Rektor UPR, Dr Andrie Elia Embang


PALANGKA RAYA-Universitas Palangka Raya (UPR) terus menata diri. Di bawah kepemimpinan rektor Dr Andrie Elia Embang, universitas terbesar di Bumi Tambun Bungai ini berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat, daerah, maupun masyarakat.

Untuk itu, Andrie Elia Embang yang dibantu empat wakil rektor, bersama sejumlah staf ahli, perangkat pimpinan fakultas dan program studi, serta seluruh civitas akademika berjibaku untuk meningkatkan kualitas lembaga pada semua bidang. Terutama puluhan ribu mahasiswa yang tengah mengenyam pendidikan di lembaga itu.

“Maksudnya supaya alumni UPR kelak bisa bersaing di dunia kerja. Bahkan mereka harus mampu bersaing dengan kampus-kampus lain di tingkat regional, nasional, hingga internasional,” kata Andrie saat menerima kunjungan rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalteng, Jumat (6/12).

Bagaimana caranya? Alumnus program doktoral Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) itu memastikan bahwa prioritasnya adalah pada peningkatan akreditasi kampus, akreditasi delapan (8) fakultas, serta 55 program studi. Apalagi beberapa di antaranya masih pada level C. Bahkan sebelumnya ada yang sudah kedaluwarsa.

Akreditasi adalah penilaian terhadap kelayakan dan pemeringkatan suatu program studi atau jurusan yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) dan digunakan sebagai pengakuan dari badan atau instansi yang lain.

“Kami terus tingkatkan. Jika tidak, mahasiswa dan alumni akan rugi, tidak bisa bersaing. Apalagi belakangan ini akreditasi juga menentukan saat penerimaan ASN dan karyawan. Ini tanggung jawab moril kami. Bukan hanya untuk kampus, tapi untuk Kalteng pada umumnya,” lanjutnya berapi-api.

Untuk itu, beberapa program kampus yang tidak berjalan maksimal, Andrie sangat menaruh perhatian. Bahkan jika kurangnya dukungan dari pusat untuk kemajuan UPR, Andrie mengaku terpaksa harus gebrak meja di Jakarta. Sebagai contoh, soal kebijakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dan penerimaan mahasiswa jalur mandiri.

“Perjuangan kami sampai terpaksa negah meja (gebrak meja, red) di kementerian supaya pendidikan di UPR berjalan maksimal demi kepentingan masyarakat dan Kalteng umumnya,” lanjut pria yang juga menjabat ketua harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng ini.

Terbukti, dalam setahun kepemimpinannya, UPR secara umum naik peringkat dan menempati urutan 55 dari 4.714 perguruan tinggi (PT) se-Indonesia. Hal itu berdasarkan penilaian dari Webomatrics. Webomatrics adalah sebuah situs yang secara independen menilai ranking sebuah universitas di seluruh dunia.

Bahkan UPR sudah menyiapkan 4.500 slot untuk penerimaan dari berbagai jalur. Termasuk jalur mandiri yang sebelumnya hanya menyiapkan 10-20 persen untuk pelamar asal Kalteng, kini sudah mendapat jatah sekitar 40 persen. “Khusus fakultas kedokteran yang sebelumnya diterima 50, sekarang bisa 100. Semua itu untuk kemajuan dan masa depan Kalteng,” pungkasnya. (ron/ce/ram)

Loading...

You Might Also Like