Wapres Ma'ruf Amin memimpin pelaksanaan peringatan maulid Nabi Muhammad dan Haul Al Maghfurlah KH Muhammad Amin di Kabupaten Tangerang (9/11). (Humas Setwapres)


Untuk pertama kalinya sejak dilantik, Wakil Presiden Ma’ruf Amin pulang kampung. Mudiknya itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Haul Al Maghfurlah KH Muhammad Amin di Masjid Jami Baitul Muhtadin.

Ma’ruf bertolak menuju Kabupaten Tangerang menggunakan helikopter dari Pangkalan Udara TNI-AU Halim Perdanakusuma. Dia didampingi sang istri Wury Ma’ruf Amin. Sore hari Ma’ruf berkunjung ke pesantren An-Nawawi Tanara di Kabupaten Serang.

Malam harinya Ma’ruf memimpin peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Haul Al Maghfurlah KH Muhammad Amin. Seribu lebih jamaah memadati masjid Jami Baitul Muhtadin di Kampung Tegal Kamal, Desa Renged, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten.

Meskipun penjagaan dari Paspampres ketat, namun jamaah leluasa masuk ke masjid dan pelatarannya. Disiapkan dua layar besar bagi jamaah yang tidak tertampung di pelataran masjid.

“Malam ini saya berbahagia sekali. Bisa bersilaturahmi dengan para jamaah,” katanya. Ma’ruf menyampaikan rasa syukur karena bisa menjadi Wapres mendampingi Presiden Joko Widodo.

“Saya ini orang kampung dan saya santri,” katanya.

Untuk itu dia berpesan kepada para santri supaya tidak putus harapan. Dia mengatakan para santri jangan rendah diri.

Sebab santri bisa jadi apa saja. Mulai dari jadi kiai, bupati, gubernur, menteri, wakil presiden, bahkan presiden. Dia berharap ke depan ada santri yang kembali jadi presiden seperti Gus Dur.

Kepada para santri Ma’ruf berpesan supaya belajar dengan sungguh-sungguh. Dia pun menceritakan, dirinya dimasukkan ke pesantren oleh ayahnya bukan supaya jadi wapres. Tetapi supaya jadi kiai.

“Belum pernah orang Banten jadi Wapres. Apalagi orang Tangerang. Apalagi orang Kresek. Menteri aja belum,” katanya.

Dia berharap kepada orang tua untuk berupaya memasukkan anaknya ke pesantren. Supaya bisa memberikan bekal agama dan menjadi kiai atau ulama.

Ma’ruf menyampaikan saat ini banyak orang mengaku kiai atau ulama. Tetapi belum pernah mondok di pesantren dan tidak pernah membaca kitab.

“Ini bahaya. Karena tidak ngerti agama,” tegasnya.(jpc)

 

Loading...

You Might Also Like