TEKAN DEFISIT: Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang (kanan) meresmikan pabrik baru milik PT Chandra Asri di Cilegon, Banten, Jumat (6/12) (Biro Pers Setneg/Laily Rachev)


Industri petrokimia menjadi salah satu penyebab tekornya neraca perdagangan Indonesia. Pemerintah pun mendorong industri petrokimia terus berkembang dan bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Itulah yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat meresmikan pabrik baru PT Chandra Asri Petrochemical di Kota Cilegon, Banten, kemarin (6/12).

Pabrik tersebut memproduksi polietilena, bahan baku untuk produk pendukung infrastruktur, dan produk kebutuhan keseharian. Jokowi menyatakan, berdasar data pemerintah, kebutuhan polietilena sebagai bahan baku industri dalam negeri mencapai 2,3 juta ton per tahun. Kapasitas produksi nasional untuk bahan baku tersebut baru mencapai 780 ribu ton. ’’Artinya, kita masih impor 1,52 juta ton,’’ ungkapnya.

Jokowi memaparkan, neraca perdagangan ekspor dan impor untuk seluruh bahan kimia mengalami defisit Rp 193 triliun. Nilai ekspornya mencapai Rp 124 triliun dan impor Rp 317 triliun. Menurut Jokowi, defisit kebutuhan tersebut merupakan peluang bagi industri di dalam negeri. Dia menegaskan bahwa pemerintah siap memberikan insentif berupa tax holiday bagi pengusaha yang berinvestasi di sektor tersebut. ’’Jangan berikan peluang-peluang seperti ini ke negara lain dong. Kalau kita bisa membuat sendiri, kenapa harus impor?’’ katanya.

Jokowi mengapresiasi langkah PT Chandra Asri yang terus meningkatkan produksi. Mantan wali kota Solo itu menargetkan Indonesia bisa bebas dari jerat impor produk petrokimia pada 2024. ’’Feeling saya, kita gak impor bahan-bahan petrokimia 4 tahun sampai 5 tahun lagi,’’ tuturnya.

Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra menjelaskan, pabrik baru berkapasitas 400 ribu ton per tahun itu dibangun dengan nilai investasi USD 380 juta atau setara Rp 5,3 triliun. Dengan pabrik baru, kapasitas produksi perusahaan meningkat menjadi 736 ribu ton per tahun. Dia memastikan hasil produksi pabrik bakal digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional sebagai produk substitusi impor. Dia memperkirakan dapat mengurangi defisit perdagangan dan menghemat devisa hingga Rp 8 triliun.

Erwin menambahkan, pihaknya akan kembali berinvestasi untuk mengembangkan kompleks pabrik petrokimia kedua. Nilai investasinya mencapai Rp 60 triliun hingga Rp 80 triliun dan pembangunan itu diprediksi tuntas dalam empat tahun. ’’Kami berharap bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,’’ tuturnya.

Selama pembangunan berlangsung, Chandra Asri bakal menyerap sekitar 25 ribu tenaga kerja. Mayoritas adalah tenaga kerja ahli seperti engineer. Selain investasi pada kompleks kedua ini, sejak 2005 sampai 2019, Chandra Asri merealisasikan investasi Rp 28 triliun dengan berbagai kegiatan ekspansi kapasitas, debottlenecking, dan pembangunan pabrik baru.(jpc)

 

1

Editor :
Reporter :