Ilustrasi. (foto: net)


PULANG PISAU – Beberapa sekolah di Kabupaten Pulang Pisau telah menerapkan full day school (FDS). Kendati sudah menerapkan FDS, namun ada saja sekolah yang masih memberikan tugas tambahan atau pekerjaan rumah kepada murid. Kondisi ini pun dikeluhkan beberapa orang tua siswa.

Pasalnya waktu pulang sekolah anak sudah sore dan malam harus mengerjakan PR. Akhirnya waktu istirahat anak berkurang dan tenaga terporsir.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pulang Pisau Sriaji menegaskan, bagi sekolah yang sudah menerapkan FDS tidak diperbolehkan memberi tugas tambahan atau PR kepada murid. “Tidak boleh (memberi PR),” kata Sriaji saat dikonfirmasi Kalteng Pos, kemarin (9/10).

Sriaji menegaskan, sekolah yang menerapkan FDS atau lima hari sekolah semua kegiatan belajar mengajar dituntaskan pada hari itu juga. “Untuk itu, sebaiknya tidak usah memberikan PR kepada siswa lagi. Selesaikan kegiatan belajar mengajar di sekolah,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Harian Dewan Pendidikan Pulang Pisau Moch Yakin Effendi mengungkapkan, meskipun namanya PR, dalam sistem FDS guru juga mendampingi siswa dalam mengerjakan PR itu.

“Hal ini akan memudahkan siswa mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan menghindari siswa kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah di rumah masing-masing. Guru dan siswa juga dapat mengoptimalkan manfaat lingkungan sekolah,” kata Yakin.

Dia tidak menampik masih adanya sekolah yang menerapkan FDS, namun tetap memberikan PR. “Dari pantauan kami, masih ada peserta didik yang mendapatkan tugas tambahan sepulang sekolah,” ungkap dia.

Untuk itu, Yakin mengharapkan UPT Dinas Pendidikan di delapan kecamatan betul-betul menerapkan FDS sesuai aturan. “Sosialisasikan kembali aturan menteri pendidikan. Jangan ada lagi pihak sekolah yang memberikan tugas tambahan kepada murid yang sudah melaksanakan FDS,” pinta dia.

Dengan demikian, lanjut dia, semua sekolah yang menerapkan FDS sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah. “Karena kalau masih diberi tugas tambahan atau PR, maka praktis jam istirahat siswa sangat minim dan itu dikhawatirkan mengganggu psikis dan kesehatan murid karena bisa kelelahan,” tandasnya. (art/ila/ctk/nto)

You Might Also Like