Terdakwa Sukirno, ketika duduk di kursi pemohon Pengadilan Tipikor Palangka Raya, Senin (2/12). (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA-Terpidana kasus korupsi pembangunan Pasar Pelita Puruk Cahu, Sukirno Prasetyo akhirnya dapat menghadiri sidang permohonan peninjauan kembali (PK) kasus korupsi yang menjeratnya di Pengadilan Tipikor, Palangka Raya, Senin (2/12). Sukirno terpidana yang telah divonis tujuh tahun penjara, kini juga berstatus terdakwa atas korupsi kasus pembangunan pasar dan di tahan di Lapas Klas IIA Banjarmasin.

Sidang PK diketuai majelis hakim Mahfudin dengan anggota Rajali, dan Anuar S Siregar. Pihak jaksa penuntut Umum Kejari Murung Raya, langsung dipimpin Kajari Murung Raya Robert P Sitinjak, selaku pihak termohon dalam perkara tersebut.

Dalam Sidang yang hanya berlangsung kurang dari lebih 45 Menit tersebut, majelis hakim meminta kepada  Sukirno selaku pemohon untuk melengkapi dan menyempurnakan dokumen alat bukti serta materi permohonan PK yang diajukannya di dalam persidangan nanti.

Ketua Majelis hakim mahfudin kemudian memutuskan menunda sidang sementara dan akan melanjutkannya kembali dua minggu mendatang.

Kajari Murung Raya Robert P Sitinjak menyatakan dirinya sangat kecewa dan marah dengan proses PK yang dilakukan terdakwa Sukirno.

Saya melihat bahwa terdakwa ini sengaja melecehkan dan mempermainkan hukum dan tidak menyadari perbuatannya yang dilakukannya, seru Robert.

Menurutnya, salah satu bukti bahwa Sukirno tidak menyadari perbuatannya adalah dengan melakukan kembali tindak korupsi pembangunan pasar di Kotabaru, Kalsel.

Dia mengulang melakukan tindakan korupsi pasar itu saat dia menjadi buronan Kejari Murung raya untuk pembangunan Pasar Pelita, itulah bukti dia tidak sadar dengan perbuatanya boleh di bilang dia ini residivis koruptor,kata Robert lagi.

Menyangkut keberatan Sukirno terhadap hukuman denda membayar uang pengganti kerugian negara yang dijatuhkan oleh hakim Mahkamah Agung dalam vonis kasasi, Robert berpendapat hal tersebut sudah sangat tepat.

Dia menerangkan bahwa dalam kasus pidana korupsi pembangunan Pasar Pelita, terdapat dua berkas, pertama berkas Sukirno disatukan dengan Fakhrudin yang sama dihukum lima tahun, sedangkan berkas kedua adalah terdakwa Fakhrur Rozi bersama mantan kepala Disperindag Agus Sumadi.

“Dalam kasus ini uang pengganti kerugian negara yang ditanggung Sukirno sebesar Rp500 juta sama sekali belum dibayar dan sekarang dia mencoba mengaburkan kerugian negara yang dibayarkan terdakwa Fakhrur Rozi,sebutnya.

Robert sempat menjelaskan bahwa pihak Kejari Murung Raya masih terus mengejar harta kekayaan dan aset dari para terpidana kasus korupsi tersebut. Kami terus mengejar aset yang dimiliki para terpidana tersebut, karena kami yakin ada usaha pemindahan aset ke luar provinsi,ungkap Robert.

Sementara, Sukirno ketika ditanya terkait permohonan PK menerangkan, bahwa dia ingin meminta keadilan dari majelis hakim.

Saya merasa diperlakukan tidak adil karena Agus Sumadi untuk kasus yang sama di sidang pertama dan proses banding juga dinyatakan bebas, makanya saya ajukan PK ini,” kata Sukirno.

Selain itu dia mengajukan PK dikarenakan adanya beban mengganti kerugian negara yang sama sebesar Rp1,1  miliar yang dibebankan kepadanya saat putusan kasasi dijatuhkan.

 “Padahal ganti rugi kerugian negara sudah ditutupi oleh pihak kontraktor jadi kenapa saya harus dibebankan UP yang sama” tutup Sukirno.

Sekedar diketahui, Sukirno saban hari Selasa harus hadir di Pengadilan Tipikor Banjarmasin untuk sidang dugaan korupsi pembangunan atau revitalisasi Pasar Rakyat Sukorame, Desa Tegalrejo Kabupaten Kotabaru tahun anggaran 2017 sesuai dengan spesifikasi teknis, sehingga negara dirugikan sekitar Rp2,2 miliar.(sja/ram)

Loading...

You Might Also Like