Ilustrasi seorang anak memilih menutup telinga ketika orangtuanya bertengkar. Istimewa/pontianakpost


KONFLIK merupakan hal biasa dalam kehidupan pernikahan. Bahkan, bisa menyulut pertengkaran. Jika tak mampu menahan emosi, pertengkaran bisa terjadi di mana saja. Bahkan, di hadapan anak.  Tanpa disadari, hal tersebut berdampak buruk bagi perkembangan buah hati.

Pertengkaran di hadapan buah hati bisa terjadi tanpa disengaja. Psikolog Yeni Sukarini, S.Psi mengatakan bukan masalah besar ketika buah hati hanya melihat sekali pertengkaran orang tuanya. Anak bisa saja menoleransi hal tersebut.

“Terlebih jika setelah bertengkar orang tua bisa menormalkan kembali suasana yang ada dan memberikan pelajaran bagi anak,” ujarnya.

Namun, menjadi masalah jika intensitas pertengkaran yang terjadi tergolong sering. Apalagi orang tua tidak memberikan penjelasan pascapertengkaran tersebut kepada anak.

“Hal ini tentu dapat menimbulkan dampak buruk bagi anak,” kata Yeni.

Menurut Yeni, dampak pertama yakni perkembangan anak bisa terhambat dan berdampak pada usia berikutnya, khususnya saat remaja atau dewasa. Selain itu, anak akan merasa bingung harus memilih sosok diantara dua orang tua. Kedua, bisa saja anak membenci salah satu atau kedua orang tuanya. “Misalnya, sang ayah sering memukul ibunya. Padahal anak diajarkan untuk tidak boleh melakukan hal itu,” ungkap Yeni.

Yani menuturkan orang tua harus ingat bahwa anak kecil hanya tahu seseorang yang melakukan hal tidak baik adalah termasuk orang jahat.

“Bisa saja anak beranggapan apa yang dilakukan ayahnya membuat sosok yang dicintai dan dihormatinya terlihat seperti orang jahat,” tutur Yeni.

Ketiga, adu pendapat dan pertengkaran yang terus menerus membuat anak tidak akan betah berada di rumah. Yeni mengungkapkan situasi yang ada membuat anak merasa rumah bukan tempat yang nyaman untuknya. Dia akan memilih berada di rumah keluarga lainnya.

“Misalnya, rumah neneknya,” kata Yeni.

Dampak buruk keempat, lanjut Yeni, karena merasa rumah bukanlah tempat yang nyaman, anak memilih mencari kesenangan di luar. Bahkan, bisa saja terjadi kenakalan pada anak.

“Anak akan memuaskan apa yang menjadi keinginannya di luar. Bisa saja dia menjadi bersikap arogan, melakukan pertengkaran, mencoba merokok atau lainnya,” jelas Yeni.

Kelima, menjadikan anak depresi. Dikarenakan anak terus melihat pertengkaran yang terjadi. Perkembangan otak menjadi tidak sehat. Terlebih jika tidak hanya pertengkaran saja di dalamnya, tetapi juga ada kekerasan. Anak akan merasa cemas. Membuat dirinya merasa tidak percaya diri saat berada di lingkungan sekitarnya.

“Adapula beberapa anak yang melihat orang tua bertengkar menjadi sakit fisik dan depresi,” tambahnya.

Yeni menjelaskan bentuk depresi yang dialami anak bermacam-macam. Bisa saja anak tanpa sengaja melihat video anak lain yang memiliki pengalaman sama di internet.

“Karena tidak bisa menahan, dia pun memilih untuk melakukan hal yang sama, yakni bunuh diri. Mungkin anak menganggap apa yang dirasakan dan dialaminya sudah terlalu berat. Sehingga, memilih menyelesaikan masalah dengan mengakhiri hidupnya (bunuh diri),” jelas Yeni.

Yeni menambahkan dampak lainnya anak menjadi tidak percaya pada lawan jenis dan pernikahan. Anak akan berpikir bahwa ternyata menikah tidak menyenangkan. Selain itu, bisa juga pada saat berumah tangga anak menjadi sosok pribadi yang sama, seperti orang tuanya.

“Tidak menutup kemungkinan, semakin lama bisa juga berperilaku ganda,” pungkasnya. (ghe/pontianakpost/ila)

123

Editor :
Reporter :