GARUDA MENGEMBARA: Emil Faizza mengamati salah satu lukisan Mac Gayoon yang dipamerkan di Hotel Majapahit, Kamis (14/11). HARIYANTO TENG/JAWA POS


Eksplorasi Budaya IndonesiaSEBANYAK lima belas lukisan hasil delapan perupa dipamerkan di area Balai Adika, Hotel Majapahit, Surabaya, dalam acara Komunitas Perupa Delta (Komperta) for Charity. Lukisan yang ditampilkan memiliki beragam gaya. Mulai abstrak, realis, hingga ekspresionis. Beberapa di antaranya terinspirasi langsung dari situs, budaya, dan keadaan alam di Indonesia.

Salah satunya, perupa Wiyono Gayoon. Dia melukis dua karakter pewayangan. Yakni, Batara Guru dan Garuda. Menurut dia, dua karakter itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Karakter tersebut ditampilkan dalam banyak warna. Pria asal Sidoarjo itu menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan simbol kaum milenial sekarang. “Anak muda sekarang itu tahan banting dan memiliki berbagai kreativitas yang tak ada batasannya,” ujar pria yang akrab dipanggil Mac Gayoon itu.

Dia mengaku sangat gemar mengeksplorasi karakter pewayangan. Karakter tersebut direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, pembelajaran terhadap cerita-ceritanya pun masih berlaku hingga saat ini. Termasuk karakter pewayangan yang dia lukis. Dalam lukisannya, dia berharap anak muda bisa meneladani sifat Batara Guru dan Garuda. “Punya kekuatan hebat, tapi juga bijaksana,” ujarnya.

Lukisan lain yang mengeksplorasi budaya Indonesia adalah milik Djagad Ngadianto. Salah satu lukisannya menggambarkan dalang yang memainkan dua karakter pewayangan. Menurut dia, lukisan tersebut terinspirasi dari keadaan politik saat pemilihan presiden. Tepat dengan dua karakter yang sama-sama kuat, yakni Bima dan Duryodhana. “Apa pun komentar tentang dua karakter itu, yang membuatnya ya masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Selain itu, Djagad ingin merefleksikan sesuatu di lukisannya. Yakni, anggapan terhadap seseorang yang belum tentu benar. “Tidak boleh menghakimi seseorang hanya melalui anggapan orang lain,” tuturnya. Apa pun yang dianggap kuat di bumi, suatu saat pasti akan terkalahkan. Persis dengan cerita Bima dan Duryodhana yang dianggap sama-sama kuat. Masih ada enam perupa asal Sidoarjo yang turut berkontribusi dalam pameran tersebut. Karya mereka bisa dinikmati hingga Jumat (15/11). (jpc)


Loading...

You Might Also Like