Petambak ikan di bantaran Sungai Jelai terancam merugi hingga ratusan juta akibat fenomena berubahnya warna air sungai menjadi hijau yang menyebabkan matinya sejumlah ikan tambak, Rabu (9/10). (RUSLAN/KALTENG POS)


Lamran tampak sedih, saat awak media berkunjung ke kediamannya di bantaran Sungai Jelai, Desa Sukaramai, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (9 /10) siang.

Pria paruh baya tersebut tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, karena usaha tambak ikan terancam gulung tikar, akibat berubahnya warna air Sungai Jelai menjadi hijau. Hal ini berimbas pada matinya sejumlah ikan tambak miliknya.

RUSLAN, Sukamara

DESA Sukaramai terletak tepat di seberang Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Kedua daerah tersebut hanya dibatasi Sungai Jelai. Di desa yang penduduknya hampir 90 persen mata pencahariannya pencari ikan dan tambak/keramba tersebut, kini hanya bisa pasrah, sampai kapan fenomena perubahan warna air sungai berakhir.

Lamran adalah salah satu warga Desa Sukaramai yang sejak lama menekuni budidaya ikan di Sungai Jelai. Dia memiliki 28 tambak ikan yang tersebar di sungai yang memisahkan wilayah Kalteng dan Kalbar itu. Lamran mengaku 6 tambak ikan miliknya terpaksa harus panen lebih awal. Tujuannya untuk mengurangi kerugian akibat ikan yang mati mendadak. Namun masih ada 22 tambak sisa miliknya yang berisi bibit ikan berukuran kecil hingga sedang yang terancam mati sia-sia dampak fenomena perubahan warna air Sungai Jelai yang jadi hijau saat ini.

“Akibat perubahan warna air sungai sejak dua hari terakhir ini, sebanyak 30 kilogram ikan siap panen sudah mati. Selain itu ratusan bibit ikan juga mati. Itu baru punya saya. Belum petambak lainnya. Jumlah kerugian juga kemungkinan akan terus bertambah, mengingat kondisi seperti ini bisa berlangsung hingga sepekan, bahkan pernah sampai 10 hari,” kata Lamran kepada Kalteng Pos saat disambangi di kediamannya, Rabu (9 /10).

Berubahnya warna air Sungai Jelai yang sebelumnya kecoklatan menjadi hijau bening diketahui sudah terjadi sejak dua hari terakhir. Fenomena ini diklaim merupakan imbas kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan tanah mengalami proses humufikas sehingga menghasilkan asam humat (humus) yang terbawa oleh air hujan hingga ke sungai.

Lamran mengaku hanya bisa pasrah sampai kapan fenomena perubahan warna air sungai berakhir. Kejadian ini pun bukan kali pertama terjadi. Fenomena air sungai berubah warna menjadi hijau awalnya muncul tahun 2015 dan terus berulang hingga 2019.

“Tahun 2016 saya sempat rugi hampir Rp 120 juta. Itu kerugian yang terbesar akibat fenomena perubahan warna air ini. Jumlah kerugian tersebut belum bisa tergantikan hingga sekarang malah menjadi beban utang,”  akuinya.

Berkaca dari kejadian sebelumnya, Lamran mengaku jika dihitung kerugian tahun sebelumnya, setiap petambak ikan bisa mencapai Rp 100-200 juta. Kondisi ini tentu membahayakan bagi petambak. Tidak terkecuali warga Kabupaten Sukamara. Mengingat pasokan ikan di Sukamara saat ini bergantung pada nelayan dan petani tambak ikan Desa Sukaramai. (bersambung)

You Might Also Like