BERANI UNGKAP: Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump tiba di Bandara Tuscaloosa, Northport, Alabama, Minggu (10/11). Sebelumnya Trump menggelar konferensi pers tentang upaya pemakzulan dirinya (BRENDAN SMIALOWSKI / AFP)


Presiden AS Donald Trump memberikan kejutan sebelum pergelaran sidang terbuka pemakzulan pekan ini. Dia menyatakan siap membuka dokumen-dokumen lain tentang percakapannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Trump menyebut tawarannya saat dicegat awak media sebelum menaiki Air Force One di Markas Gabungan Andrews Sabtu lalu (9/11). Suami Melania itu tak berkeberatan membuka transkrip telepon dengan Zelensky pada April lalu. “Mereka (Demokrat, Red) ingin tahu percakapan lain. Saya akan menyediakan transkripnya,” ujar sang taipan menurut CNN.

Selama ini, anggota Dewan Perwakilan AS berfokus terhadap percakapan dua kepala negara pada 25 Juli. Mereka menuduh bahwa Trump mendesak Zelensky untuk memulai kembali penyelidikan tentang Hunter Biden, anak kandidat Presiden Joe Biden. Percakapan itu merupakan kali kedua mereka berkomunikasi.

Tiga bulan sebelumnya, Trump menelepon Zelensky untuk memberikan selamat. Zelensky baru saja terpilih sebagai presiden Ukraina saat itu. “Anda akan membaca percakapan lainnya. Lihat saja apakah ada yang salah dengan itu,” terang mertua Jared Kushner itu.

Hal tersebut jelas membuat semua jantung elite politik berdetak kencang. Saat ini belum ada yang tahu isi percakapan pertama antara Trump dan Zelensky. Kubu Republik takut isi percakapan menguatkan dugaan quid pro quo (bantuan dibalas bantuan). Namun, Demokrat juga resah bahwa percakapan itu tak menyebut sedikit pun Hunter Biden.

Pekan ini merupakan waktu genting bagi kedua fraksi di Dewan Perwakilan. Rabu nanti (13/11) mereka menggelar sidang terbuka pertama mengenai pemakzulan presiden. Sidang tersebut bakal memanggil William B. Taylor Jr. alias Bill Taylor. Pelaksana tugas Dubes AS untuk Ukraina itu merupakan saksi yang paling vokal memprotes penangguhan bantuan militer oleh AS.

“Ini adalah jaringan pembuat kebijakan yang tak biasa terkait dengan Ukraina,” ungkap Taylor.

Politikus Republik sudah siap-siap untuk menghambat Demokrat. Devin Nunes, petinggi Komisi Intelijen Dewan Perwakilan dari Republik, mengirimkan surat permintaan pemanggilan beberapa saksi. Di antaranya, Hunter Biden, mantan karyawan Fusion Nellie Ohr, dan mantan Staf Democratic National Committee Alexandra Chalupastaffer. Mereka juga tak lupa meminta whistleblower kasus Trump-Zelensky untuk maju sebagai saksi.

“Penolakan terhadap permintaan kami akan menjadi bukti bahwa Anda tak memedulikan asas keadilan,” tulis Nune kepada Ketua Komisi Intelijen Adam Schiff seperti dilansir New York Times.

Schiff langsung angkat suara mengenai permintaan itu. Menurut dia. beberapa saksi tak berhubungan dengan skandal Trump-Zelensky. Nellie Ohr dan Alexandra Chalupastaffer justru lebih berhubungan dengan dugaan serangan siber yang dilakukan peretas asal Ukraina kepada Trump.

“Kami juga tak akan membiarkan Presiden Trump mengintimidasi pengadu. Dia harus diberi penghargaan, yakni status anonim,” tegas Schiff seperti dilansir Fox News.

Republik memang punya harapan untuk melepaskan Trump dari jeratan Demokrat. Mereka bisa menekankan bahwa Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump, melobi Ukraina atas kepentingan pribadi. Sementara itu, Dubes AS untuk EU Gordon Sondland hanya salah mengartikan perkataan Trump.

“Demokrat sedang berusaha membangun menara yang sangat tinggi. Republik tinggal mencabut beberapa bata yang goyah dan meruntuhkannya,” jelas Ross H. Garber, pakar hukum tentang pemakzulan.

Hal tersebut terlihat dalam pertanyaan Lee Zeldin, anggota Fraksi Republik, kepada Taylor. Dia mengatakan bahwa Taylor memperoleh informasi penangguhan bantuan militer dari Penasihat National Security Council Tim Morrison. Morrison pun mendengar informasi tersebut dari mulut Sondland.(jpc)

 

Loading...

You Might Also Like