bertanya tentang pohon ini,” jelasnya. Di antaranya, Heri Purnomo. Pria yang berdomisili di Kedungdoro, Tegalsari, itu penasaran dengan pohon yang masuk keluarga eukaliptus tersebut.

“Saya membawa turut istri dan dua anak saya. Pak Munadi tadi menjelaskan ke mereka tentang tanaman tersebut,” ujarnya.

Kedua anak Heri yang bernama Nazhabilla Putri Purnomo dan Maheswari Atiyah Purnomo tampak malu-malu saat Munadi memulai penjelasan. “Adik-adik, ini namanya pohon pelangi ya. Pohonnya warna-warni,” ungkap dia kepada mereka. Nazhabilla lantas bertanya warna apa saja yang dimiliki pohon itu. Munadi menyebut aneka warna. Mulai merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga, hingga cokelat. “Karena itulah, pohon ini dinamai pelangi,” ungkap Munadi disambut anggukan kedua anak.

Dia menuturkan, pohon yang berdiameter 32 sentimeter tersebut memang unik. Warnanya indah. Kehadiran warna itu, kata dia, disebabkan getah yang keluar dari dalam pohon dan mengenai kulit pohon di bagian lain. Sehingga terbentuk sebuah lapisan warna. “Awalnya, yang muncul biru. Setelah itu, diikuti warna lain,” jelasnya.

Proses situ terjadi secara beraturan dan sepanjang musim. “Sehingga para pengunjung bisa menikmati keindahannya kapan pun,” tutur Munadi sembari menunjukkan kulit batang pohon yang mengelupas. Karena itulah, pohon pelangi tersebut mendapatkan perhatian serius dari Pemkot Surabaya.

“Ini pohon langka. Hanya satu-satunya. Harus kami rawat total,” tambah Kasi Ruang Terbuka Hijau DKRTH Surabaya Rochim Yuliadi.

Dia menuturkan, pohon itu sebenarnya dibeli tujuh tahun lalu. Tujuannya, ditanam di jalur pedestrian kota. Namun, setelah dianalisis, pohon pelangi tidak cocok ditanam di jalur pedestrian. “Pohon ini tidak berbunga. Sedangkan untuk jalur pedestrian harus berbunga. Masyarakat kota juga lebih senang dengan yang berbunga. Itu terbukti dengan mekarnya tabebuya,” ujar dia.

Selain itu, pohon pelangi sangat mahal. Rochim tidak mau menyebut berapa harganya. “Atas pertimbangan itulah, pohon ini kami jadikan koleksi di Kebun Bibit saja,” tutur dia. Hingga saat ini, tidak terjadi kendala dalam proses tumbuh kembang pohon yang memiliki nama lain Mindanao Gum tersebut.

“Tanaman ini memang nggak rewel. Perawatannya mudah,” ungkap Rochim. Selain menyiraminya sekali sehari, petugas memberi pupuk gandasil dan kompos.

Lantas, apakah ada penambahan koleksi berikutnya? Dia menuturkan belum dapat arahan dari Wali Kota Tri Rismaharini. “Pernah saya ajukan. Tapi, Bu Wali mengarahkan saya untuk memperbanyak tanaman berbunga,” ungkap Rochim. Risma berpesan agar pohon pelangi itu dibiakkan di Kebun Bibit saja. “Sambil menunggu waktu untuk melakukan proses penyetekan,” ungkapnya.

Rochim mengakui belum pernah menyetek pohon pelangi tersebut. “Saya belum bisa memperkirakan. Dari segi waktu dan tekniknya,” ujarnya.

Menurut dia, penyetekan pohon pelangi dengan pohon lainnya berbeda. “Pohon yang lain, kami sudah tahu tekniknya. Sudah pengalaman juga. Yang ini belum,” ungkap Rochim. Kendati begitu, uji coba penyetekan akan dilakukan. (*)

 

Editor :
Reporter :

You Might Also Like