Tiang rumah tempat pelarian Ratu Zaleha di Juking Hara, Kelurahan Jambu, Kecamatan Teweh Baru masih berdiri dan menyisakan 21 tiang. INZET: Siti Aminah (85) menceritakan peristiwa yang pernah terjadi di Juking Hara. (FADLI/KALTENG POS)


Bukti sejarah pertempuran mengusir penjajah kolonial belanda di Kabupaten Barito Utara (Batara) oleh Kesultanan Banjar tercatat rapi dalam buku sejarah. Sisa-sisa bangunan tempat persinggahan putra putri kesultanan banjar masih bisa dilihat hingga kini.

 

FADLI, Muara Teweh

 

RUMAH raja mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Juking Hara Keluraha Jambu, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Batara. Peristiwa heroik peperangan melawan bolonial belanda atau yang disebut dengan Perang Banjar diceritakan secara turun-temurun. Sayangnya, sangat minim perhatian untuk melestarikan bukti sejarah yang masih tersisa ini.


Adalah Anton Permadi, seorang Pemuda yang lahir dan dibesarkan di Juking Hara, Kelurahan Jambu memiliki ketertarikan terhadap Sejarah Perjuangan para Pahlawan, terutama di tempat ia tinggal. Dosen muda STIE Muara Teweh itu mengajak penulis untuk melihat sisa-sisa peninggalan sejarah di tanah kelahirannya.

Ketika masih duduk di sekolah dasar sampai (SD) sekolah menengah setiap hari melewati Rumah Raja ini. Sekarang ini ia prihatin, karena tempat bersejarah sebuah rumah raja itu yang tersisa 21 tiang yang masih tertancap di tanah. “Diperkirakan ukuran Rumah Raja itu, lebar 12 Meter dan panjang 30 Meter lebih,” ucap Anton Permadi.

Salah seorang bernama Siti Aminah, yang merupakan cucu pejuang kemerdekaan yakni Tumenggung Mangkusari. Nenek 85 itu adalah anak Juraiyah. Dan Juraiyah merupakan anak dari Tumenggung Mangkusari.

Meskipun berusia lanjut, Siti Aminah yang akrab dipanggil Nini Anjang Amin ini penglihatan dan pendengarannya masih baik walaupun untuk berjalan sudah menggunakan tongkat.

Dia menceritakan, dahulunya rumah raja tersebut dibangun oleh Muhammad Yusuf yang dikenal dengan nama Tumenggung Mangkusari. Diketahuinya, rumah itu dibiayai oleh Kesultanan Banjar pada abad ke-18 pascameletusnya Perang Banjar. Dengan harapan menjadi tempat singgah beristirahat Pangeran dan Putri keturunan Kesultanan Banjar.

Rumah Kerajaan di Juking Hara inilah, Ratu Zaleha putri dari Sultan Muhammad Seman sempat bersembunyi pada pelariannya dan akhirnya dikepung oleh kolonel Belanda. Karena ada penghianat, yang memberitahukan keberadaannya.

"Ada penghianat,"tandas Nini Anjang Amin, yang tidak mau menceritakan panjang lebar panjang. Siapa yang dimaksud penghianat tersebut.

Sebelumnya, pada saat dimulainya perang banjar, Kesultanan pada Kerajaan Banjar tidak stabil. Setelah Kesultanan Banjar dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Salah satu Putra Mahkota yaitu Sultan Muhammad Seman merupakan putra dari Pangeran Antasari membuat Pagustian sebagai Benteng Pertahanan di Menawing dan Sungai Lawang Kaki Gunung Bondang, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Murung Raya (Mura).

Namun, setahun sebelum tertangkapnya Panglima Perang Sultan Muhammad Seman yaitu Panglima Batur. Pertahanan di Manawing dan Sungai Lawang berhasil di runtuhkan oleh Kolonial Belanda dan juga menewaskan Sultan Muhammad Seman pada Tahun 1905.

Sebelum beliau wafat beliau sempat memberikan Basal dan Cincin Kerajaan kepada Putrinya Zaleha dengan harapan bisa melanjutkan Perjuangan Kesultanan Banjar. Setelah mendapatkan cincin kerajaan maka gelar Ratu melekat kepada Ratu Zaleha sebagai keturunan Raja Kerajaan Banjar. (*/ala)

Loading...

You Might Also Like