Makan (Ilustrasi). toto Ross Helen/ Shuttershock


Emosi yang memuncak biasanya diungkapkan lewat amarah atau diam tanpa berkata apa-apa. Namun tidak jarang, ada juga orang yang melampiaskan emosi dengan makan banyak tanpa pikir panjang.

Perilaku ini dikenal medis dengan sebutan emotional eating. 

Secara garis besar, emotional eating diartikan sebagai perilaku makan tanpa kenal batasan sebagai ajang ‘pelarian’ dari emosi yang sedang dialami. Pola makan ini biasanya dihiasi dengan menu makanan atau minuman yang mengandung tinggi gula, kalori dan lemak.

Bukannya baik, emotional eating malah bisa meningkatkan risiko terjadinya kelebihan berat badan atau obesitas, diabetes melitus, tekanan darah tinggi, bahkan penyakit jantungdan stroke.  

Anda tidak ingin mengalami hal-hal merugikan yang bahkan bisa mengancam keselamatan gara-gara menganut paham emotional eating, bukan? Jika memang demikian, lakukan ini sebagai cara mencegah emotional eating:

1. Kenali pola emotional eating

Tidak hanya saat marah, emotional eating juga bisa terjadi saat Anda dalam kondisi stres, cemas atau ketakutan. Oleh karena itu, cara pertama yang harus dilakukan untuk terhindar dari perilaku ini adalah mengenali situasi yang bisa memicunya.

Contoh, Anda cenderung ingin makan saat sedang beban pekerjaan sedang berlebih, ketika cemas saat akan presentasi atau kondisi lainnya. Ketika Anda akan menghadapi situasi tersebut, cobalah untuk mengalihkan fokus pikiran untuk melakukan hal lain yang lebih positif. Misalnya saja relaksasi atau meditasi. 

Meditasi dapat membantu menenangkan pikiran sehingga tingkat emosi atau stres dapat lebih terkendali. Cara lainnya, melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki atau jogging. Faktanya, olahraga mampu memicu tubuh melepaskan endorfin, hormon bahagia yang membuat tubuh lebih relaks.

2. Buat catatan makanan harian

Membuat catatan makanan harian juga bisa menjadi solusi terhindar dari emotional eating. Catatan harian ini harus memuat jenis, waktu porsi dan perasaan yang dialami ketika Anda mengonsumsi makanan tersebut. 

Adanya catatan ini diharapkan bisa membuat Anda lebih mudah mengevaluasi pola makan sehari-hari, melakukan introspeksi dan mengendalikan diri di kemudian hari.

3. Isi kulkas dengan makanan sehat

Jika emotional eating begitu sulit dikendalikan, Anda dapat mencoba mengontrol jenis makanan yang dipilih. Agar tidak berdampak buruk pada kesehatan, pilih jenis makanan yang sehat seperti potongan buah segar, salad sayur, keripik gandum atau kacang-kacangan yang dipanggang. 

Sebaliknya, singkir makanan yang memiliki kandungan gula dan kalori tinggi di sekeliling Anda. Dengan demikian, akses terhadap jenis makanan yang tidak sehat dapat  tercegah saat emotional eating muncul. 

4. Cari kesibukan

Emotional eating terkadang bisa terpicu akibat tidak ada kesibukan yang Anda lakukan. Oleh karena itu, supaya tidak terjadi, carilah kesibukan positif yang mampu mengalihkan fokus pikiran Anda. 

Contoh kesibukan yang dapat dilakukan adalah menyusun kembali meja kerja, menata ruangan di rumah, membuat hiasan sederhana atau berkebun. Aktivitas sederhana ini efektif meredam keinginan makan, karena pikiran yang teralihkan pada hal lain.

Cara-cara tersebut dapat Anda coba untuk terhindar dari emotional eating. Apabila keluhan masih sering terjadi, meski Anda telah berupaya sekuat tenaga untuk mencegahnya, jangan sungkan untuk berobat ke psikolog atau dokter dokter psikiatri. 

Bagaimanapun caranya, Anda harus berupaya mencegah emotional eating agar tidak terjadi secara berkelanjutan. Sebab, perilaku ini tidak hanya memberikan pengaruh negatif untuk kesehatan mental, tapi juga menyebabkan banyak kerugian pada kondisi fisik secara keseluruhan.(NB/RPA/klikdokter)

Loading...

You Might Also Like