Tiang-tiang sisa bangunan rumah raja tempat Ratu Zaleha dikepung pasukan Belanda di Juking Hara. (FADLI/KALTENG POS)


Setelah gelar ratu melekat padanya sebagai keturunan raja Kerajaan Banjar, pada 1905 Ratu Zaleha mulai melakukan perjalanan dari benteng pertahanan Menawing menuju Lahei hingga ke Mea tepian Sungai Teweh.

FADLI, Muara Teweh

 

PERJALANAN Ratu Zaleha ini memiliki misi menghimpun kekuatan untuk mengusir kolonial Belanda dari Bumi Tambun Bungai. Dalam perjalanan itu, dia mengumpulkan pasukan wanita Dayak yang berasal dari Muara Teweh dan Buntok. Salah satunya yang ikut bergabung bersama Ratu Zaleha adalah Bulan Jihad.

Karena terdesak oleh kejaran tentara Belanda setelah beberapa kali terjadi peperangan di hutan, akhirnya mereka turun ke arah muara Sungai Teweh dan sempat bersembunyi di rumah raja di Juking Hara, Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara (Batara).

"Di sinilah (rumah raja) Ratu Zaleha dikepung dan ditangkap oleh Belanda," cerita Anton Permadi, salah satu dosen muda STIE yang juga penggiat sejarah di tanah kelahirannya itu.

Menurut cerita turun-temurun dan tercatat dalam buku sejarah, lanjut Anton, Ratu Zaleha dan pasukannya dikepung tentara Belanda, saat mandi di sebuah telaga yang letaknya tak jauh dari rumah raja tersebut. Besar kemungkinan telaga itu berada di belakang rumah raja tersebut.

Dosen muda itu menceritakan, bahwa saat itu pilar-pilar masih menjulang tinggi. Kemudian sempat dibersihkan. Bahkan ada dua tiang pada rumah raja itu yang digunakan sebagai fondasi tengah langgar atau musala yang dibangun di Juking Hara.

Anton dan temannya Andri pun menunjukkan musala tersebut. Berjarak kurang lebih 40-50 meter dari rumahnya Siti Aminah. "Ini ukirannya, masih ada," tutur Andri.

Saat ini tanah rumah raja sudah diwakafkan keturunannya dan diinisiasi oleh masyarakat untuk pembangunan masjid. "Namun karena pertimbangan dalam musyawarah, masjid pun dibangun di lokasi lain untuk menghindari banjir. Sekarang dikenal dengan Masjid Babussalam, Kelurahan Jambu," ujar Anton.

Anton kembali menekankan bahwa ini merupakan sejarah. Sesuatu yang amat penting dan harus diketahui. Apalagi seperti dirinya yang merupakan generasi penerus di Kelurahan Jambu.

"Kalau tidak mendengar cerita dari orang tua dahulu, kami tentu tidak tahu kalau tempat kelahiran kami sarat akan kisah sejarah, terutama kisah sejarah perlawanan masyarakat dan keturunan raja melawan kolonialisme selama masa perang Banjar, terlebih kisah kesaktian para pejuang wanita dari keturunan raja yakni Ratu Zaleha, dan kisah pertahanan benteng di Juking Hara. Kami berharap bukti-bukti sejarah yang tersisa ini mendapat perhatian khusus, dilestarikan agar tetap bisa dikunjungi di masa mendatang" tutup tokoh pemuda Kelurahan Jambu itu.

Siti Aminah (85), cucu pejuang kemerdekaan Tumenggung Mangkusari berharap agar generasi masa kini tak melupakan sejarah. Sebagai generasi penerus harus bisa dan bersedia melestarikan serta merawat peninggalan sejarah.

"Orang-orang dahulu itu tidak banyak bicara, tapi banyak kerja. Tanamkan itu pada diri kalian (kaum muda masa kini)," ucapnya berpesan. (*/ce/ala) 

Loading...

You Might Also Like