Kapolri Jenderal Idham Azis (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Komisi III DPR menggelar rapat kerja (raker) perdana bersama Kapolri Jenderal Idham Azis kemarin (20/11). Kapolri yang didampingi para Kapolda menyampaikan sejumlah laporan kinerja selama lima tahun terakhir.

Di sisi lain, rapat tersebut menjadi saat yang tepat bagi anggota dewan untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus di Polri. Salah satunya kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Anggota Komisi III DPR Arsul Sani menilai belum ada perkembangan signifikan dalam penanganan kasus itu. Dia pun berharap ada laporan terkini dari Kapolri yang baru. ”Harapan kami, kasus ini harus menjadi atensi Pak Kapolri dan jajaran yang menangani,” tutur politikus PPP tersebut.

Hal serupa ditanyakan Benny K. Harman. Anggota Fraksi Partai Demokrat itu mengaku heran dengan lamanya penanganan perkara tersebut. Padahal, sejumlah kasus terorisme berhasil ditangani polisi dengan cepat sekali. Salah satunya, Benny menyebut contoh, kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. ”Saya yakin Pak Kapolri sudah tahu pelakunya. Tinggal sekarang ada kemauan untuk mengungkap atau tidak,” kata dia.

Menanggapi pertanyaan DPR tersebut, Jenderal Idham Azis menjelaskan perkembangan kasus Novel Baswedan. Yang pertama, pihaknya menyatakan telah bekerja keras.

Namun, terang Idham, setiap kasus memiliki tingkat kerumitan yang berbeda dalam penanganannya. Ada kasus yang bisa diungkap dengan mudah. Begitu juga sebaliknya.

Contohnya kasus pembunuhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang tewas di danau UI pada 2015. Meskipun polisi telah memeriksa 28 saksi dan menyita barang bukti, lebih dari 3,5 tahun kasus itu tidak bisa terungkap. ”Termasuk kasus Saudara Novel Baswedan,” ujar Idham.

Kapolri lantas membeberkan langkah penyidikan yang sudah dilakukan. Sejak kasus penyiraman air keras terjadi 11 April 2017, penyidik telah memeriksa 73 saksi dan mengecek 78 titik CCTV. Juga memeriksa penghuni kontrakan dan kamar kos di sekitar TKP.

Polisi, jelas Idham, juga sudah memeriksa 114 toko kimia yang berada di radius 1 kilometer dari lokasi kejadian. Selain itu, penyidik sudah berkoordinasi dengan pihak eksternal. Mulai KPK, Kompolnas, Komnas HAM, Ombudsman, hingga para pakar profesional. ”Termasuk berkoordinasi dengan Polisi Federal Australia,” ungkap Idham.

Meski demikian, hingga sekarang sosok pelaku dalam kasus tersebut belum ditemukan. ”Kami janji untuk membuka perkembangan seluas-luasnya ke publik,” tegas mantan Kabareskrim itu.(jpc)

 

Loading...

You Might Also Like