Ilustrasi. (foto: net)


KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyerukan untuk menggunakan kain dakron basah untuk mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di ruangan.

Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr. Ahmad Yurianto mengatakan dua tahun lalu pihaknya bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun save community pada masyarakat. Salah satunya menciptakan teknologi tepat guna sederhana berupa pemasangan kain dakron yang dibasahi.

“Setelah diuji coba di beberapa sekolah dan dilakukan pengukuran ISPU di dalam dan di luar kelas, ternyata udara lebih baik di dalam kelas karena terpasang kain dakron,” kata Yurianto dalam pesan tertulisnya, Rabu (18/9).

Yurianto menambahkan pengalaman karhutla pada 2015 telah menyebabkan kematian pada anak. Menurutnya hal itu disebabkan gastroenteritis dan dehidrasi berat karena kurang tersedianya air bersih.

“Saat itu sebenarnya episode yang diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar sehingga kematian ada. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan,” terangnya.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek menambahkan kalau sudah musim kemarau yang utama adalah air bersih. Ia mengatakan Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

“Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya,” kata Menkes.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam empat tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

Yurianto mengatakan teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

Kita datangi, kita beri oksigen konsentrator kemudian Puskesmasnya kita tutup pakai kain dakron. Tim Pusat Krisis Kesehatan akan mengecek lagi ke sana, tambahnya.

Rencananya oksigen konsentrator ini akan digunakan oleh Puskesmas apabila hasil yang didapatkan bisa lebih baik.

Menkes Nila mengatakan teknologi tepat guna ini bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat Karhutla.

Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan, tambahnya. (gw/fin/kpc)

You Might Also Like