H Nadalsyah


MUARA TEWEH - Di Kabupaten Barito Utara (Batara) masih ada kendala di lapangan dalam rangka penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah itu. Yakni, masyarakat di daerah ini melakukan pembakaran lahan untuk berladang.

"Bakar lahan untuk ladang ini yang merupakan tradisi mayarakat lokal untuk bercocok tanam,” kata Bupati Barito Utara H Nadalsyah, Senin (4/11) lalu.

Untuk itu, menurut Koyem--sapaan akrab Nadalsyah, hal ini akan diatur dalam peraturan bupati (Perbup) untuk menanggulanginya, yang akan dijadikan acuan sosialisasi dari aparat desa di daerah ini untuk warganya.

"Ada juga kesulitan kepala desa untuk mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat karena bakar ladang ini merupakan kearifan lokal, jadi ini tidak bisa kita hindari, tetapi ini bisa kita atur. Perbup itulah yang mengaturnya,” ungkapnya.

Diharapkannya, ke depan Barito Utara dapat menekan angka terjadinya bencana. Hal ini dapat dilakukan, didukung semua komponen yang ada, bahu-membahu dalam penanganan dan pencegahan terjadinya bencana. 

Diakui Koyem, kekompakan yang telah dilakukan selama ini membuahkan hasil yang maksimal dengan terendahnya titik api tahun 2019 di Barito Utara. Ini berkat kerjasama FKPD, Manggala Akni, Damkar, MPA, Tim Serbu Api Kelurahan, Tim Serbu Api Desa, masyarakat dan leading sektor terkait. "Iitu merupakan bukti nyata dari langkah-langkah preventif kami dan kekompakan tim yang ada di lapangan," tandasnya. (dad/ens)

Loading...

You Might Also Like