Ilustrasi. (foto: net)


IMPOR pacul telah membuat malu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Parahnya lagi, impor pacul telah terjadi sejak awal Jokowi memimpin.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah impor pacul sebanyak 505,5 ton dengan nilai 330,03 ribu dolar AS sejak 2015 hingga September 2019. Dari total berat impor cangkul itu yang berasal dari Jepang hanya 7 kilogram dengan nilai 65 dolar AS dan sisanya dari Cina.

Dengan rincian per tahun, pada 2015 totalnya seberat 14,2 ton dengan nilai 6.589 dolar AS. Pada tahun 2016 totalnya seberat 142,7 ton dengan nilai 187,0 ribu dolarAS. Pada tahun 2017 totalnya sebesar 2,3 ton dengan nilai 794 dolar AS.

Sedangkan pada tahun 2018 totalnya seberat 78,1 ton dengan nilai 33.889 ribu dolar AS. Pada tahun 2019 tercatat dari Januari sampai September totalnya seberat 268,2 ton dengan nilai 101,6 ribu dolar AS.

Menanggapi impor pacul, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE), Piter Abdullah mengatakan, bahwa masih lemahnya koordinasi antara kementerian di mana untuk mendorong ekspor dan impor untuk industri.

“Masuknya impor cangkul adalah contoh riil bahwa selama ini koordinasi tersebut apalagi sinergi belum terjadi,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (10/11).

Dengan demikian, menurut Piter, satu kementerian dengan kementerian lain berjalan sendiri-sendiri. Kondisi demikian, menurut Piter jika dibiarkan akan berdampak pada industri dalam negeri.

“Kebijakan terkait ekspor impor seringkali jalan sendiri tanpa memikirkan nasib industi dalam negeri,” kata Piter.

Di sisi lain, lanjut Piter, impor terjadi karena kebijakan post border yang salah. “Kebijakan (post border) ini saya kira menyebabkan bisa masuknya impor ilegal yang merugikan industri nasional,” tutur Piter.

Sebelumnya, Jokowi mengaku malu lantaran masih banyaknya barang impor yang masuk Indonesia. Lebih malu lagi, barang yang diimpor ternyata barang sederhana seperti pacul. “Urusan pacul, cangkul, masak masih impor!,” kata Jokowi.

Dirjen Perdagangan Luas Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indrasari, merespon kemarahan Jokowi, bahwa pihaknya tidak mengeluarka perizinan impor terhadap perkakas tangan, kecuali dalam bentuk setengah jadi atau dalam bentuk plat dan bahan baku.

“Kita tidak pernah memberikan izin impor cangkul. Kalau ada, itu melanggar ketentuan,” kata Indrasari.

Impor, kata dia, hanya sekali untk bahan baku untuk perkakas tangan sepanjang tahun 2019 dengan volume sekitar 400 ribu kilogram. Bahan baku yang dimaksud adalah berupa plat baja.

Direktorat Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kemenda, Veri Anggrijono menegaskan, akan menindak tegas impor nakal. Saat ini, pihaknya masih melakukan investasi impor pacul. “Jika terbukti tidak mempunyai izin, kami merekomendasikan untuk mencabut izin-izinnya,” kata Veri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, saat ini produksi pacul dari industi kecil dan menengah (IKM) sebanyak 500 ribu dan dari industri besar sebanyak 2,5 juta. Kebutuhan cangkul dalam negeri sebesar 10 juta buah per tahun. Ia yakin dengan penutupan impor cangkul ini akan ada hasil positif ke dalam negeri yakni munculnya industri baru. (din/fin/kpc)

Loading...

You Might Also Like