Presiden Joko Widodo menyampaikan keterangan pers usai menjenguk Menko Polhukam Wiranto di Paviliun Kartika, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10/2019). (Dery Ridwansah/JawaPos.com


Kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) memang harus ditumpas hingga akar-akarnya. Pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto, Syahrial Alamsyah alias Alam, 31, dipastikan terafiliasi dengan kelompok JAD, khususnya di Bekasi.


Penusukan terhadap Wiranto terjadi pukul 11.55 kemarin (10/10) di Pandeglang, Banten. Saat Wiranto turun dari mobil, dua ajudannya berada di samping kiri dan kanan. Kapolsek Menes Kompol Dariyanto juga berada di samping Wiranto.


Pelaku menyerobot dari belakang mobil, lantas menusuk mantan panglima ABRI tersebut dua kali. Semua orang di sekitar berusaha melindungi Wiranto. Pelaku lantas diringkus beramai-ramai. Di saat bersamaan, Fitri Andriana alias Pipit, istri Alam, ikut menyerang secara brutal, melukai tiga orang lain. Yakni, Kapolsek Menes Kompol Dariyanto, staf Kemenko Polhukam Fuad Sauki, dan seorang ajudan Danrem.


Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Wiranto terluka di perut bagian kiri. Terdapat dua luka tusukan. ”Kondisinya diharapkan stabil,” paparnya. Lalu, Kapolsek terluka di bagian punggung. Luka itu dia alami karena berusaha menghalangi tusukan ke arah Wiranto.


”Makanya, luka di punggung, menghalangi agar tidak tertusuk lagi,” jelas Dedi. Untuk kondisi dua korban lain, dia belum bisa memastikan.


Pelaku bisa dibekuk dan kini diperiksa. Diduga kuat, dia terafiliasi dengan JAD Bekasi. Pelaku yang memiliki nama alias Abu Rara itu direkrut Abu Zee, amir JAD Bekasi. ”Sudah kuat dugaannya ke JAD,” ungkap Dedi. Pipit juga diamankan. Dedi menuturkan, Fitri berada di dekat pelaku penusukan tersebut. ”Kemungkinan besar ada hubungan tertentu, entah keluarga atau bagaimana,” paparnya.


Abu Zee telah ditangkap 8 Mei lalu karena merencanakan aksi teror. Selain itu, Abu Zee diketahui sebagai penyandang dana kelompok tersebut. Informasi yang diterima Jawa Pos, Abu Zee lah yang menikahkan Alam dengan Pipit.


Apakah masih ada anggota JAD yang membahayakan? Dedi menjelaskan, Densus 88 Antiteror bekerja keras mendeteksi anggota kelompok tersebut. Siapa pun yang terpapar terorisme akan diproses hukum. ”Tentu dideteksi terus,” jelasnya.


Hingga kemarin, polisi masih mendalami motif penusukan Wiranto. Berdasar catatan Jawa Pos, JAD selama ini selalu mengincar polisi.


Setelah dirawat di RSUD Pandeglang, Wiranto dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta. Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung memantau kondisinya. Setelah bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi menjenguk Wiranto. Dia ditemani Kepala BIN Budi Gunawan, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, Mensos Agus Gumiwang, dan tenaga ahli utama KSP Ali Mochtar Ngabalin.


Jokowi mengatakan, Wiranto stabil dan sadar. ”Masih dalam penanganan tim dokter di RSPAD dan dalam proses operasi,” ujarnya. Jokowi menyatakan sudah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kepala BIN Budi Gunawan yang didukung TNI untuk mengusut kasus tersebut. Bukan sebatas pelaku, tapi juga jaringan terorisme yang terkait dengan aksi tersebut.


”Jaringan ini harus dikejar dan dituntaskan, diselesaikan,” imbuhnya. Selain itu, untuk memaksimalkan keselamatan para pembantunya di kabinet, Jokowi meminta Kapolri meningkatkan pengamanan. Mantan wali kota Solo itu tidak memerinci, tapi menekankan bahwa pengamanan harus lebih baik.


Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga menjenguk Wiranto. Dia menjelaskan bahwa kondisi Wiranto baik.


”Insya Allah, dokter di sini sangat berpengalaman,” katanya. Terkait dengan pengawasan atau pengawalan menteri, JK mengatakan bahwa sudah ada prosedurnya. Pengawalan dilakukan oleh personel kepolisian. Dia menuturkan, kasus yang menimpa Wiranto benar-benar tidak disangka. ”Ini (kasus, Red) pertama kali. Ada orang yang mencederai pejabat dengan tikaman,” jelas politikus senior Partai Golkar tersebut.


Menurut JK, kasus yang menimpa Wiranto jelas akan menjadi bahan evaluasi. Dia mengatakan, di Indonesia kelompok radikal masih ada. Masih berkeliaran. Namun, JK menuturkan, kasus tersebut tidak memengaruhi pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.


Menteri Kominfo Rudiantara tidak mau berandai-andai bahwa pelaku penikaman terhadap Wiranto imbas kebebasan internet. ”Saya tidak mau berspekulasi,” katanya setelah mendampingi JK dalam proses topping off gedung Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta. Dia menegaskan, ada lembaga yang lebih berwenang daripada Kemenkominfo untuk menganalisis kasus itu. Soal pengamanan menteri, Rudiantara menuturkan, jika pengamanan terlalu ketat, nanti menteri dianggap tidak mau dekat dengan rakyat. Sebaliknya, jika pengamanan terlalu longgar, terjadi kasus yang tidak diinginkan.


Di bagian lain, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi mengutuk keras penyerangan terhadap Wiranto. Menurut dia, apa pun alasannya, tindakan brutal seperti itu tidak bisa ditoleransi.


”Ajaran agama mana pun tidak membenarkan tindakan kekerasan, menebar ketakutan, dan mencelakai orang yang tidak berdosa. Apalagi sampai membunuh,” tuturnya. Zainut menjelaskan, MUI menduga pelaku kasus itu adalah anggota jaringan terorisme yang masih beroperasi di Indonesia. Kasus tersebut menyadarkan masyarakat bahwa radikalisme dan terorisme masih aktif di Indonesia.


Sementara itu, Kepala Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo menjelaskan, saat ini pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian dan menunggu ekspose hasil penyelidikan. ”Kalau nantinya perbuatan pelaku penusukan dikategorikan terorisme, LPSK siap melindungi dan memenuhi hak-hak korban,” terang dia.(jpg)


 


You Might Also Like