Timbangan.NET


Tampil prima dengan berat badan ideal adalah harapan setiap orang. Tak heran bila banyak orang melakukan beragam cara diet demi mencapai postur tubuh yang mereka inginkan. Salah satu metode diet yang kini ramai dibicarakan adalah reverse diet.

Adaptasi tubuh setelah diet

Sebelum lebih jauh mengenal reverse diet, Anda perlu tahu apa yang terjadi pada tubuh saat menjalani diet. Setelah beberapa waktu menjalani diet ketat, Anda telah berhasil menurunkan berat badan hingga mencapai angka yang diinginkan.

Sampai di sini, mungkin Anda merasa puas dan mulai tidak menjaga lagi apa yang Anda makan. Anda merasa boleh makan apa saja karena beranggapan berat badan Anda telah ideal.

Tak perlu menunggu waktu lama, Anda pun menyadari bahwa berat badan telah naik kembali dengan mudahnya.

Hal tersebut terjadi karena selama proses diet ketat yang Anda jalani, tidak hanya berat badan Anda yang turun, sistem metabolisme dalam tubuh pun mengalami perubahan. Laju metabolisme dasar (basal metabolic rate/BMR) Anda akan menurun setelah proses diet yang panjang.

Tubuh Anda jadi lebih lambat mengolah makanan dan mengubahnya menjadi energi. Setelah periode diet tersebut diakhiri dan Anda mulai makan seperti sediakala, tubuh tidak lagi mampu mengolahnya dengan cepat. Akhirnya, terjadi penumpukan lemak yang berakhir dengan peningkatan berat badan.

Tak hanya dalam mengolah makanan, ketika melakukan aktivitas fisik pun jumlah energi yang dihasilkan akan relatif lebih sedikit. Semua ini terjadi karena tubuh beradaptasi terhadap diet yang Anda lakukan sebelumnya.

Sayangnya, bila tidak disikapi dengan baik, hal ini akan berakhir dengan kenaikan berat badan. Di sinilah Anda dapat menerapkan reverse diet.

Reverse diet, apa itu?

Reverse diet atau diet kebalikan adalah pola makan dimana seseorang meningkatkan asupan kalorinya secara perlahan selama beberapa minggu atau bulan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan metabolisme tubuh dan membuat tubuh mampu membakar kalori lebih banyak sepanjang hari.

Reverse diet ini sering disebut sebagai “diet after diet” karena biasanya dilakukan setelah Anda menerapkan diet ketat dengan prinsip kalori negatif sebelumnya.

Sesuai dengan namanya, pada reverse diet, Anda justru akan mulai meningkatkan asupan Anda atau sederhananya akan mulai makan lebih banyak dibanding saat Anda diet sebelumnya. Namun, hal tersebut dilakukan secara perlahan dan dibarengi dengan aktivitas fisik.

Anda dapat meningkatkan asupan kalori 50-100 kalori setiap minggunya dengan komposisi protein lebih besar dibandingkan bahan makanan lainnya.

Hal ini dilakukan selama 4-10 minggu hingga Anda bisa kembali ke pola makan Anda sebelum diet tanpa diikuti peningkatan berat badan. Singkatnya, Anda bisa makan “banyak” tanpa takut berat badan naik lagi.

Dibarengi dengan aktivitas fisik

Selain itu, pola makan yang semakin meningkat tersebut harus diikuti dengan aktivitas fisik.

Metode reverse diet mengharuskan Anda melakukan latihan fisik seperti angkat beban (resistance training) sebanyak 3-5 kali per minggu. Angkat beban akan melatih otot tubuh yang berperan untuk meningkatkan kecepatan metabolisme tubuh.

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Penelitian menunjukkan bahwa dengan menambah asupan kalori, tubuh akan terpacu untuk melakukan metabolisme lebih cepat. Kemampuan tubuh untuk mengolah makanan menjadi energi pun semakin meningkat.

Ini berdampak pada sedikitnya kalori yang akan tertumpuk dalam tubuh. Selain itu, pola aktivitas fisik yang dilakukan bersamaan juga akan membuat tubuh mampu membakar kalori lebih banyak.

Akan tetapi, apakah metode ini efektif untuk menurunkan berat badan? Hingga saat ini, para pakar meyakini reverse diet lebih bermanfaat untuk mencegah kenaikan berat badan pasca diet.

Efek menurunkan berat badan masih belum didukung oleh bukti ilmiah yang cukup. Meski demikian, metode ini layak untuk Anda coba, terutama usai periode diet yang panjang.

Meski tak serta merta dapat menurunkan berat badan, reverse diet tetap menarik. Bila dilakukan dengan cermat, tubuh akan memiliki kecepatan metabolisme yang baik dan kemampuan mengolah makanan menjadi energi.  Hasilnya, Anda tak perlu takut berat badan akan melonjak naik meksipun porsi makan semakin bertambah.(HNS/RH/klikdokter)

Loading...

You Might Also Like