Puput (kiri) mencium sang ibu, Wulan, saat menghadiri upacara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Kantor Dinas Sosial Kalteng, Jumat (6/12). (ANISA/KALTENG POS)


Terlahir menjadi penyandang disabilitas, bukan berarti statusnya dibeda-bedakan. Meski terkadang kaum disabilitas terlihat berbeda, mereka juga memiliki keunggulan layaknya manusia normal pada umumnya.

 

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

SIAPA yang tidak bangga memiliki buah hati yang membanggakan. Siapa yang tidak bahagia melihat anaknya sukses? Tentunya semua orang tua menginginkan buah hati tumbuh menjadi sosok yang membanggakan, bukan hanya untuk keluarga, tapi juga menjadi kebanggaan orang banyak.

Faranisa Puput Citra merupakan difabel yang masih berusia 15 tahun. Meski usianya terbilang muda, tapi ia telah mampu mengharumkan nama Kalteng di tingkat nasional. Puput --panggilan akrabnya-- pada Agustus lalu berhasil menyabet medali emas tingkat nasional. Ia pun dipercayakan untuk mewakili Indonesia untuk kejuaraan internasional yang akan digelar di Jerman. Kemungkinan akan berlangsung pada 2020 mendatang.

Sebagai tunagrahita bukan berarti ia tak bisa meraih kesuksesan. Kemampuannya dalam berolahraga ternyata menjadi keistimewaannya. Puput terkenal jago di cabang olahraga (cabor) boccia. Cabor ini merupakan olahraga ketepatan yang didesain untuk penyandang disabilitas celebral palsy.

“Nama saya Puput, rumah saya di Jalan Kencana I, Rajawali, Kota Palangka Raya,” ucapnya penuh semangat menjawab pertanyaan dari beberapa awak media.

Puput terkenal sebagai difabel yang periang. Ia memiliki cita-cita dan harapan ke depan. Kekurangan yang dimilikinya tak membuatnya minder.

“Puput kelas 2 SMP di SLBN 2 Palangka Raya. Puput suka main play station,” jawabnya dengan tertawa.

Gadis kelahiran 8 September 2004 ini memiliki cita-cita layaknya anak-anak pada umumnya. Ia (puput, red) ingin menjadi polisi seperti kakaknya.

“Cita-cita ingin menjadi polisi seperti abang, karena jadi polisi itu cakep,” ucapnya lagi.

Puput juga bercerita bahwa ia pernah menyabet medali emas dalam pertandingan bola boccia tingkat nasional. “Alhamdulillah, Puput hebat. Semoga dapat uang yang banyak buat beli mobil sport,” katanya.

Sementara, sebagai orang tua, Roro Candra Wulan Setyowati Marheni tidak merasa kesulitan selama 15 tahun merawat putri kesayangannya itu. Sejak lahir hingga saat ini, Puput tumbuh menjadi putri yang pintar.

“Saya tidak pernah membedakan antara kedua anak saya. Bagi saya, Puput sama saja dengan yang lainnya, dia pintar,” kata Wulan saat dibincangi Kalteng Pos.

“Puput sayang mama,” tiba-tiba Puput mencium pipi kanan ibunya. Seolah-olah membenarkan yang dikatakan ibunya, sekaligus membuktikan kasih sayang ibunya tidak hanya dikatakan kepada media, tetapi memang ia (Puput, red) rasakan setiap hari.

Sungguh momen yang mengharukan. Tak hanya sekali. Beberapa kali Puput mencium ibunya di tengah-tengah perbincangan dengan media.

Pada dasarnya Wulan sudah mengetahui kondisi Puput selama putrinya masih di dalam kandungan. Berawal dari pendarahan yang dialami Wulan saat mengandung Puput. Dua kali masuk rumah sakit (RS) demi mencoba mempertahankan kandungannya itu, meskipun ia sebenarnya tahu kondisi janin yang dikandungnya.

“Kami sudah dua kali mencoba mempertahankan kandungan agar janin kami tetap lahir. Saat kandungan berusia tujuh bulan, berat Puput sudah mencapai 3,5 kilogram. Karena itu dokter terpaksa melakukan operasi sesar,” beber Wulan.

Ditambahkan Wulan, ia pernah menyekolahkan putrinya itu di sekolah umum. Akan tetapi, para guru mengaku kewalahan mendidik Puput. Semenjak dipindahkan ke SLBN 2 Palangka Raya, pendidikan Puput berjalan lancar. Segala kebutuhan putrinya terpenuhi di sekolah itu. Sebagai contoh, sekolah menyediakan fasilitas latihan untuk Puput jelang lomba boccia di Jerman tahun depan.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kalteng Suhaemi mengaku, sebanyak 2.822 difabel yang sudah di-input. Sementara, 7.730 belum di-input. Selama ini, lanjutnya, pihaknya sudah melakukan berbagai pembinaan kepada difabel yang dinilai masih memiliki kemampuan untuk mengembangkan bakat.

“Bagi difabel yang masih memiliki kemampuan bekerja, diberikan modal usaha ekonomi produktif (UEP). Terkecuali bagi difabel total, dibantu secara keseluruhan,” pungkasnya. (abw/ce/ram)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like