Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjawab wartawan usai mengikuti sidang kabinet paripurna, di Istana Kepresidenan Bogor, Jabar beberapa waktu lalu.


JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) meminta, Lembaga Litbang tidak hanya dalam Pusat Unggulan Iptek (PUI). Namun, PUI naik kelas menjadi Sains Techno Park (STP) agar mampu bersaing di level internasional.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, hingga saat ini daya saing Indonesia masih rendah dan harus ditingkatkan.

“Untuk Pusat Unggulan Ilmiah tidak boleh cukup sampai menjadi PUI saja, tetapi harus naik kelas menjadi STP. Harus semakin giat melakukan inovasi dan melahirkan produk inovasi yang bisa meningkatkan daya saing,” kata Bambang, Selasa (3/12).

Data The Global Competitiveness Report tahun 2019 menyebutkan, daya saing Indonesia masih berada di peringkat 50 dari 141 negara. Salah satu komponen dari pilar kapabilitas inovasi untuk mendukung daya saing adalah kualitas/keunggulan lembaga litbang (research institution prominence).

“Peningkatan kualitas lembaga litbang sangat penting, sehingga bisa menghasilkan produk hasil litbang yang dapat dikomersialisasikan dan meningkatkan daya saing Indonesia,” ujarnya.

Direktur Lembaga Litbang Ristekdikti Kemal Prihatman menyebut, jumlah peneliti di Indonesia masih sedikit. Menrutna, hal itu menjadi tantangan bagi lembaga penelitian.

“Secara kelembagaan, bagaimana mereka melakukan sinergisitas internal dulu. Jadi bagaimana memanajemen lembaga itu. Bukan berarti mereka tidak mampu, tapi tidak optimal,” kata Kemal.

Menurut Kemal, lembaga penelitian harus mampu mengkoordinasikan seluruh potensi peneliti menjadi satu kesatuan. Di sisi lain, ia juga mengeluhkan anggaran yang tersebar di beberapa institusi.

“Dengan program sinergisitas, saya berharap bisa ketahuan ada sesuatu yang bisa untuk kerja sama. Itu artinya open colaboration. Sinergisitas membuka kesempatan untuk akses pakar atau memperkuat output,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Kemal, Kemenristek ingin lembaga penelitian di Indonesia berstatus pusat unggulan iptek (PUI). Ia menyebut, ada ratusan lembaga yang bakal dibina demi predikat itu.

“Nanti dibina dan lakukan pendekatan. Jumlahnya masih banyak, total dari pemerintah saja ada 370an. Belum termasuk perguruan tinggi, badan usaha. Kira-kira ada 700-an lah,” tuturnya.

“Pembinaan menyasar kapasitas lembaga dan kecepatan penelitian. Semua ada prosesnya. Kita berikan pendampingan. Hampir 400 pakar kita gunakan untuk pendampingan,” imbuhnya.

Berikut 18 penelitian yang dukukuhkan Kemenristek dengan mendapatkan status PUI:

1. Pengelolaan tanah presisi, oleh Balai Penelitian Tanah.

2. Pertanahan perkebunan, oleh Balai Penelitian Tanah.

3. Buah tropika, oleh Balai Penelitian Tanah.

4. Perbenihan tanaman hutan, oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

5. Mitigasi bencana berbasis daerah aliran sungai, oleh KLHK.

6. Teknologi roket, oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

7. Layanan informasi dan prediksi cuaca antariksa, oleh LAPAN.

8. Pengelolaan ekosistem danau, oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

9. Energi baru dan terbarukan untuk daerah terpencil, oleh LIPI.

10. Kesehatan lingkungan, oleh LIPI.

11. Teknologi pengelolaan dan pemurnian mineral, oleh LIPI.

12. Bioteknologi peternakan sapi potong dan sapi perah, oleh LIPI.

13. Teknologi radar, oleh LIPI.

14. Penelitian dan pengembangam vektor dan zoonosis, Kementrian Kesehatan.

15. Budidaya ikan hias oleh, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

16. Sistem prediksi kelautan, oleh KKP.

17. Pengelolaan perikanan perairan umu, oleh KKP.

18. Teknologi biometrik oleh, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

(der/fin/kpc)


Loading...

You Might Also Like