Ketua MPR Bambang Soesatyo atau Bamsoet saat berjabat dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, keduanya merupakan elite Golkar yang dikabarkan akan bertarung di Munas Golkar 2019. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


Kurang dari sebulan lagi, Partai Golkar bakal menggelar Musyawarah Nasional (Munas). Salah satu agenda pentingnya adalah memilih calon ketua baru untuk lima tahun kedepan.

Namun, sudah beredar isu bahwa pemilihan ketua umum akan dilakukan dengan mekanisme aklamasi dan hanya ada calon tunggal. Strategi itu kabarnya seang dijalankan oleh pihak Airlangga Hartarto.

Isu calon tunggal pun langsung menuai respon dari berbagai kalangan. Salah satunya pengamat politik Voxpol Center Research Pangi Syarwi Chaniago.

“Golkar ini termasuk partai tertua di Indonesia, dari orde lama, orde baru hingga era reformasi saat ini tetap eksis dan matang. Aneh jika tiba-tiba hanya ada calon tunggal,” ujar Pangi kepada JawaPos.com, Kamis (14/11).

Menurut Pangi, mestinya momen Munas seperti ini harus dijadikan pembelajaran bagi kader muda Golkar. Sekaligus menjadi panggung untuk memunculkan wajah-wajah baru Golkar yang sudah teruji.

“Jadi bukan malah memunculkan calon tunggal dan mematikan yang lainnya. Kalau seperti ini gayanya, Golkar kembali ke era orde baru. Karena, hanya ingin mempertahankan status quo saja. Setahu saya Golkar milik semua orang bukan dinasti atau golongan tertentu,” paparnya.

Pangi juga menambahkan, Partai Golkar tidak akan melawan demokrasi, karena partai ini dari dulu penuh dinamika dan  memberi ruang kontestasi kepada setiap kader, memberi ruang gerak pada siapapun untuk memimpin dan menjadi nahkoda partai.

Pangi pun menyarankan agar Munas Golkar membuka ruang lebar-lebar pada kader lain yang secara kapasitas intelektual dan kepemimpinannya sudah mumpuni untuk tampil. Karena dengan seperti itu, Golkar akan kelihatan lebih demokratis dan terbuka.

“Masa masih musim main kapling oleh satu orang atau kelompok tertentu saja yang ingin selalu berkuasa,” ujar Pangi.

Sementara itu, Direktur Politik Hukum Wain Advisory Indonesia Sulthan Muhammad Yus mengungkapkan, Partai Golkar dikenal selalu dinamis dan terjadi persaingan sengit antarcalon ketua umum dalam setiap penyelenggaraan Munas.

“Ini merupakan ciri khas Golkar. Oleh karenanya, jika dalam Munas Golkar pada Desember mendatang ada pihak-pihak yang ingin meredam persaingan tersebut dengan memaksakan aklamasi, hal tersebut berbahaya bagi eksistensi Partai Golkar,” katanya.(jpc)

 

Loading...

You Might Also Like