Tiarum (kiri) bersama mertua ketika berada di bangunan sederhana di Jalan G Obos XIII, Jumat (13/9). (ANISA/KALTENG POS)


Harta dan Keluarga. Itulah yang dimiliki Hadi Sumarno dan Tiarum. Tapi kini keduanya telah kembali ke tanah. Rumahnya hancur rata bersama tanah. Kedua anaknya pun telah berpulang , kembali ke tanah.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

“Mama, Adit mau es krim. Belikan yang harga dua ribu saja tidak apa-apa,”permintaan manja anaknya yang terus teringat dan menyayat hati Tiarum, ibunda dari Adit.

“Mama, tadi malam sudah janji akan memberikan Adit uang yang banyak dan beli jajan,”ucapnya lagi.

Disampaikan oleh anak semata wayangnya pada Minggu pagi. Sebelum akhirnya pemilik nama Panjang Aditya Saputra meninggal pada malam harinya.

Ada lagi. Adit sempat minta dibelikan kornet sapi. Juga belum kesampaian, karena orang tua tidak memiliki uang membelinya. Keinginanya belum terwujud Adit sudah berpulang.

Hari-hari penuh kesedihan dialami Tiarum dan suaminya Hadi Sumarno tiga pekan terakhir ini. Ujian dan cobaan hidup tak kunjung reda. Kamis (29/8) lalu ia kehilangan seluruh harta yang tak seberapa. Tanah menyewa dengan bangunan rumah kayu seadanya. Menjadi tempat berteduh dan berlindung keluarga kecil Hadi Sumarno, Tiarum dan buah hati mereka, Aditya Saputra. Rumahnya di Jalan G Obos X, Palangka Raya terbakar.

Rumah sederhana tempat mencurahkan kasih sayang kini menjadi hitam. Tinggal abu dan arang. Hanya terlukis tawa dan cerita kebersamaan keluarga ini yang terasa belum satu bulan yang lalu. Ah, bayangan itu bisa hilang karena ada harapan baru yang akan mereka bangun.

Hadi dan Tiarum sudah memutuskan untuk membangun rumah sederhana tidak jauh dari lokasi itu, yaitu di Jalan G Obos XI. Tanah menyewa miliki tetangga dengan dengan harga sewa Rp250 per bulan. Sudah mengumpulkan kayu dan penutup-penutup bekas dari sisa bangunan bandara.

Pascakehilangan rumahnya, keluarga ini pindah ke ruko dari kayu dan sempit. Tempat orang tua Hadi tinggal bersama adik bungsunya, anak keenam dari orang tua Hadi. Ruko dengan ukuran tidak lebih dari empat meter ini dihuni enam orang. Campur dengan warung kelontong miliki orangtuanya. Ruko ini juga menyewa tanah miliki seseorang yang memiliki ruko besar di belakangnya.

Harapan memiliki rumah baru dan kembali ukir kebahagiaan yang telah sirna ternyata hanya bertahan sebelas hari saja.

“Saat ini, kami (Tiarum dan suami,red) tinggal bersama mertua. Tinggal di sini (ruko kayu,red) karena kami sudah berencana akan pindah membangun rumah,” awal Tiarum bercerita.

Minggu, (8/9) gelapnya malam tidak segelap saat Tiarum menutup matanya. Tidak sadarkan diri melihat buah hati semata wayangnya diangkat kerumunan orang dari atas kubangan air galian,di Jalan G Obos X Raya. Adit, nama panggilannya. Tenggelam dan ditemukan Isya.

“Saya tidak menyangka saya kembali kehilangan anak saya. Dulu, kakaknya Adit meninggal usia empat bulan. Adit harapan saya satu-satunya, dan kini ia (Adit,red) diambil Tuhan. Adit sudah tenang di sana,”kata Tiarum, sambil menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.

Hari itu (Minggu) memang terasa aneh. Adit tiba-tiba membuat mamanya bingung. Pagi itu, bocah kelahiran 7 Maret 2010 ini berlarian di ruko tempat ia tinggal sementara. Melontarkan kalimat yang membuat ibunya berfikir keras.

“Mama, tadi malam sudah janji akan memberikan Adit uang yang banyak dan beli jajan,”ucap Tiarum, menirukan perkataan Adit. Padahal, Tiarum sama sekali tidak mengatakan apapun malam itu. Ia berfikir bahwa anaknya sedang bermimpi.

Kemudian, hari itu memang libur. Adit memaksa izin untuk bermain ke Jalan G Obos X, tempat ia bermain bersama teman-temannya saat ia mereka tinggal di Jalan G Obos X dulu. Tidak diizinikan karena perasaan Tiarum tidak nyaman waktu itu. Adit merengek. Sambil berucap jika ingin bermain, memancing dan ingin main internet.

“Dia selalu memaksa untuk pergi ke, tapi saya larang. Saya sudah janji akan menemani dia memancing nanti sore. Tapi, waktu itu saya sibuk menyiapkan barang-barang untuk pindah dan Adit pun tidak ada. Saya berfikir bahwa dia mancing karena alat pancing dan sepeda tidak ada,”kisahnya kepada Kalteng Pos (Grup Kaltengpos.co), Jumat (13/9).

Sekitar mendekati magrib, Tiarum kaget dan teringat anaknya belum pulang.

“Saya dan suami mencari ke Jalan G Obos X tapi tidak ketemu. Saya menemukan sepeda Adit di dekat kubangan galian air, tapi tidak melihat adit di sana,”katanya.

Suaminya pun masuk ke kubangan dengan harapan anaknya tidak ada di sana. Tapi, Tiarum memiliki firasat bahwa anaknya berada di dalam kubangan tersebut. Setelah warga datang dan ikut masuk dalam kubangan hasilnya pun nihil. Rasa syukur terucap karena harapannya Adit tidak ada dalam kubangan tersebut dan masih hidup.

“Tapi, alangkah kagetnya saat melihat salah seorang warga menemukan sandal anak saya yang keluar dari pinggiran tanah dalam kubangan, dan tidak lama seseorang juga mengangkat Adit dari kubangan itu,” kisahnya.

Tiarum pingsan. Tak kuat melihat kenyataan. Adit pun dimakamkan keesokan harinya. Hari ini, Sabtu (14/9) tepat tujuh hari Adit berpulang.

“Saya menyesal karena banyak keinginan dia (Adit,red) yang belum terpenuhi. Tapi Adit itu anaknya pintar, tidak pernah memaksa meskipun ingin karena dia tahu orang tuanya tidak mampu,”ungkapnya.

Salah satu keinginan Adit yakni ingin bermain di kolam renang. Ayahnya sempat mengumpulkan keramik bekas untuk membuatkan Adit kolam renang di belakang rumah. Tapi harapan itu pupus karena rumah telah hilang. Ingin dibelikan kornet sapi juga tidak terpenuhi.

“Yang paling menyayat hati saya saat Adit ingin es krim dan saya tidak memiliki uang,”ucapnya. Air mata pun tak terbendung.

Beberapa hari sebelum Adit meninggal, memang firasat tidak nyaman dirasakan Tiarum. Bahkan, hari itu ia melihat anaknya sering melamun, dan itupun juga dibenarkan suaminya, Hadi.

Keseharian Tiarum ini bekerja mengemas gula di pasar. Ia selalu sedih saat pulang kerja Adit selalu menunggu di depan rumahnya.

“Melihat Adit selalu menunggu saya menjadikan saya bertekad unuk berhenti kerja, hati saya berkeinginan untuk berhenti kerja dan ingin selalu bersama Adit. Akhirnya saya putuskan pasca kebakaran, berhenti bekerja. Ternyata kebersamaan saya dengan anak saya hanya sebelas hari saja,” bebernya.

Belum lama ini, Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran dan Pemerintah Kota Palangka Raya hadir memberikan bantuan dan dukungan moril kepada keduanya. Uang dari gubernur akan ia gunakan membeli beberapa bahan bangunan dan membuka warung di rumahnya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada gubenur dan pemko yang telah membantu,”pungkasnya.(ram)

Loading...

You Might Also Like