Imanuel Nuhan semasa hidup ketika melihat Digantara Air Show di Bandara Tjilik Riwut, Juni 2016 silam. (DOK AGUS PRAMONO/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA- Duka mendalam dirasakan masyarakat Kalteng dan Korp Pasukan Khas TNI AU. Imanuel Nuhan, satu dari 13 penerjun pertama TNI AU, meninggal pada usia 95 tahun.

Ornamen bendera merah putih menutupi bagian jasadnya. Disemayamkan di rumah duka, Jalan G Obos XXIV No 20, Palangka Raya. Baret berwarna jingga melekat di kepala. Tubuhnya mengenakan seragam kebanggaan warna biru laut dengan beberapa tanda penghargaan.

Dibaringkan di atas peti yang diletakkan di ruang tengah, dikelilingi kelambu warna putih. Sejumlah pelayat menyempatkan melihat untuk terakhir kalinya wajah pria kelahiran Tewah, 1 Januari 1024 tersebut.

Serma (Purn) Imanuel Nuhan, salah satu pahlawan dari Bumi Tambun Bungai mengembuskan napas terakhir pada Rabu (9/10) pukul 19.10 WIB, akibat sakit yang dideritanya. Usianya sudah 95 tahun. Imanuel meninggalkan tiga istri, 13 anak, 37 cucu, dan 70 cicit.

Rencananya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Sabtu (12/10). Dihadiri Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU Marsekal Muda TNI Eris Widodo Yuliastono bersama 26 orang pejabat dan prajurit paskhas.

Imanuel merupakan satu-satunya dari 13 penerjun yang diberi umur hingga 95 tahun. Rekan-rekan sesama penerjun sudah mendahuluinya menghadap Tuhan YME.

Hernison, putra pertama Imanuel Nuhan dari istri kedua, menceritakan secara singkat bagaimana sang ayah dapat tercatat dalam sejarah sebagai penerjun payung pertama di Indonesia.

“Awalnya bapak (Imanuel, red) itu dari Desa Tewah ikut sekolah pelayaran. Kemudian berangkat dari desa menuju sekolah pelayaran yang terletak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah lulus, beliau kemudian menjadi tentara Jepang,” katanya kepada Kalteng Pos di rumah duka.

Setelah itu sang ayah bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama orang-orang dari Surabaya. Saat bergabung di TRI itu, ia sempat berperang di Surabaya dan sekitarnya.

“Bersama arek-arek Suroboyo (orang Surabaya), bapak ikut perang untuk memerdekakan Indonesia,”

ucapnya.

Istrinya, Minie Daim yang menemani sang suami mengisahkan, setahun terakhir ini tak ada kegiatan yang dilakukan suaminya, selain berbaring di tempat tidur karena sakit.

Ada satu keinginan dari Imanuel, yakni ada garis keturunannya kelak yang menjadi penerusnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Entah itu menjadi polisi atau TNI.

"Itu keinginan yang selalu disampaikan kepada kami,” ucap perempuan berusia 58 tahun ini.

Imanuel Nuhan juga telah banyak menceritakan kepada anak dan cucu tentang sejarah perjuangannya bagi bangsa dan negara ini.

"Dahulu bapak sering menceritakan kepada kami perjuangannya pada masa lalu. Sebab bukan hanya menjadi angkatan udara dan penerjun payung. Tetapi ada banyak hal," ungkapnya.

Tjilik Riwut mengajukan kepada gubernur pertama di Kalimantan untuk mendirikan pasukan payung yang diberi nama MN 1001.

Kemudian terpilihlah 13 orang untuk memasang pemancar radio, demi memudahkan komunikasi dengan masyarakat yang berada di Kalimantan, dipimpin oleh Tjilik Riwut sebagai komandan pasukan penunjuk jalan.

Yang pertama kali melakukan terjun payung adalah Letnan Muda Yebitak dengan membawa bendera merah putih, kemudian menyusul persenjataan, makanan, peralatan radio, dan lain-lain.

Selanjutnya menyusul Mayor M Dahlan dan Imanuel Nuhan menjadi orang ketiga yang melakukan penerjunan, disusul yang lainnya.

Belasan orang tersebut bahkan telah dinyatakan hilang oleh pemerintah pusat, karena tak ada kontak setelah diterjunkan di hutan belantara Pulau Kalimantan. Dianggap telah tertangkap atau telah gugur.

Imanuel Nuhan selamat pada peristiwa baku tembak saat mereka sedang beristirahat pada sebuah pondok di hutan. Akhirnya ada beberapa pasukan yang tertangkap oleh tentara Belanda, tapi tidak termasuk Imanuel Nuhan.

Setahun kemudian, Imanuel Nuhan ditangkap dan dikurung di Nusa Kambangan. Sempat disiksa oleh pemerintah Hindia Belanda.

Namun setelaha diadakan Konferensi Meja Bundar, seluruh tahanan politikus dan lain-lain dibebaskan. Sejak saat itu ia dibebastugaskan dan kembali bekerja di Kebun Binatang Wonokromo.

Imanuel Nuhan juga sempat bekerja beberapa tahun mengawasi Bandara Tjilik Riwut, sebelum akhirnya kembali ke Desa Tewah, lalu menikah dan memiliki anak dan cucu.

Imanuel Nuhan kembali dicari oleh Tjilik Riwut, dan diajak bekerja untuk diperbantukan di kantor gubernur saat itu, hingga akhirnya pensiun pada tahun 1980. (fiq/nue/ram)

You Might Also Like