KASONGAN - Berbagai upaya dilakukan kepolisian, termasuk Polres Katingan dalam menciptakan kamtibmas yang kondusif. Diantaranya mencegah para pelajar di Katingan untuk mengadakan aksi unjuk rasa yang berpotensi terjadinya kekerasan dan mengganggu ketertiban umum.

Kapolres Katingan AKBP E Dharma B Ginting telah memerintahkan anggotanya sampai ke polsek untuk aktif melaksanakan police goes to school sebagai upaya edukatif preemtif dan preventif dengan bentuk patroli, sosialisasi, dan menjadi inspektur upacara ke sekolah-sekolah di Katingan.

Menurut kapolres, apa yang dilakukan ini selain untuk cipta kondisi aman dan kondusif jelang pelantikan presiden, police goes to school yang dilakukan pihaknya juga untuk mengimbau para pelajar di Katingan agar tidak ikut-ikutan melakukan unjuk rasa. "Ini sekaligus menyikapi fenomena perkembangan situasi saat ini, dimana anak sekolah atau pelajar melibatkan diri pada aksi demo di beberapa daerah,” kata Dharma Ginting kepada Kalteng Pos, Kamis (10/10).

Kapolres berharap, agar pelajar di Katingan tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa. Sebab sangat membahayakan keselamatan diri sendiri dan juga orang lain. Unjuk rasa, lanjutnya, bukan kewajiban pelajar. Kewajiban seorang pelajar adalah belajar menuntut ilmu sesuai moto Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019 yaitu SDM Unggul, Indonesia Maju. Karena pelajar yang merupakan generasi milenial adalah generasi penerus bangsa.

“Tugas pelajar adalah sekolah, dan belajar untuk masa depan, serta melakukan hal-hal yang positif,” ungkapnya.

Dharma Ginting juga mengungkapkan, dalam police goes to school ini, beberapa kasat dan kapolsek di jajaran Polres Katingan aktif blusukan ke sekolah-sekolah yang berpotensi terprovokasi untuk diajak demo. Terkait hal ini, polisi langsung melakukan pendekatan serta memberikan pembinaan langsung kepada pelajar agar tidak melakukan demonstrasi yang secara tegas dilarang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

“Tidak kalah pentingnya lagi para pelajar agar menggunakan prasarana medsos dengan bijak serta tidak terprovokasi konten-konten provokatif. Aksi unjuk rasa rawan disusupi provokasi yang akan mengarah ke ajakan tidak baik atau ujaran kebencian yang bisa merugikan diri sendiri, orang tua maupun orang lain,” tegasnya. (eri/ens/ctk/nto)

You Might Also Like