Ilustrasi Serangan Jantung. Foto Pixabay


Serangan jantung masih menjadi momok di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Seseorang yang telah mengalami serangan jantung tentu tidak menginginkan serangan lainnya terjadi. Di sisi lain, Anda perlu tahu proses penyembuhan pasca serangan jantung.

Dalam dunia medis, serangan jantung disebut dengan sindrom koroner akut. Pembuluh darah itu bertugas memberi asupan oksigen di dalam jantung untuk tetap dalam kondisi baik.

"Sindrom koroner akut adalah keadaan di mana terjadi penyumbatan di pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung. Sumbatan di pembuluh darah disebabkan oleh beberapa faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, merokok, obesitas, dan kelainan lipid darah. Aliran darah yang tidak optimal ke jantung akan menyebabkan kerusakan jaringan jantung," ujar dr. Melyarna Putri dari KlikDokter.

Gejala serangan jantung umumnya adalah seperti keluhan nyeri dada kiri yang menjalar ke tangan kiri, sesak napas, keringat dingin, dan perasaan seperti tercekik. Kondisi ini memerlukan penanganan cepat, terlambatnya penanganan dapat menyebabkan kematian.

Proses penyembuhan pasca serangan jantung

Proses penyembuhan setelah serangan jantung dinamakan rehabilitasi jantung. Rehabilitasi jantung bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan, meningkatkan kualitas hidup agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari, meningkatkan kepercayaan diri, dan mencegah serangan jantung berulang.

Rehabilitasi jantung ini tidak hanya untuk pasien dengan penyakit jantung koroner, tapi juga diperlukan oleh pasien dengan gagal jantung dan pascaoperasi jantung.

Segera setelah Anda dirawat akibat penyakit jantung, rehabilitasi dapat dilakukan. Rehabilitasi ini tidak hanya dilakukan oleh pasien, tetapi merupakan kerja sama tim antara dokter spesialis jantung, dokter spesialis gizi, terapis, perawat, pasien, dan keluarga atau teman terdekat.

Rehabilitasi jantung terdiri dari beberapa fase, yakni sebagai berikut ini.

Fase 1

Sejak dirawat di rumah sakit, Anda bisa melakukan aktivitas ringan seperti bangun dari tempat tidur, duduk, berjalan, atau melakukan perawatan diri sendiri. Bisa dibilang, jangan sampai melakukan aktivitas berat.

Fase 2

Mengikuti program rehabilitasi jantung, seperti berikut ini.

1. Pemeriksaan medis

Meliputi pemeriksaan berat badan atau indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, dan pemeriksaan laboratorium (gula darah, kolesterol). Ini bertujuan untuk menentukan jenis rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi Anda.

2. Olahraga

Anda bisa berolahraga 3-4 kali dalam seminggu dan sesuaikan jenis olahraganya dengan kondisi tubuh. Anda akan diajari bagaimana melakukan pemanasan, peregangan, dan teknik olahraga yang benar.

Setelah siap, Anda disarankan melakukan olahraga yang memacu aktivitas jantung seperti jalan kaki, bersepeda. Olahraga 30 menit per hari sudah lebih dari cukup.

3. Nutrisi

Anda harus berkonsultasi dengan dokter gizi soal ini. Karena dokter gizi dapat membuatkan menu makanan sehat untuk menurunkan risiko serangan jantung berikutnya.

4. Dukungan emosional

Seseorang yang pernah mengalami serangan jantung sangat berpeluang mengalami depresi atau perasaan cemas berlebihan. Bila hal ini terjadi, selain pemberian terapi oleh dokter, diperlukan juga dukungan emosional dari orang terdekat.

5. Edukasi dan mengubah gaya hidup

Pasien yang setelah terkena serangan jantung biasanya akan diberikan informasi mengenai penyakitnya, pengobatan, kemungkinan komplikasi, dan tanda bahaya serangan jantung.

Selain itu, diperlukan perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, menghindari sedentary lifestyle dengan lebih banyak bergerak, menghindari makanan cepat saji, dan mengonsumsi obat-obatan secara teratur.

Fase 3

Menerapkan seluruh program fase 2 di rumah dan menjadikannya sebagai gaya hidup Anda yang baru.

Fase 4

Setelah konsisten menyelesaikan seluruh program rehabilitasi, Anda siap untuk menjalani hidup sehat dan lebih percaya diri.

Itu adalah fase-fase penyembuhan pasca erangan jantung. Setiap fase perlu dilakukan agar masalah serangan jantung benar-benar bisa sembuh.(RPA/AYU/klikdokter)

Editor :
Reporter :