Anwar Sanusi, kasa hukum tersangka pelaku jambret saat sidang praperadilan di PN Palangka Raya, Senin (2/12/2019). (foto: Agus Jaya)


PALANGKA RAYA - Karena menganggap penangkapan terhadap dirinya tidak sah, Said Irfan tersangka kasus penjambretan yang ditangkap oleh aparat Polsek Pahandut, Palangka Raya di Jalan Seth Adji pada Minggu 29 September 2019 lalu, mengajukan gugatan praperadilan.

Melalui kuasa hukumnya Anwar Sanusi, Said Irfan dalam permohonan praperadilannya mengatakan bahwa penangkapan dan penahanannya tidak sah. Pasalnya, pada surat penahanan yang digunakan polisi terdapat kesalahan penulisan nama.

Pada sidang perdana praperadilan di Pengadilan Negeri Palangka Raya yang dipimpin hakim tunggak Irfanul Hakim, Senin (2/12) itu, hanya dihadiri kuasa hukum penggugat Anwar Sanusi. Sedangkan dari wakil pihak tergugat (Kapolsek Pahandut) tampak tidak hadir.

Ketidakhadiran tergugat itu membuat hakim praperadilan Irfanul Hakim menyatakan sidang tidak bisa dilanjutkan dan ditunda hingga hari ini (3/12/2019).

Karena hari ini (kemarin) pihak tergugat tidak hadir, maka kita harus menunda sidang untuk memanggil kembali tergugat. Tapi saya lihat di register perkara pidana di PN untuk sidang pokok perkaranya sudah limpah dan sudah  dimulai besok, jadi berdasarkan aturan KUHAP pasal 82 ayat 1 praperadilan ini harus dinyatakan gugur,kata Irfanul Hakim kepada pihak kuasa hukum.

Ia kemudian menanyakan apakah sidang perkara praperadilan ini diputus hari ini atau menunggu saat sidang perkara kasus mulai di sidang.

Mendengar penjelasan dari hakim itu, Anwar Sanusi menyatakan pihaknya menyayangkan ketidakhadiran pihak tergugat dalam sidang perdana. Namun ia menyatakan akan menghormati keputusan hakim dan menempuh jalur hukum lain.

Mungkin pihak tergugat tahu bahwa besok sudah pembacaan materi dakwaan, jadi mereka tidak hadir. Kami tadinya berharap paling tidak di sidang hari ini sempat membaca kan materi permoho, tapi kami serahkan semua kepada keputusan hakim,” kata Anwar Sanusi menanggapi penjelasan Irfanul

Irfanul kemudian menyatakan putusan untuk sidang permohonan praperadilan yang diajukan Said Irfan diputus secara lisan hari itu juga. Hakim Hakim tunggal irfanul lalu mengetuk palu sidang dan memutuskan gugatan praperadilan yang diajukan Said Irfan dinyatakan gugur.

Putusan ini didasari atas aturan hukum praperadilan pada pasal 82 ayat 1 KUHAP, bahwa apabila pokok perkara telah dilimpahkan dan mulai disidangkan, maka permohonan pra peradilan harus dinyatakan gugur.

Diketahui adapun sidang untuk perkara dengan tersangka Said Irfan sebagai terdakwa dalam kasus tersebut  itu sendiri  dimulai pada hari Selasa(3/12) hari ini di Pengadilan Negeri Palangka Raya.

Sementara itu Anwar Sanusi sesudah sidang ketika diminta komentarnya mengatakan bahwa pihaknya menghormati keputusan dari hakim yang mengadili perkara tersebut.

“Memang berdasarkan aturan undang-undang kalau pokok  perkara sudah dilimpahkan dan sudah mulai  maka permohonan pra pengadilan harus gugur, karena besok ( hari ini-red) sudah sidang maka hakim tadi memutuskan permohonan praperadilan tadi gugur” kata Sanusi sambil  keluar dari ruangan sidang.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya mengajukan praperadilan terhadap pihak kepolisian dikarena telah terjadi kesalahan didalam penulisan nama tersangka di dalam surat penangkapan dan surat penahanan yang disampaikan kepada tersangka dan keluarganya. Didalam surat penangkapan tertulis nama Sayid Muhksin bin Jalil  dan tertulis lahir di Pelaihari tanggal 26 Juni 1997 sedangkan nama asli kliennya adalah Said Irfan Said Jalil,lahir di Banjarmasin 26 julni 1997.

Nama tersangka dan juga bin-nya yang ada dalam surat penangkapan dan penahanan jelas berbeda dari nama asli yang ada di keterangan  KTP dan KK yang dimiliki klien kami, dan itu menurut kami sangat fatal sehingga proses penangkapan harusnya tidak sah,jelas pria berambut putih ini.

Ia beranggapan berdasarkan aturan hukum  KUHAP  terjadinya kesalahan penulisan nama di dalam surat penangkapan dan penahan itu  maka telah terjadi error in persona yang dilakukan pihak penyidik dalam menangani kasus tersebut saat proses  penyidikannya, sehingga proses penangkapan harus dinyatakan tidak sah demi hukum.

Ini akan kami bawa waktu persidangan nanti dan kami pastikan akan berjuang demi keadilan klien kami,pungkas Anwar Sanusi. (*sja/nto)

Loading...

You Might Also Like