Terdakwa dan korban berpelukan saat sidang di PN Nanga Bulik, Rabu (27/11). (CHOIRUL FUADI/KALTENG POS)


NANGA BULIK - Herwanto (35), terdakwa kasus penganiayaan tak kuasa menahan tangis dipelukan korbannya. Terdakwa dan korban dipertemukan saat sidang mendengarkan keterangan para saksi di PN Nanga Bulik, Rabu (27/11).

Warga Desa Sungkup, Kecamatan Bulik Timur, Lamandau, dilaporkan oleh korbanya Yosep Pinus Jodi dengan laporan penganiyaan terhadapnya. "Korban ini mabuk. Nah terdakwa awalnya ingin mengajak pulang dan menyadarkan korban dengan cara memukul," jelas Jaksa Penuntut Umum Saepul Uyun Sujati.

Namun, lanjut jaksa yang akrab disapa Sujati, korban yang masih di bawah pengaruh alkohol enggan menuruti permintaan terdakwa dan melawan. Sehingga akhirnya terdakwa memukul ke arah mata sebelah kiri, hidung, mulut, kening dan kepala.

"Karena korban ini memberontak, akhirnya terjadilah penganiayaan yang menyebabkan korban menderita luka lebam," jelasnya.

Hasil visum et repertum di RSUD Lamandau menunjukkan, korban mengalami luka lecet dan memar di kepala bagian belakang sebelah kanan dan beberapa luka lecet di wajah serta terdapat dua buah luka lecet disertai memar di kelopak mata dan tanda-tanda pendarahan di pupil mata kiri.

"Dan luka lecet memar di hidung dan bibir atas, serta luka robek di lidah yang menghalanginya untuk menjalankan aktivitasnya," lanjutnya.

Ketua Majelis Hakim Tommy Manik memerintahkan korban dan terdakwa untuk berdamai. Terlebih, diketahui bahwa korban dan terdakwa masih bersaudara. Mendengar perintah hakim, terdakwa langsung meminta maaf kepada korban. Terdakwa memeluk korban dan menangis dipelukan korbannya.

"Sudah lega kau? Berdamai saja. Jangan ada dendam lagi di antara kalian ya. Tidak usah banyak minum," ujar Hakim Tommy Manik seraya menasehati korban agar tidak mengulangi perbuatanya meminum minuman keras. Mendengar hal tersebut, baik terdakwa maupun korban sepakat berdamai. (cho/ami/nto)

Loading...

You Might Also Like